Yuni datang ke Puskesmas Mraggen membawa buku itu dengan kedua tangan, seperti membawa sesuatu yang bisa pecah. Sampulnya karton cokelat yang sudah melunak di sudut-sudutnya, diikat karet gelang dua lapis supaya lembar-lembarnya tidak berhamburan. Di halaman depan, dengan tulisan sambung yang agak miring ke kanan, tertulis: *Buku Kegiatan Posyandu Melati — Dusun Ngepoh & Karangsari*. Nama Ningsih ada di bawahnya, dan di bawah nama itu tanggal mulai, delapan tahun lalu.
"Saya temukan di lemari kayu, Bu," kata Yuni. Suaranya pelan, seperti takut membangunkan sesuatu. "Bu Ningsih selalu bawa itu ke mana-mana. Timbang bayi, catat. Kunjungan rumah, catat juga. Bukan cuma yang resmi."
Wening menerima buku itu dengan hati-hati, merasakan beratnya yang tak sebanding dengan ukurannya. Ia membuka halaman pertama, dan tulisan tangan Ningsih menyambutnya—rapi di kolom nama dan berat badan bayi, tapi berubah jadi coretan cepat di bagian pinggir, seperti pikiran yang mengalir lebih deras daripada tangan yang menulisnya.
Hendra mendekat, menunduk di atas meja bersama Wening. Ia mengenali beberapa nama di sana—tetangga, kerabat jauh, orang-orang yang biasa ia lihat di jalan dusun tanpa pernah benar-benar tahu apa yang terjadi di dalam rumah mereka.
"Ini bukan catatan posyandu biasa," kata Wening setelah beberapa menit membalik halaman. Ia menunjuk satu baris di margin, tanggal dua bulan lalu. *Rumah Kasdi, anaknya batuk lama, ibunya juga demam tapi nggak mau ke Puskesmas, malu.* "Pak Kasdi tidak pernah kita masukkan riwayat kontak keluarga sedetail ini."
"Karena Bu Ningsih bukan cuma nimbang bayi," Yuni berkata, dan matanya berkaca-kaca meski suaranya berusaha tegar. "Dia ke rumah-rumah, tanya kabar, bawa bubur kalau ada yang sakit. Orang cerita ke dia yang nggak akan mereka cerita ke Puskesmas."
Wening membalik lagi, mencari-cari pola di antara jadwal posyandu bulanan dan catatan tak resmi yang menyelinap di sela-selanya. Ia menemukan nama Mbak Surti muncul tiga kali dalam sebulan terakhir hidup Ningsih—bukan sebagai pasien, melainkan sebagai orang yang dikunjungi. *Ke rumah Surti, bantu momong, dia cerita suaminya baru pulang dari gua, demam tinggi tiga hari.*
Tangan Wening berhenti di baris itu. Ia membaca ulang, memastikan matanya tidak menipu.
"Hendra," katanya, memanggil tanpa mengangkat kepala.
Hendra membungkuk membaca baris yang sama, dan wajahnya berubah. "Suami Mbak Surti kerja di gua? Kita nggak pernah dapat itu dari kuesioner."
"Karena waktu kita datang, keluarganya bilang dia buruh tani," kata Wening. Ia teringat rumah yang menolak membuka pintu lebar-lebar, jawaban singkat yang seperti sudah disiapkan. "Ningsih tahu lebih dulu. Dan dia menulisnya di sini, bukan di laporan resmi, karena barangkali dia sendiri tidak tahu ini penting."
Ia membuka halaman berikutnya, dan berikutnya lagi. Semakin jauh ia membaca, semakin banyak yang muncul: kunjungan ke rumah Bu Sari Darto sepekan sebelum perempuan itu jatuh sakit, dengan catatan kecil *rewel, katanya pusing terus, minum legen tiap pagi katanya biar kuat*. Nama-nama tetangga yang datang menjenguk. Anak-anak yang dititipkan sementara ibunya ke pasar hewan. Sebuah jaringan kontak yang selama ini tersembunyi di balik jawaban-jawaban singkat warga, kini terbentang di atas kertas bergaris dengan tulisan tangan seorang perempuan yang sudah tidak bisa ditanyai lagi.
Wening merasakan sesuatu yang aneh: campuran antara girang seorang peneliti menemukan data dan berat seorang manusia menyadari harga yang dibayar untuk data itu.
"Dia jadi kader posyandu paling rajin di dua dusun," kata Yuni, seperti membaca pikiran Wening. "Semua orang percaya dia. Makanya mereka cerita apa saja. Bukan buat laporan. Cuma... ngobrol."
"Justru karena bukan buat laporan, ini jujur," kata Wening pelan. Ia menutup buku itu sebentar, membiarkan tangannya diam di atas sampul lusuh itu. "Orang menjawab kuesioner kita dengan hati-hati, Yuni. Tapi mereka cerita ke Bu Ningsih apa adanya."
Hendra menarik kursi, duduk di sisi lain meja, matanya masih tertuju ke buku itu tapi pikirannya jelas melayang ke tempat lain. "Berarti selama ini kita nyari rantai penularan pakai data yang sudah disaring dua kali. Sekali sama warga yang nggak mau ngaku, sekali lagi sama... ketakutan mereka sendiri."
"Dan buku ini yang belum disaring," kata Wening.
Ia mulai menyalin nama-nama itu ke lembar kertas terpisah, satu per satu, mencocokkan tanggal kunjungan Ningsih dengan tanggal onset gejala yang sudah tercatat di papan. Beberapa titik yang selama ini berdiri sendiri di peta—rumah yang tak terhubung ke mana pun—tiba-tiba menemukan benang yang menariknya ke rumah lain, dan rumah lain lagi. Seperti melihat jaring laba-laba yang sebelumnya cuma tampak serpihan benangnya, kini bisa dilihat utuh karena ada yang menuliskan tiap simpulnya sebelum sempat putus.
Di ujung meja, Yuni memperhatikan tangan Wening bergerak dari satu nama ke nama lain, membangun garis yang tak pernah dilihatnya sebelum ini terjalin serapi itu.
"Bu Ningsih pasti seneng," katanya, hampir berbisik, "kalau tahu catatannya masih guna."
Wening mendongak, dan untuk sesaat ia tidak tahu harus menjawab apa. Ia hanya mengangguk, lalu menulis satu nama lagi di kertasnya—nama yang belum pernah muncul di peta manapun, tapi kini berdiri di sana, ditautkan oleh tulisan tangan seorang kader posyandu yang sudah tidak sempat melihat ke mana semua itu akan bermuara.