Kertas-kertas daftar hadir kenduri itu tergeletak di meja Puskesmas Mraggen seperti tumpukan dosa yang belum diakui. Wening menghitungnya dua kali sebelum yakin: tujuh puluh tiga nama, ditulis tangan oleh keluarga yang berduka, sebagian hanya nama depan, sebagian lagi cuma sebutan seperti "Bu RT" atau "adiknya Kang Marto". Ia meletakkan pena di sisi kertas dan menatap peta di dinding, tempat titik-titik merah selama ini masih rapat berkerumun di sekitar Ngepoh dan Karangsari, seolah wabah punya sopan-santun untuk tidak melangkahi batas dusun.
Itu sebelum ia mulai mencoret nama-nama tamu satu per satu.
Hendra duduk di seberangnya, memegang telepon genggam murah dengan layar retak, menghubungi nomor demi nomor yang sebagian besar dijawab dengan curiga. "Bu, ini dari Puskesmas, mau tanya soal kenduri di rumah almarhum Pak Kasdi minggu lalu—" lalu jeda panjang, lalu, "Bukan, Bu, bukan mau nyalahin. Cuma mau tahu siapa saja yang datang, biar bisa dijaga yang lain."
Wening mendengarkan nada suara Hendra berubah-ubah: kadang sabar, kadang menahan getir. Sejak adiknya di Karangsari demam, cara bicaranya soal orang sakit sudah lain—lebih hati-hati, seolah setiap nama yang ia coret di kertas bisa jadi nama keluarganya sendiri. Wening pernah menegurnya soal itu, tentang menjaga jarak profesional. Sekarang ia diam saja. Ada jenis kehati-hatian yang justru membuat data lebih jujur.
Yuni datang membawa map plastik bening berisi salinan catatan Ningsih, kertas-kertas lusuh yang mendadak jadi harta karun sejak ia menemukannya di lemari posyandu. "Bu Wening, coba dicocokkan ini. Bu Ningsih catat siapa saja yang pernah ikut tahlilan, tujuh hari, empat puluh hari—dari tahun kemarin. Ada nama-nama yang sama."
Mereka menyusun tiga daftar berdampingan: daftar hadir kenduri Pak Kasdi, catatan lama Ningsih, dan daftar kasus yang sudah dikonfirmasi Dokter Bagas. Ketika Wening menggarisbawahi nama yang muncul di dua daftar sekaligus, ia merasa tengkuknya dingin. Bukan karena jumlahnya banyak—memang ia sudah menduga akan banyak—tetapi karena pola alamatnya mulai melebar seperti tinta jatuh ke air.
"Ini," katanya, menunjuk sebuah nama, "Karsih, alamatnya bukan Ngepoh. Bukan Karangsari juga."
Hendra menyipitkan mata membaca tulisan tangannya sendiri di catatan telepon. "Itu bibi dari almarhum, Bu. Datang dari Kedungwaru. Beda kecamatan."
"Kedungwaru itu masuk kabupaten sebelah?"
"Masih satu kabupaten, tapi kecamatannya lain. Naik bus dua jam."
Wening mengambil pulpen merah dan berdiri di depan peta dinding. Untuk pertama kalinya sejak ia menggambar batas kecamatan Mraggen dengan spidol hitam tebal, ia harus menambah kertas baru di luar garis itu—selembar kertas kosong yang ditempel menyambung, karena peta lama tak lagi cukup menampung dunia yang tiba-tiba melebar.
Ia menandai Kedungwaru dengan titik pertama. Lalu, ketika Hendra membacakan nama demi nama yang berhasil dihubungi hari itu, titik-titik lain menyusul: seorang menantu dari kecamatan lain yang datang membawa anak balitanya, dua pedagang yang kebetulan mampir dari perjalanan pasar, satu rombongan pelayat dari desa di ujung kabupaten yang naik colt bak terbuka bersama-sama, berdesakan sepanjang jalan berlubang, lalu makan bersama di bawah tenda yang sama, di piring yang sama, di udara yang sama.
"Berapa banyak dari luar?" tanya Yuni pelan, seolah takut jawabannya.
Wening menghitung dari kertas yang sudah mereka silangkan. "Sejauh ini sembilan belas orang. Dari lima kecamatan berbeda." Ia mendengar suaranya sendiri terdengar datar, padahal dadanya berdegup seperti baru berlari.
Parmin muncul di ambang pintu, baju basah keringat setelah seharian mengantar Hendra berkeliling menyusuri rumah-rumah yang namanya muncul di daftar. Ia melepas topi, menyekanya di lengan baju. "Bu Dokter, tadi saya ketemu adiknya Bu Karsih di terminal, mau numpang tanya alamat lengkap. Katanya ada lagi rombongan dari Kedungwaru yang datang naik bus sama, tapi enggak masuk daftar karena cuma numpang lewat, enggak ikut makan."
"Berapa orang itu?"
"Katanya sekitar belasan. Bu Karsih enggak hafal semua nama."
Wening menatap kertas kosong di tangannya, kertas yang tadinya ia kira cukup untuk mencatat sisa hari itu. Belasan nama yang tak terdaftar berarti belasan kemungkinan yang tak bisa ia lacak, belasan pintu yang mungkin sudah tertutup sebelum ia sempat mengetuk. Ia menuliskan angka itu di sudut peta dengan tanda tanya besar, karena tak jujur rasanya menulis angka pasti untuk sesuatu yang masih berupa dugaan.
Ia mundur beberapa langkah, memandangi keseluruhan dinding. Titik merah yang dulu rapi berkerumun di dua dusun kini menjalar seperti percikan darah yang jatuh dari ketinggian—inti masih pekat di Ngepoh dan Karangsari, tetapi tetesan-tetesannya sudah menyentuh kertas sambungan, menyentuh nama-nama kecamatan yang bahkan belum pernah ia kunjungi.
"Kalau ini benar," katanya lebih kepada dirinya sendiri daripada kepada Hendra atau Yuni, "kita bukan cuma menangani wabah di Mraggen lagi."
Hendra meletakkan teleponnya, menatap peta yang sama. "Berarti kabupaten sebelah juga harus tahu."
"Berarti provinsi juga harus tahu," sahut Wening. Ia memikirkan laporan yang selama ini masih ia simpan rapi di map miliknya sendiri, laporan yang oleh Camat Sudrajat diharapkan tetap tenang, tetap kecil, tetap urusan satu kecamatan yang bisa diselesaikan diam-diam sebelum musim Pekan Raya tiba. Sembilan belas nama dari lima kecamatan berbeda bukan lagi angka yang bisa disimpan dalam laci mana pun.
Yuni memandanginya, seakan menunggu perintah. "Terus, Bu, sekarang gimana?"
Wening tidak menjawab segera. Ia menghitung ulang titik-titik di kertas sambungan, memastikan tangannya tidak salah menandai satu pun, sebelum akhirnya berkata, suaranya pelan tapi mantap, "Sekarang kita telepon dinas kesehatan kabupaten. Malam ini juga."