Kabar itu sampai ke Wening bukan lewat kuesioner, melainkan lewat Hendra yang berdiri di pintu mobil dengan wajah pucat, memegang ponsel yang masih berdenting.
"Bu Wening harus dengar ini," katanya, lalu memutar sebuah pesan suara. Suara perempuan, agak serak, berbicara cepat dalam bahasa Jawa kental—tentang air PDAM yang katanya sudah "kena racun dari pabrik", tentang seseorang di Karangsari yang "kena santet karena berani buka rahasia orang", tentang petugas dari kota yang "sengaja nyebar penyakit biar proyek rumah sakit baru cair". Pesan itu berakhir dengan seruan supaya warga tidak menerima siapa pun yang mengaku dari puskesmas, kecuali yang sudah dikenal.
Wening mendengarkan sampai habis, lalu meminta Hendra memutarnya sekali lagi. "Ini disebar dari grup apa?"
"Grup arisan RT. Tapi sekarang sudah masuk lima grup lain. Ibu saya juga dapat." Hendra memasukkan ponsel ke saku, seperti ingin menyingkirkannya dari pandangan. "Katanya sudah dibagikan lebih dari seratus kali sejak semalam."
Seratus kali. Kurva kasus yang mereka susun susah payah—empat titik jadi dua belas, dua belas jadi entah berapa puluh—butuh sepuluh hari untuk bergerak sejauh itu. Kabar ini butuh satu malam.
Mereka menuju balai dusun Ngepoh, tempat menurut Parmin sedang berkumpul beberapa kepala keluarga. Suasana di sana tidak seperti pertemuan biasa. Orang-orang berdiri berkelompok-kelompok, bukan duduk melingkar, dan suara yang keluar bukan obrolan melainkan interupsi bersahutan. Wening menangkap satu nama disebut berulang—keluarga yang dulu menolak membuka pintu, yang anggotanya sempat disembunyikan karena sakit.
"Dari rumah itu asalnya!" seorang laki-laki setengah baya menuding ke arah rumah berpagar bambu di ujung gang. "Sudah sembunyi-sembunyi, sekarang nular ke mana-mana!"
"Itu belum tentu—" seorang perempuan mencoba menengahi, tapi suaranya kalah oleh yang lain.
"Anak saya sudah dua hari demam. Siapa yang tanggung jawab?"
Wening melangkah masuk, dan untuk sesaat semua mata berpindah ke arahnya—bukan dengan harapan seperti biasanya, tapi dengan kecurigaan yang baru. Seseorang di belakang bergumam, cukup keras untuk terdengar, "Itu dia yang dari kota. Katanya bawa penyakit sendiri."
Ia tidak membantah. Ia tahu, membantah rumor dengan berteriak lebih keras hanya membuatnya kelihatan seperti sedang menyembunyikan sesuatu. Yang ia lakukan adalah berdiri di tengah, membuka map yang ia bawa, dan berkata pelan bahwa penyakit ini punya pola yang bisa dijelaskan—bukan kutukan, bukan racun pabrik, bukan sesuatu yang datang dari satu rumah saja.
"Kalau memang bisa dijelaskan," sahut laki-laki tadi, "kenapa dari kemarin belum ada yang bilang apa itu penyakitnya? Kenapa cuma bilang 'masih diperiksa, masih diperiksa'?"
Pertanyaan itu menohok, karena benar. Selama sepuluh hari mereka memang belum bisa menyebut nama penyakit itu ke warga, karena memang belum ada nama—dan kekosongan itu, yang bagi Wening berarti kehati-hatian ilmiah, bagi warga berarti sesuatu yang layak dicurigai.
Ia baru akan menjawab ketika suara lain menyela, lebih tenang, dari arah pintu.
"Yang diperiksa itu darahnya, Pak Marno. Bukan orangnya yang disalahkan." Seorang perempuan muda, mungkin dua puluh tahunan, melangkah masuk dengan buku tulis bersampul plastik dijepit di ketiak. Wening belum pernah melihatnya, tapi caranya berjalan—lurus, tanpa ragu, menyapa beberapa orang dengan nama sebelum bicara ke arah kerumunan—menunjukkan ia bukan orang asing di dusun itu.
"Ini Yuni," Hendra berbisik. "Dulu bantu-bantu Bu Ningsih di posyandu."
Nama itu membuat sebagian orang di balai terdiam. Ningsih baru dua pekan dimakamkan, salah satu dari empat nama pertama yang ditulis Wening di papan.
Yuni berdiri di sebelah Wening, membuka buku itu, memperlihatkan halaman-halaman bertulisan tangan rapi—jadwal posyandu, nama balita, catatan kunjungan rumah. "Bu Ningsih dulu selalu bilang, kalau ada yang sakit, jangan langsung cari siapa yang salah. Cari dulu siapa lagi yang mungkin ketularan, biar cepat ketahuan, biar cepat diobati." Ia menoleh ke arah rumah berpagar bambu. "Keluarga Pak Kasdi itu bukan sumbernya. Bu Ningsih sendiri yang dulu pertama nyariin obat buat mereka, sebelum Bu Ningsih sendiri sakit."
Balai itu tidak langsung tenang—beberapa orang masih bersungut, seseorang masih menyebut soal santet—tapi tudingan yang tadi mengarah lurus ke satu rumah kini terpecah, kehilangan sasaran tunggalnya. Itu bukan kemenangan. Wening tahu betul rumor tentang racun pabrik dan kutukan itu akan tetap beredar malam ini di grup-grup yang tidak bisa ia masuki, akan dibagikan ulang oleh orang-orang yang tidak pernah bertemu dengannya. Tapi untuk pertama kalinya sejak turun dari mobil, ia merasa ada satu suara di ruangan itu yang berbicara dari dalam, bukan dari luar.
Sepulang dari balai, Yuni menghampirinya di dekat mobil, agak canggung, seperti sudah menyiapkan kalimat ini sejak lama.
"Bu Wening. Saya mau bantu. Bukan cuma hari ini." Ia mendekap buku catatan itu erat. "Bu Ningsih sudah nggak ada. Tapi catatannya masih ada. Saya yang pegang sekarang."
Wening menatap buku itu, lalu wajah muda di depannya. Ia teringat papan di dinding Puskesmas Mraggen, empat nama yang jadi jangkar peta, dan bagaimana satu per satu dari mereka kini berhenti bicara selamanya sementara kabar tentang mereka terus berjalan, berubah bentuk, berkembang biak sendiri tanpa perlu izin siapa pun.
"Kenapa mau bantu?" tanyanya, bukan untuk menolak, tapi untuk tahu berapa jauh keberanian ini akan bertahan ketika tekanan datang lebih keras.
"Karena kalau bukan orang sini yang bicara," jawab Yuni, "yang didengar cuma suara yang paling keras. Dan yang paling keras itu belum tentu yang benar."
Wening tidak langsung menjawab. Ia membuka pintu mobil, meletakkan map di kursi, lalu menoleh sekali lagi ke arah balai dusun yang masih berdengung samar di belakangnya—kabar yang sudah berangkat lebih dulu, sudah sampai lebih jauh, sudah lebih dipercaya daripada apa pun yang bisa ia tulis di atas kertas.
"Besok pagi," katanya akhirnya, "ikut saya keliling. Kita mulai dari rumah yang paling banyak diomongkan."