Wening tiba di Puskesmas Mraggen sebelum subuh, ketika kabut masih menggantung rendah di atas sawah dan lampu neon di ruang tunggu belum juga dipadamkan sejak malam. Ia membawa gulungan kertas manila, spidol tiga warna, dan kotak kecil berisi jarum pentul yang dibelinya di toko kelontong Bu Yem — satu-satunya toko di kecamatan yang menjual benda seperti itu, dan pemiliknya sempat bertanya apa yang mau ia buat, karantina apa, sampai Wening hanya menjawab, "Peta, Bu. Buat kerja."
Dinding di ruang belakang Puskesmas, yang biasanya dipakai menempel poster imunisasi dan jadwal posyandu yang sudah pudar temboknya, ia kosongkan sendiri. Dokter Bagas menawarkan bantuan melepas paku-paku lama, tapi lebih banyak berdiri menonton dengan tangan bersedekap, seakan menunggu Wening berubah pikiran.
"Kau benar-benar mau menempel semuanya di sini," kata Bagas. Bukan pertanyaan.
"Supaya tidak ada yang tersembunyi di laci lagi," jawab Wening, sambil merentangkan peta kecamatan yang ia gambar ulang tangan — garis jalan, dusun Ngepoh di satu sisi, Karangsari di sisi lain, mata air yang dulu jadi hipotesis pertama, pasar hewan Mraggen di tengah seperti jantung yang berdenyut, dan mulut gua yang ia tandai dengan simbol segitiga kecil di kaki bukit selatan.
Hendra datang membawa map kuesioner setebal dua jari, hasil kunjungan rumah ke rumah selama tiga minggu terakhir. Ia menaruhnya di meja dengan hati-hati, seperti orang menaruh sesuatu yang bisa meledak kalau dibanting.
"Empat puluh tujuh formulir," katanya. "Yang mau diisi jujur, dua puluh sembilan."
"Itu sudah lebih baik dari minggu lalu."
"Karena mereka sudah lihat ambulans dua kali dalam sepekan, Bu Wening. Bukan karena percaya sama kita."
Wening tidak membantah. Ia justru mencatatnya di sudut kertas — kepercayaan warga, variabel yang tak bisa diukur tapi menentukan seberapa jujur angka yang ia pegang. Kemudian ia mulai bekerja, satu formulir satu waktu, mencari tiga hal dari tiap lembar: nama, tanggal mulai demam, dan alamat rumah yang paling dekat dengan kebenaran — bukan alamat KTP, tapi tempat orang itu benar-benar tidur, mandi, minum, bekerja.
Pentul pertama ia tancapkan di titik rumah Bu Sari Darto, di ujung dusun Ngepoh dekat mata air. Lalu Mbak Surti, dua ratus meter dari situ. Pak Kasdi, agak jauh di seberang jalan, tapi rutin lewat jalur yang sama tiap pagi menuju pasar. Ningsih, kader posyandu yang justru mengumpulkan data orang lain sebelum tubuhnya sendiri roboh — pentulnya ia tancapkan paling akhir, dan tangannya berhenti sebentar sebelum menekan jarum itu ke dinding, seolah menunda satu detik penghormatan.
Empat pentul pertama itu ia ikat dengan benang merah tipis, mengikuti kanon yang sudah ia bangun sejak kuesioner pertama: mereka adalah jangkar peta ini, titik nol dari mana semua garis lain ditarik.
Sepanjang pagi, satu per satu pentul baru bertambah. Bukan lagi empat, tapi lima belas, lalu dua puluh dua. Wening menulis tanggal onset gejala di kertas kecil di samping tiap pentul, rapi seperti label harga di toko, dan setiap kali ia menambah satu titik, ia mundur selangkah, menatap dinding itu seperti orang menatap langit mencari rasi bintang yang belum sepenuhnya terbentuk.
Parmin masuk membawa termos kopi dan berdiri di ambang pintu, tidak berani menginjak ruangan yang sudah berubah jadi semacam altar kerja. "Ini kayak film-film itu, ya, Bu. Yang detektif nempel foto terus ditarik-tarik benang."
"Bedanya di sini yang kita cari bukan pembunuh satu orang," kata Wening, tanpa menoleh. "Yang kita cari jalan yang dilewati sesuatu yang tidak kelihatan."
Ia menandai dua kelompok warna berbeda setelah makan siang terlewat begitu saja. Spidol biru untuk rumah-rumah yang dekat dengan mata air dan sumur — meski sampel air sudah kembali negatif beberapa minggu lalu, ia belum berani mencoretnya habis, hanya melunakkan garisnya jadi putus-putus, tanda hipotesis yang terluka tapi belum benar-benar mati. Spidol merah untuk rumah-rumah penderes legen, mengikuti jalur pohon aren dari kaki bukit menurun ke pemukiman, jalur yang pertama kali disebut Parmin tanpa sadar penting saat mereka duduk di warung beberapa waktu lalu.
Ketika ia menarik garis merah itu memanjang, tangannya berhenti di tengah jalan. Garis itu tidak berhenti di pemukiman. Ia terus naik, mengikuti jalur para penderes yang biasa memanjat pohon-pohon tinggi sebelum subuh, sampai ke kaki bukit, sampai ke mulut gua yang ia tandai segitiga kecil dua minggu lalu saat pertama kali mendengar kabar pekerja sarang walet demam.
Hendra berdiri di sampingnya, diam cukup lama. "Itu... jalur yang sama, Bu."
"Bukan cuma dekat," kata Wening pelan, hampir pada dirinya sendiri. "Menyatu."
Bagas akhirnya melangkah masuk, mendekat ke dinding, memandangi kerumunan pentul dan benang seperti orang membaca peta perang yang tak ia mengerti bahasanya tapi mulai mengenali bentuknya. Dua gugusan titik, satu di sepanjang jalur air yang melemah, satu lagi mengeras di sepanjang jalur legen dan gua, saling tumpang tindih di beberapa rumah yang ternyata dekat dengan keduanya sekaligus.
"Ini bukan kebetulan lagi," kata Bagas, suaranya kehilangan nada menantang yang biasa ia pakai.
"Belum tentu juga bukan kebetulan," jawab Wening, karena ia tahu benar godaan melihat pola di tempat yang sebenarnya kosong. Tapi ketika ia mundur tiga langkah, menatap seluruh dinding sekaligus — empat jangkar lama, dua puluh dua titik baru, dua warna yang saling mendekat seperti dua sungai yang lambat laun bertemu di satu delta — ia tidak bisa lagi menyebutnya kecurigaan.
Untuk pertama kalinya sejak ia turun dari mobil dinas ke Mraggen, apa yang ada di kepalanya kini punya bentuk yang bisa dilihat orang lain, bisa ditunjuk dengan jari, bisa dibantah atau dibenarkan bukan dengan kata-kata tapi dengan menatap dinding itu sendiri. Peta itu belum menjawab dari mana penyakit ini datang. Tapi ia sudah berhenti menjadi firasat, dan mulai menjadi peta — sesuatu yang bisa dibawa ke rapat, ditunjukkan ke pejabat, dipakai untuk berjalan ke arah yang benar sebelum lebih banyak pentul harus ditancapkan.
Ia menutup spidol, menaruhnya di ambang jendela, dan untuk beberapa saat tidak ada yang bicara di ruangan itu — hanya suara kipas angin tua berputar, dan benang merah yang sedikit bergetar setiap kali angin masuk lewat celah pintu, seolah dinding itu sendiri sedang bernapas.