Telepon itu berdering pukul sebelas malam, jauh setelah Puskesmas Mraggen menggelap dan hanya lampu ruang kartu yang masih menyala. Wening Pradipta sedang berdiri di depan peta di dinding, spidol merah setengah kering di tangan, ketika layar ponselnya bercahaya di atas meja. Nama dr. Larasati. Ia menatapnya satu detik lebih lama daripada seharusnya, seakan menunda kabar akan menunda maknanya, lalu mengangkat.
"Wening." Suara di seberang tidak menyapa dengan basa-basi. Ada napas yang tertahan di balik kata itu, seperti orang yang sudah terlalu lama menahan sesuatu dan baru menemukan tempat untuk meletakkannya. "Aku sudah dapat hasilnya. Yang dari kotak pendingin kemarin."
"Bagaimana?" Wening menekan telepon lebih rapat ke telinga. Di luar, angin menggeser dahan, dan seekor tokek berbunyi tiga kali di langit-langit.
"Bukan dengue. Bukan lepto. Bukan yang kami duga di daftar pertama." Larasati berhenti. Wening mendengar gemerisik kertas, denting sesuatu di laboratorium yang masih terjaga di ibu kota provinsi. "PCR untuk semua panel rutin negatif. Tapi kami menemukan partikel yang tidak cocok dengan apa pun di pustaka kami. Sekuensnya baru, Wening. Belum terklasifikasi."
Wening merasakan lantai seakan sedikit miring. Ia meletakkan spidol di meja, pelan, seolah gerak kasar sekalipun bisa menumpahkan sesuatu.
"Ceritakan yang kaulihat," katanya, dan ia sadar suaranya sudah berpindah ke nada lain — nada yang ia pakai ketika ia tidak lagi ingin ditenangkan, hanya ingin tahu.
"Empat sampel," Larasati mulai, dan Wening bisa membayangkan perempuan itu membaca dari catatannya sendiri, membenahi kacamata. "Trombosit anjlok, tanda perdarahan di jaringan. Tapi yang membuatku tidak tidur bukan itu. Ada kerusakan hati dan ginjal yang cepat sekali. Terlalu cepat. Pada tiga sampel, enzim hati melonjak dalam hitungan hari, bukan minggu. Ini bukan demam yang melelahkan tubuh pelan-pelan. Ini demam yang menyerbu organ."
"Demam berdarah dengan gagal organ cepat," Wening mengulang, setengah untuk dirinya sendiri, dan tangannya bergerak sendiri mencari kertas kosong. Ia menulis kalimat itu dengan huruf yang lebih kaku dari biasanya. Menuliskannya membuatnya nyata.
"Kami cocokkan dengan basis data internasional lewat jaringan yang ada. Ada kemiripan jauh dengan kelompok virus tertentu, tapi tidak ada yang persis. Tidak ada nama untuknya, Wening. Tidak ada kode. Tidak ada garis di buku teks yang bisa kutunjuk dan kubilang, ini dia." Larasati menghela napas. "Aku sudah dua puluh tahun di lab. Aku belum pernah menulis laporan yang harus kutinggalkan kolom diagnosisnya kosong."
Ruang kartu terasa mengecil. Wening menoleh ke peta di dinding — titik-titik kecil yang telah ia tanam sejak minggu pertama, Bu Sari Darto, Mbak Surti, Pak Kasdi, Ningsih, dan kini belasan lagi yang menyusul — dan untuk sesaat titik-titik itu tampak berbeda. Bukan lagi sekadar penanda pertanyaan yang belum terjawab. Titik-titik itu adalah orang yang sakit oleh sesuatu yang bahkan belum punya nama.
"Penyakit tanpa nama," ucap Wening lirih. Frasa yang dipakai warga sejak awal, yang ia kira hanya kiasan orang kampung yang tak paham istilah medis. Ternyata mereka benar. Mereka telah menamai kekosongan itu dengan tepat, jauh sebelum laboratorium mengonfirmasinya.
"Apa katamu?" tanya Larasati.
"Tidak apa-apa." Wening menutup mata sebentar. Ketakutan datang lebih dulu, ia mengakuinya jujur pada diri sendiri — ketakutan yang dingin dan sederhana, jenis yang membuat seseorang ingin memundurkan kursi dan pura-pura tidak mendengar. Sebuah virus baru. Di dusun tempat orang menderes legen di bawah pohon, tempat sumur dipakai bersama, tempat kenduri mengumpulkan ratusan tubuh dalam satu tenda. Ia membayangkan sekuens itu, tak terlihat, sudah berbulan-bulan mengalir di sela-sela kehidupan yang berjalan seperti biasa.
Tapi ketakutan itu, ia perhatikan, tidak bertahan lama sendirian. Ada sesuatu yang tumbuh menggantikannya, lebih berat, lebih menuntut. Kalau ini virus yang tak dikenal siapa pun, maka tak ada seorang pun di dunia yang lebih tahu tentangnya selain mereka yang berdiri di depan peta ini. Tak ada ahli yang bisa dipanggil untuk mengambil alih beban. Beban itu sudah ada di tangannya, di ruang kartu Puskesmas Mraggen, pada pukul sebelas malam.
"Wening, kau masih di sana?"
"Masih." Ia membuka mata. "Larasati, aku perlu semuanya tertulis. Yang tidak kaupastikan, tulis juga sebagai belum pasti. Jangan bulatkan. Jangan haluskan satu kalimat pun. Aku butuh laporan yang jujur, sekalipun jujurnya berarti kita mengaku belum tahu."
"Itu justru yang akan kutulis." Ada nada lega yang tipis di suara virolog itu, seperti orang yang takut diminta berbohong lalu mendapati ia tidak akan. "Tapi Wening, kau harus paham konsekuensinya. Begitu ini resmi jadi patogen baru, ini bukan lagi urusan puskesmas kecamatan. Provinsi akan gugup. Pusat akan gugup. Dan orang yang gugup cenderung ingin menutupi, bukan membuka."
Wening mengangguk pada ruang kosong. Ia sudah merasakan tangan-tangan itu, tekanan yang datang sebelum bukti bahkan lengkap. Ia tahu Camat Sudrajat akan menyebut kata ekonomi. Ia tahu akan ada yang meminta angka diperlunak.
"Kalau begitu kita harus lebih cepat dari kegugupan mereka," katanya. Ia meraih spidol lagi, kali ini biru, dan di sudut peta ia menulis satu baris di kolom yang selama ini ia biarkan kosong: agen — virus baru, belum bernama. Huruf-huruf itu terasa berat di ujung spidol, tetapi juga membebaskan, seperti mengakui nama sesuatu yang selama ini hanya berbisik di kegelapan.
"Aku kirim laporan pendahuluan besok pagi," ujar Larasati. "Dan Wening — hati-hati. Sesuatu yang belum punya nama tidak berarti belum berbahaya. Justru sebaliknya."
"Aku tahu." Wening menatap peta lebih lama setelah sambungan terputus. Ketakutan tadi belum sepenuhnya pergi; ia tidak berpura-pura ia pergi. Tetapi kini ketakutan itu punya bentuk, dan yang berbentuk bisa dipetakan, bisa dilacak, bisa diputus. Ia berdiri sendirian di ruang yang menggelap, di depan dinding penuh titik yang akhirnya ia mengerti sebagai apa — bukan misteri, melainkan tanggung jawab. Di luar, malam Mraggen berjalan seperti biasa, tak tahu bahwa sesuatu yang telah lama menghantuinya baru saja, untuk pertama kalinya, hampir tertangkap.