Wening menghitung es batu itu seperti menghitung napas.
Dua puluh empat kantong es curah, dibungkus kain lap agar tak langsung menempel pada tabung, disusun melingkar dalam kotak sterofoam putih yang sudah menguning di pinggirnya karena terlalu sering dipakai. Ini kotak pendingin terakhir yang tersisa di gudang Puskesmas Mraggen—satu lagi sudah retak sejak tahun lalu dan tak pernah diganti karena anggaran tak pernah turun tepat waktu.
"Empat sampel," ia bergumam, memeriksa label yang ditulisnya sendiri dengan spidol permanen. Bu Sari Darto. Mbak Surti. Pak Kasdi. Ningsih. Empat nama yang sudah dua minggu ini menempel di papan tulis ruang tunggu, kini menempel juga di tabung-tabung kecil berisi darah yang diambil sebelum jenazah mereka dikuburkan—diambil diam-diam, dengan izin yang diperoleh susah payah dari keluarga yang masih menyimpan curiga kenapa dokter dari kota mau darah orang yang sudah tak bisa disembuhkan lagi.
Dokter Bagas berdiri di ambang pintu, mengawasi tanpa banyak bicara. "Rantai dingin itu jangan sampai putus," katanya. "Kalau suhu naik di tengah jalan, semua sampel ini cuma jadi darah busuk. Empat bulan kerja bisa hilang dalam empat jam."
"Saya tahu." Wening menutup kotak, mengunci klip di keempat sisinya, lalu menempelkan termometer tempel di bagian luar—alat sederhana yang akan berubah warna kalau suhu di dalam melewati ambang aman. Sesudah itu ia menuliskan waktu berangkat di lembar pengiriman: 06.40, dengan tinta yang sedikit luntur karena tangannya berkeringat.
Parmin sudah menghidupkan mesin mobil dinas sejak subuh, memastikan radiator penuh dan ban belakang kanan—yang sejak minggu lalu agak kempis sendiri—dipompa ulang. "Jalan ke provinsi lagi jelek, Bu Dokter," katanya sambil memuat kotak ke jok belakang, diikat dengan tali rafia ke sandaran kursi supaya tak terguncang. "Ada longsor kecil di tikungan Klewo. Sudah tiga hari belum dibersihkan."
"Berapa lama tambahannya?"
"Bisa dua jam. Kalau hujan turun lagi, bisa tambah lagi."
Wening menatap termometer tempel itu sekali lagi sebelum pintu ditutup. Delapan jam perjalanan normal, ditambah kemungkinan longsor, ditambah risiko hujan yang sejak semalam menggantung di langit sebelah barat seperti ancaman yang belum jatuh. Es di dalam kotak punya usia. Ia tidak tahu persis berapa lama, karena tak ada yang pernah mengujinya di kondisi seperti ini—jalan berlubang, tikungan tajam, matahari kecamatan yang menyengat begitu jam sepuluh.
Ia naik ke kursi depan, memangku tas berisi termos kecil berisi es cadangan, dan menoleh ke Hendra yang berdiri di teras Puskesmas. "Jaga papan itu," katanya. "Jangan biarkan siapa pun menghapusnya sebelum aku kembali."
Hendra mengangguk pendek. Wajahnya masih lelah—adiknya di Karangsari belum juga turun demamnya, dan Wening tahu pikiran Hendra sebenarnya sedang terbelah antara dua rumah: rumah keluarganya dan Puskesmas ini. Tapi ia tak bertanya lebih jauh. Ada batas antara peduli dan mengorek, dan Wening belum yakin di mana batas itu berlaku untuk Hendra.
Mobil bergerak meninggalkan halaman Puskesmas ketika jam masih menunjukkan pukul tujuh kurang.
Di tikungan Klewo, seperti kata Parmin, tanah longsor menutup separuh badan jalan—gundukan merah bercampur akar pohon yang tercabut, dengan dua alat berat bekerja lamban memindahkannya ke pinggir. Antrean kendaraan sudah mengular sejak subuh. Wening memandangi jam di pergelangan tangannya, lalu memandangi kotak sterofoam di jok belakang, seolah bisa memperlambat waktu dengan menatapnya cukup lama.
"Setengah jam lagi kira-kira," kata Parmin, menaksir dari jumlah truk di depan mereka.
Wening mengeluarkan ponsel, mencari nomor yang diberikan Dokter Bagas semalam—nomor lab provinsi, digantung tangan seorang virolog bernama Larasati yang menurut Bagas "satu-satunya orang di sana yang mau angkat telepon di luar jam kerja."
Sambungan tersendat dua kali sebelum akhirnya terhubung.
"Laras," suara di seberang menjawab, singkat, tanpa basa-basi memperkenalkan diri lebih jauh, seolah nama itu sudah cukup untuk siapa pun yang tahu harus menghubunginya.
"Saya Wening Pradipta, dari surveilans Mraggen. Dokter Bagas yang memberi nomor ini."
"Oh—soal demam berdarah yang belum jelas jenisnya itu?" Suaranya cepat, tak berbasa-basi, tapi tidak dingin. "Aku sudah dengar sedikit dari grup provinsi. Kalian kirim sampel hari ini?"
"Sedang dalam perjalanan. Empat kasus meninggal, semua sudah diambil darahnya sebelum dikubur. Tapi kami terjebak longsor di Klewo, dan rantai dinginnya cuma bisa bertahan—" Wening berhenti sejenak, menghitung ulang, "—mungkin sepuluh, dua belas jam lagi kalau beruntung."
Ada jeda di ujung telepon, seperti Larasati sedang menulis sesuatu. "Kalau sampai lewat dua belas jam dan hasilnya rusak, jangan buang. Kirim tetap—kadang materi genetik masih bisa dibaca meski selnya sudah pecah. Tapi usahakan sampai sebelum itu." Ia menghela napas. "Gejalanya bagaimana? Selain demam berdarah?"
"Gagal organ cepat. Dalam hitungan hari, bukan minggu. Dan tak ada satu pun yang cocok dengan pola dengue biasa yang saya kenal."
"Itu yang bikin aku penasaran sejak semalam." Suara Larasati merendah, lebih serius. "Kalau memang bukan pola yang biasa, kita mungkin sedang melihat sesuatu yang belum ada namanya di buku manapun. Aku akan siapkan reagen ekstra begitu sampel kalian tiba—dan aku akan tunggu di lab, seberapa pun malam kalian sampai."
Wening menutup mata sebentar, merasakan sesuatu yang jarang ia rasakan sejak tiba di Mraggen: bukan harapan penuh, tapi setidaknya seseorang di ujung jalan yang mendengarkan tanpa meminta ia melunakkan apa pun.
"Terima kasih," katanya.
"Jangan berterima kasih dulu," jawab Larasati. "Berterima kasihlah kalau sampel itu sampai dalam kondisi baik, dan kalau hasilnya memberi kalian jawaban yang bisa dipakai. Sekarang cepat—jalan itu tidak akan membuka sendiri."
Sambungan terputus. Di depan, alat berat akhirnya menggeser gundukan tanah terakhir, dan barisan kendaraan mulai merayap maju. Parmin memasukkan gigi, melirik kotak sterofoam di jok belakang lewat kaca spion.
"Bagaimana, Bu Dokter?"
Wening menatap jalan yang mulai terbuka di depan mereka, dan jalan lain yang masih berkabut di kejauhan, menuju kota yang belum pernah ia lihat langsung tapi kini menyimpan satu-satunya orang yang mungkin bisa membaca apa yang tersembunyi dalam empat tabung darah itu.
"Jalan saja," katanya. "Kita kejar waktunya."