Telepon genggam Hendra berdering tiga kali sebelum ia sempat mengangkatnya. Wening melihat jarinya gemetar di atas layar, sesuatu yang belum pernah ia lihat sejak hari pertama mereka bertemu di depan Puskesmas Mraggen dua minggu lalu. Hendra selalu tenang menghadapi keluarga yang menangis, warga yang berteriak, bahkan mayat yang harus didata. Tapi suara di seberang telepon membuat wajahnya berubah warna, seperti kapur yang basah.
"Sri," katanya pelan, menyebut nama ibunya sendiri tanpa sadar, lalu buru-buru berdiri. "Wulan panas tinggi. Dari semalam. Ndak turun-turun."
Wulan adalah adik perempuan Hendra, delapan belas tahun, yang menurut cerita Hendra dua hari lalu sedang sibuk membantu neneknya menjual jajanan pasar di Karangsari. Wening ingat detail itu karena ia mencatat hampir semua yang diceritakan orang-orang di sekitarnya sekarang, kebiasaan yang tak bisa lagi ia matikan.
"Aku ikut," kata Wening.
"Ndak usah, Bu Dokter." Hendra sudah meraih helmnya. "Ini urusan keluarga."
"Kalau di Karangsari, ini juga urusan kita." Wening menahan lengannya, bukan untuk mencegah, hanya untuk memastikan Hendra menoleh dan mendengar. "Kita bawa kuesioner. Kita bawa termometer cadangan. Kalau memang cuma demam biasa, syukur. Kalau tidak—"
"Ini adikku." Suara Hendra pecah di ujung kalimat. "Bukan sampel."
Parmin, yang sejak tadi berdiri di dekat mobil sambil memutar-mutar kunci kontak, tidak bicara apa-apa. Ia hanya membuka pintu mobil lebih lebar, memberi isyarat bahwa perdebatan ini sebaiknya dilanjutkan di jalan, bukan di halaman Puskesmas yang mulai ramai.
Jalan ke Karangsari menikung di antara kebun singkong yang basah, dan sepanjang jalan itu Hendra diam, kedua tangannya terkepal di atas paha. Wening membuka tas kerjanya, memeriksa ulang isi kotak sampel, kuesioner, sarung tangan lateks—gerakan yang biasa ia lakukan tanpa pikir, tapi kali ini terasa seperti sesuatu yang harus dilakukan pelan-pelan, supaya Hendra tidak melihatnya sebagai orang yang sedang menyiapkan alat bedah untuk membuka luka keluarganya sendiri.
Rumah Bu Marni—ibu Hendra—kecil, berdinding anyaman bambu yang sudah dilapis semen setengah jadi. Wulan tergolek di dipan dekat dapur, wajahnya merah padam, keringat membasahi rambut yang menempel di pelipis. Bu Marni duduk di sampingnya sambil mengipasi dengan kertas koran, matanya sembab.
"Baru semalam, Le," katanya pada Hendra, memakai panggilan lama untuk anak laki-lakinya. "Tadi sore masih bisa mbantu ngider jualan. Terus malam menggigil, katanya kepalanya kayak mau pecah."
Hendra berlutut di samping dipan, menggenggam tangan adiknya, dan untuk beberapa detik Wening membiarkan mereka berdua tanpa kata-kata, karena ada jeda yang tidak boleh diserobot oleh pekerjaan siapa pun.
Tapi jeda itu tidak bisa terlalu panjang. Wening membuka kuesioner, menuliskan tanggal, jam, suhu tubuh yang diukurnya sendiri—39,4—lalu melihat ke arah Hendra.
"Aku perlu tanya beberapa hal," katanya, suaranya dijaga serendah mungkin. "Kamu yang tanya. Suaramu yang dia kenal."
Hendra menoleh, matanya basah dan marah sekaligus. "Kamu mau interogasi dia sekarang? Lihat dia, Bu Dokter. Dia bukan Bu Sari Darto. Bukan Mbak Surti."
"Dia justru yang paling penting sekarang," Wening menjawab, tidak mengalah tapi juga tidak mengeras. "Karena kalau kita tahu dari mana dia kena, kita bisa tahu siapa lagi yang berisiko. Termasuk kamu. Termasuk ibumu."
Kalimat itu diam-diam menampar Hendra lebih keras daripada yang Wening maksudkan. Ia melihat rahang Hendra mengeras, lalu perlahan melembut, seperti sesuatu yang retak lalu disatukan kembali dengan hati-hati.
Hendra menunduk ke wajah adiknya. "Wulan," katanya pelan, memanggil-manggil sampai mata gadis itu terbuka setengah, "kamu inget ndak, dua hari kemarin ke mana aja?"
Wulan menjawab lirih, kalimat-kalimat terputus karena menggigil: ke pasar bantu simbah, mampir rumah bulik di Ngepoh sebentar, malam sebelumnya minum legen yang dititipkan tetangga karena katanya bagus buat badan capek.
Wening menuliskan setiap kata itu, tangannya bergerak cepat tapi tidak tergesa, sambil sesekali melirik Hendra yang mengulang pertanyaan dengan nada yang jauh lebih lembut daripada nada yang biasa dipakainya di rumah-rumah warga lain, tapi tetap bertanya—itu yang penting bagi Wening. Bahwa ia tetap bertanya.
"Legen dari siapa?" Wening bertanya, mencoba tidak terdengar seperti mengejar jawaban, meski jantungnya berdegup lebih cepat mendengar kata itu lagi.
"Dari Pak Slamet," jawab Bu Marni menyahut, "yang nderes di deket Ngepoh."
Wening menuliskannya di kolom kontak, lalu melingkari kata legen dengan pena, sesuatu yang mulai terlalu sering muncul di kertas-kertasnya belakangan ini untuk dianggap kebetulan.
Ketika mereka keluar untuk memberi ruang bagi Bu Marni memandikan Wulan dengan air hangat, Hendra berdiri di halaman, memandang ke arah kebun yang gelap, dan berkata tanpa menoleh, "Aku tadi mau bilang jangan ditanya. Aku tadi malu sama diriku sendiri, karena aku selalu suruh orang lain jujur, tapi aku sendiri hampir nutup-nutupi punya adikku."
"Kamu ndak nutupi," kata Wening. "Kamu cuma takut."
"Sama saja akibatnya kalau aku diam."
Wening tidak membantah itu. Ia berdiri di sisinya, membiarkan angin malam membawa bau tanah basah dan asap dapur, dan untuk pertama kalinya ia merasa kuesioner di tangannya bukan sekadar alat kerja, melainkan sesuatu yang bisa melukai orang yang membawanya sendiri.
"Data ndak akan bikin kamu berhenti sayang sama dia," katanya akhirnya. "Tapi kalau kamu berhenti mencatat karena sayang, dia yang rugi duluan."
Hendra tidak menjawab. Ia hanya mengangguk pelan, lalu berbalik masuk ke rumah, kembali duduk di samping adiknya, menggenggam tangannya seperti sebelumnya—hanya kali ini, di pangkuannya, tergeletak selembar kertas kuesioner yang belum sepenuhnya terisi.