Ruang periksa Puskesmas Mraggen sudah lewat jam kerja ketika Wening menemukan Dokter Bagas masih di sana, duduk di kursi putar dengan tumpukan rekam medis setinggi siku, lampu neon di atas kepalanya berdengung pelan seperti serangga yang tak pernah lelah.
"Empat pasien baru hari ini," kata Bagas tanpa menoleh. "Dua di antaranya demam tinggi disertai perdarahan gusi. Saya sudah minta infus dan observasi ketat. Kalau kondisinya memburuk, saya rujuk ke RSUD malam ini juga."
"Bagus," jawab Wening, meletakkan map kuesioner di meja periksa yang kosong. "Tapi saya perlu tahu satu hal dari mereka sebelum diinfus—dari mana mereka minum air tiga hari terakhir, dan apakah mereka datang ke kenduri atau pasar."
Bagas menoleh, dan dari caranya mengangkat alis, Wening tahu ini bukan pertanyaan yang ingin ia dengar. "Mereka sedang demam empat puluh derajat, Bu Wening. Saya rasa bertanya soal air minum bukan prioritas saya malam ini."
"Justru itu prioritasnya." Wening menahan suaranya tetap datar, meski sesuatu di dadanya sudah mulai tegang. "Kalau saya tidak tahu dari mana mereka tertular, empat pasien ini cuma jadi empat titik yang berdiri sendiri. Saya butuh tahu apakah mereka terhubung dengan Bu Sari Darto, dengan Mbak Surti, dengan yang lain."
"Dan saya butuh mereka tetap hidup sampai besok pagi." Bagas berdiri, menepuk-nepuk rekam medis di tangannya seolah itu benda yang bisa membela diri sendiri. "Saya dokter, Bu Wening. Saya dilatih untuk menyembuhkan orang yang ada di depan saya, bukan menghitung siapa yang mungkin akan sakit minggu depan."
"Saya juga tidak sedang menghitung kemungkinan." Wening melangkah mendekati meja, menahan diri agar tidak terdengar menyerang. "Saya sedang mencoba menghentikan rantai ini sebelum sampai ke orang kelima puluh. Dokter Bagas, tiap jam yang kita habiskan cuma mengobati yang sudah sakit, sumbernya masih ada di luar sana, terus menulari."
Bagas menghela napas, meletakkan map di meja dengan bunyi yang lebih keras daripada perlu. "Anda pikir saya tidak paham logika itu? Saya paham. Tapi coba bayangkan dari kursi saya. Ada ibu muda di ruang sebelah yang gusinya berdarah dan anaknya menangis di pangkuan neneknya. Saya tidak bisa bilang padanya, 'tunggu, saya mau tanya dulu soal sumur mana yang Anda pakai, baru saya pasang infus.'"
"Saya tidak minta Anda menunda infus." Wening menarik kursi, duduk berhadapan dengannya, mencoba menurunkan jarak yang tiba-tiba terasa seperti tembok. "Saya minta lima menit, sebelum atau sesudah, untuk kuesioner. Itu saja. Karena kalau kita cuma menyembuhkan satu per satu, kita akan terus kalah, Dokter. Wabah ini tidak menunggu kita selesai merawat satu pasien untuk mengirim yang berikutnya."
"Dan kalau kita cuma mengejar peta, tanpa benar-benar merawat yang di depan mata, kita kehilangan mereka satu-satu sementara sibuk menggambar." Suara Bagas naik sedikit, cukup untuk membuat seorang perawat di lorong menengok sebentar lalu buru-buru berlalu. "Saya sudah dua puluh tahun jadi dokter di kecamatan ini, Bu Wening. Saya kenal wajah mereka. Saya kenal keluarganya. Saya tidak bisa memperlakukan mereka seperti titik di kertas."
Kata-kata itu menohok lebih dalam daripada yang Bagas mungkin maksudkan, dan Wening merasakannya seperti sengatan kecil di balik tulang dada. Ia menatap map kuesioner di tangannya sendiri—kolom-kolom nama, umur, tanggal mulai sakit, sumber air, riwayat kontak—dan untuk sesaat ia melihatnya sebagaimana Bagas melihatnya: kertas dingin yang mereduksi manusia jadi baris data.
"Saya tidak menganggap mereka titik," katanya, lebih pelan. "Tapi kalau saya tidak memetakan mereka, saya tidak bisa bilang pada Anda dari mana pasien kelima akan datang, atau kapan pasien keenam mulai demam. Peta ini bukan pengganti perawatan. Ini supaya perawatan tidak selamanya kita lakukan sambil menutup mata pada sumbernya."
Bagas diam sejenak, matanya beralih ke jendela ruang periksa, ke arah lorong tempat suara tangis anak kecil masih terdengar samar. "Saya tidak bilang peta Anda tidak berguna," katanya akhirnya, nadanya melunak sedikit meski rahangnya masih keras. "Saya bilang saya tidak punya tenaga untuk dua-duanya sekaligus. Perawat saya cuma tiga. Saya sendiri harus bagi waktu antara ruang periksa dan menulis laporan ke kecamatan. Kalau saya suruh mereka juga bantu wawancara kuesioner, siapa yang jaga infus?"
Itu bukan penolakan filosofis lagi—itu keluhan tentang sesuatu yang lebih membumi dan lebih sulit dibantah: kekurangan orang. Wening menahan diri untuk tidak buru-buru menjawab. Ia tahu, dari getir di suara Bagas, bahwa di balik keteguhannya soal "pasien di depan mata", ada juga rasa lelah seorang dokter yang sudah terlalu lama sendirian menanggung kecamatan ini.
"Saya tidak minta perawat Anda," katanya akhirnya. "Saya dan Hendra yang akan wawancara. Saya cuma minta Anda tidak melarang saya masuk ruang pasien lima menit, dan saya minta rekam medis dibagi ke saya setiap sore, bukan seminggu sekali."
Bagas tidak langsung menjawab. Ia mengambil kembali rekam medis di mejanya, membuka satu, menatap nama di sampulnya lama-lama seolah mencari jawaban di sana. "Saya pikirkan," katanya, dan itu bukan jawaban ya, juga bukan tidak.
Wening berdiri, mengumpulkan map kuesionernya, merasakan sesuatu yang belum selesai mengganjal di antara mereka—bukan permusuhan, tapi dua cara memandang yang sama-sama benar dan sama-sama belum bisa berjalan berdampingan. Di luar, di lorong yang temaram, suara anak kecil menangis masih terdengar, dan entah kenapa, malam itu, Wening tidak bisa memutuskan mana yang lebih mendesak didengar—tangis itu, atau kurva yang sedang ia susun di kepalanya.