Langit di atas Mraggen belum sepenuhnya gelap ketika Parmin mematikan mesin mobil di ujung jalan setapak, lima puluh meter dari mulut gua. Ia tidak turun. "Dari sini saja, Bu," katanya, "kalau didekatkan lagi nanti mesinnya bikin kaget kelelawarnya."
Wening membuka pintu perlahan. Udara sore membawa bau yang sudah ia kenali sejak kemarin—amoniak tajam bercampur tanah basah, guano yang menumpuk di lantai gua selama entah berapa generasi kelelawar. Di kejauhan, rangka bambu bekas panen sarang walet berdiri seperti kerangka kapal yang ditinggalkan, menjorok ke mulut gua yang menganga hitam di dinding bukit kapur.
Hendra berjalan di sampingnya, tas berisi termometer inframerah dan buku catatan terselip di pinggang. "Ini yang terakhir kali saya ke sini waktu SD, Bu, ikut bapak nyuluh burung walet punya Haji Suparlan," katanya, suaranya lebih pelan dari biasa. "Ndak ada apa-apa waktu itu."
"Sekarang kita bukan cari sarang walet," jawab Wening. Ia menyalakan lampu kepala tapi belum mengarahkannya ke gua—ia sudah belajar dari malam-malam surveilans sebelumnya, cahaya yang salah waktu bisa mengacaukan pola yang justru mau dilihat.
Mereka duduk di atas batu, menunggu. Waktu magrib mendekat, dan seperti yang sudah diberitahukan salah satu pekerja gua yang demam kemarin—sebelum buru-buru menutup mulut karena takut ketahuan bicara pada orang dinas kesehatan—kelelawar akan keluar begitu langit berubah jingga tua.
Itu terjadi lebih cepat dari yang Wening kira.
Mula-mula hanya satu-dua bentuk kecil melesat dari kegelapan gua, meliuk seperti kertas tertiup angin. Lalu jumlahnya berlipat setiap detik, sampai yang keluar bukan lagi individu yang bisa dihitung, melainkan satu aliran hidup—ribuan sayap yang menyibak udara dengan suara berdesir halus, terus mengalir dari perut bukit seperti sungai yang dibalik ke atas. Wening berdiri tanpa sadar. Ia pernah membaca tentang koloni kelelawar gua kapur di jurnal kuliah, tapi membaca angka "populasi diperkirakan puluhan ribu ekor" sama sekali berbeda dengan berdiri di bawahnya, merasakan angin kecil dari kepakan itu menyentuh pipi.
"Astaga," gumam Hendra, mendongak. "Saya kira ini gua walet biasa."
"Dua-duanya bisa hidup bareng. Walet di mulut gua, kelelawar di lorong dalam," kata Wening, matanya mengikuti arah aliran itu membelok ke barat, melewati punggung bukit, menuju lembah tempat pohon-pohon aren berdiri berjajar—pohon yang sama yang ia lihat siang tadi, dengan pot-pot bambu penadah legen tergantung di batangnya, dibiarkan terbuka semalaman menampung tetes nira.
Ia menandai arah itu di kepala seperti menandai titik di peta.
"Kalau kelelawar itu mampir ke pohon aren buat makan nektar bunganya," katanya pelan, lebih untuk dirinya sendiri, "air liurnya, kotorannya, bisa jatuh ke pot legen yang kebuka semalaman. Terus legennya diminum orang, mentah-mentah, tanpa dimasak."
Hendra menoleh cepat. "Bu, itu... itu legen yang saya minum tiap pekan. Bapak saya nderes dari kecil. Kalau memang segampang itu nularnya, seluruh Ngepoh sudah sakit semua, Bu, bukan cuma empat-lima rumah."
"Belum tentu semua pot kena. Belum tentu semua kelelawar bawa virusnya. Ini baru dugaan, Mas Hendra—bukan kesimpulan." Wening tahu nada suaranya sendiri terlalu buru-buru, seperti orang yang menemukan sesuatu dan takut kehilangan jejaknya sebelum sempat mencatat. Ia menariknya kembali. "Tapi coba pikir. Guano jatuh ke tanah, ke air larian hujan, bisa juga masuk ke mata air. Kalau ini benar, ada tiga jalan sekaligus dari satu sumber yang sama: gua, legen, dan air. Bukan tiga masalah terpisah."
Parmin, yang sejak tadi diam menyandar di kap mobil, akhirnya bicara. "Kalau memang dari kelelawar, Bu, terus kita mau apa? Bunuh semua kelelawarnya?"
"Belum tahu. Belum boleh mikir sejauh itu sebelum ada buktinya." Tapi bahkan saat mengucapkannya, Wening merasakan sesuatu yang berat mengendap di dadanya—bayangan tentang berapa banyak yang harus diubah kalau dugaan ini benar. Bukan sekadar merebus air sumur. Menutup pot legen semalaman berarti mengubah kebiasaan yang diwariskan turun-temurun. Menyentuh gua berarti menyentuh gua milik Haji Suparlan.
Mereka kembali ke Puskesmas Mraggen menjelang isya, dan Wening mendapati Dokter Bagas masih di ruang periksa, memeriksa seorang pasien lama yang demamnya tak kunjung turun. Ketika pasien terakhir keluar, Wening menggelar catatannya di meja—garis waktu, arah terbang kelelawar, posisi pohon aren, dugaan jalur guano ke mata air.
Bagas mendengarkan sambil melipat stetoskop, wajahnya datar. "Kelelawar," ulangnya, seperti mencicipi kata itu dan menemukannya asing di lidah.
"Reservoir, Dokter. Tempat virus itu hidup normal tanpa membuat inangnya sakit."
"Saya paham istilahnya, Bu Wening. Yang saya tidak paham, kenapa kita mengejar hewan yang terbang di langit malam sementara ada pasien di ranjang dua yang harus saya putuskan dirujuk atau tidak sebelum jam sepuluh." Bagas menyandarkan punggung ke kursi. "Anda punya empat nama di papan itu. Belum satu pun konfirmasi laboratorium tentang virus apa yang sebenarnya kita hadapi, dan sekarang Anda mau saya percaya rantainya sampai ke kelelawar gua, berdasarkan Anda melihat mereka terbang ke arah pohon aren?"
"Berdasarkan pola, Dokter. Bukan cuma melihat."
"Pola bisa menipu kalau contohnya kecil." Bagas berdiri, merapikan jas putihnya yang mulai lecek karena panas ruangan tanpa kipas yang menyala penuh. "Saya tidak bilang Anda salah. Saya bilang, selagi Anda memetakan langit, saya harus menyelamatkan yang di depan mata saya. Itu bedanya kita berdua."
Wening tidak membalas segera. Di luar jendela ruang periksa, malam sudah turun penuh, dan entah di lembah mana kelelawar-kelelawar itu sedang berputar di antara pohon-pohon aren, mendekati pot-pot bambu yang dibiarkan terbuka, tanpa seorang pun yang tahu—atau mau tahu—apa yang mereka tinggalkan di sana sebelum fajar.