Papan tulis di ruang tengah Puskesmas Mraggen sudah penuh. Empat nama pertama—Bu Sari Darto, Mbak Surti, Pak Kasdi, Ningsih—kini diapit belasan nama lain yang menyusul sejak sumur di Ngepoh ditandai dan legen mulai dicurigai. Wening berdiri di depannya dengan spidol di tangan, membaca ulang kolom pekerjaan yang selama ini ia isi asal-asalan: petani, ibu rumah tangga, pedagang. Satu kolom yang jarang ia perhatikan tiba-tiba menonjol begitu ia menyusunnya berjajar.
“Empat orang,” katanya, menghitung ulang dengan ujung spidol menempel di papan. “Empat dari delapan belas kasus baru, pekerjaannya sama-sama ‘kerja gua’. Aku pikir itu istilah lokal untuk buruh tani yang numpang tidur di gubuk dekat ladang.”
Hendra menggeleng dari kursinya, menutup map kuesioner yang baru ia bawa dari Karangsari. “Bukan gubuk, Mbak. Itu gua beneran. Gua sarang walet, sekalian ada yang narik guano-nya buat dijual. Punya Haji Suparlan.”
Nama itu jatuh di ruangan dengan bobot yang tak proporsional dengan cara Hendra mengucapkannya—datar, seperti menyebut nama yang sudah lama harus disebut cepat atau lambat. Dokter Bagas, yang sedang memeriksa stok oralit di rak seberang, berhenti sebentar tanpa menoleh.
“Gua di mana?” tanya Wening.
“Tebing selatan, lewat Karangsari. Jalan setapak, harus jalan kaki dari ujung dusun. Suparlan punya izin panen sarang walet dari dulu, sekarang guano-nya juga dikumpulin buat pupuk. Dijual ke luar kota, katanya harganya bagus.”
Wening menulis GUA di papan, melingkarinya, lalu menariknya dengan garis putus-putus ke empat nama yang baru ia hitung. Ia belum tahu apa artinya. Tapi ia sudah cukup lama memegang kuesioner untuk tahu bahwa kebetulan sebesar ini jarang benar-benar kebetulan.
“Ada yang sakit di antara pekerjanya?” tanyanya lagi.
Hendra membuka map, mencari-cari, lalu menunjuk satu baris. “Ini yang bikin aku ke sini duluan sebelum Mbak tanya. Tadi pagi ada laporan dari mandor gua—dua pekerja demam tinggi tiga hari, satu udah nggak kuat manjat, malah sekarang di rumah aja rebahan. Keluarganya nggak lapor ke sini, cuma cerita ke tetangga.”
“Demam berapa hari sebelum yang lain?”
“Belum tahu persis. Belum sempat aku tanya detail.”
Wening menutup spidolnya. “Kalau begitu kita ke sana sekarang. Sebelum keluarganya keburu memutuskan menyembunyikan juga.”
Parmin sudah menunggu di luar dengan mobil puskesmas, dan begitu mendengar tujuan, ia diam sebentar sebelum menyalakan mesin. “Ke gua Haji Suparlan itu nggak gampang, Bu Dokter. Jalannya jelek, terus—” ia ragu, seperti menimbang kata. “Orangnya juga nggak suka didatangi tanpa lapor dulu.”
“Kita bukan mau menggeledah, Pak Parmin. Cuma mau lihat kondisi pekerja yang sakit.”
“Itu yang saya maksud. Suparlan nggak suka urusan gua-nya dilihat orang luar. Bukan cuma soal sakit-sakitan.”
Perjalanan ke Karangsari lebih jauh dari yang Wening kira, dan begitu jalan aspal habis, mobil harus ditinggal di pinggir dusun. Mereka berjalan kaki menyusuri pematang, lalu jalan setapak yang menanjak di antara pohon-pohon jati muda. Bau yang mula-mula samar makin lama makin tajam—amonia, tanah basah, sesuatu yang organik dan pekat. Wening mengenalinya sebelum melihat sumbernya: guano, terkumpul dalam jumlah besar, sudah cukup lama menumpuk untuk berbau sekeras itu.
Mulut gua muncul di balik tebing kapur, lebih besar dari yang ia bayangkan—celah gelap menganga di dinding batu, dengan tangga bambu bersandar di bibirnya dan tumpukan karung di sekitarnya. Dua orang lelaki duduk di dekat tumpukan karung, salah satunya membungkus kepala dengan kain basah, tubuhnya bergetar meski udara siang itu tidak dingin.
Seorang lelaki setengah baya keluar dari gubuk kayu di samping mulut gua begitu melihat rombongan mendekat. Ia mengenakan sarung dan peci, wajahnya tenang tapi matanya cepat menilai siapa yang datang.
“Ada perlu apa, Bu?” Nada suaranya sopan, tapi tidak ramah.
“Saya Wening, dari tim surveilans kabupaten. Ini Hendra, dan Pak Parmin. Kami dengar ada pekerja yang demam.”
“Haji Suparlan.” Lelaki itu menyebut namanya sendiri seolah itu jawaban yang cukup untuk semua pertanyaan. “Cuma capek biasa, Bu. Kerja narik guano itu berat, keluar masuk gua, wajar badan drop. Sudah saya kasih obat warung, istirahat juga sudah.”
“Sudah berapa hari demamnya?”
“Nggak lama.” Jawaban itu terlalu cepat untuk terdengar pasti.
Wening melangkah mendekati dua pekerja yang duduk di tanah. Yang satu menatapnya dengan mata cekung, bibir kering pecah-pecah. Ketika Wening menyentuh punggung tangannya untuk merasakan suhu tubuh, panasnya terasa jelas bahkan tanpa termometer.
“Sudah berapa lama Bapak kerja di gua ini?”
“Sudah lima tahun,” jawab lelaki itu lirih. “Dulu nggak pernah sakit kayak gini.”
Haji Suparlan mendekat lagi, suaranya sedikit meninggi. “Bu Dokter, saya nggak keberatan dilihat, tapi saya harap ini nggak diributkan. Panen sarang di sini menghidupi banyak keluarga. Kalau nanti muncul kabar aneh-aneh, yang rugi bukan cuma saya.”
Wening tidak menjawab dulu. Ia berdiri di mulut gua, membiarkan matanya menyesuaikan dengan kegelapan di baliknya. Dari dalam, ia mendengar sesuatu—bunyi berisik yang halus dan terus-menerus, seperti ribuan sayap kecil bergesekan jauh di kedalaman batu.
Ia belum bisa menyebutnya dengan istilah yang tepat, tapi sesuatu di kepalanya mulai menyusun pertanyaan yang berbeda dari yang selama ini ia ajukan—bukan lagi soal air atau legen saja, melainkan soal apa yang hidup di tempat gelap itu, cukup lama dan cukup dekat dengan manusia, untuk mewariskan sesuatu yang belum punya nama.
Ia berbalik ke Hendra. “Catat nama dua pekerja ini, tanggal mulai demam, dan siapa saja yang ikut narik guano dalam sebulan terakhir. Semuanya, Pak Hendra. Termasuk yang sudah pulang kampung.”
Haji Suparlan mengamati mereka mencatat dengan rahang mengeras, tapi tidak lagi membantah.