Hujan semalam menyisakan bau tanah yang basah ketika mobil Parmin merayap keluar dari Ngepoh, menembus kabut tipis yang menggantung di sela batang-batang aren. Wening Pradipta menutup map di pangkuannya. Angka-angka di dalamnya belum mau berbaris rapi. Tiga rumah, satu sumur — hipotesis itu terlalu kecil untuk menampung semua nama yang sudah ia tuliskan di papan Puskesmas Mraggen. Bu Sari Darto dan dua tetangganya masuk. Tapi Mbak Surti tinggal di ujung lain kampung, tak pernah menimba dari sumur itu. Dan Pak Kasdi — Pak Kasdi bahkan bukan orang Ngepoh. Ia dari Karangsari, terpisah lembah dan dua bukit.
"Pak Parmin," katanya, memandang punggung leher sopir yang basah keringat. "Bapak lahir di sini?"
"Karangsari, Bu. Pindah ke Mraggen waktu kawin." Parmin memindahkan gigi, menuruni tikungan. "Kenapa, Bu Dokter?"
"Saya sedang mencari sesuatu yang menyambungkan orang-orang yang jauh. Sesuatu yang dilakukan orang Ngepoh dan orang Karangsari sama-sama."
Parmin diam sebentar, memicingkan mata pada jalan. Di kiri kanan, pohon aren menjulang, tinggi dan kurus, mahkotanya menghitam oleh embun. Beberapa batang punya tangga bambu yang diikatkan ke sisinya, memanjat lurus ke atas menghilang di rimbun daun.
"Nderes, Bu," kata Parmin akhirnya, seolah menyebut hal yang paling biasa di dunia. "Nira. Semua orang di sini punya kenalan yang nderes."
Wening menegakkan duduknya. "Nderes itu apa?"
"Ngambil legen." Parmin menunjuk dengan dagunya ke arah pohon yang lewat. "Tangkai bunga aren diiris tiap sore, ditadahi bumbung. Airnya manis, namanya legen. Kalau didiamkan jadi tuak, kalau dimasak jadi gula. Bapak saya dulu nderes sampai tua."
"Kapan mereka ambilnya?"
"Malam, Bu. Yang bagus itu yang nginep." Parmin melirik lewat kaca spion, seakan heran mengapa dokter dari kota ini begitu tertarik. "Pot-nya dipasang habis magrib, dibiarkan semalaman di atas pohon, diambil sebelum subuh. Kalau siang, keburu masam kena panas. Legen malam itu yang paling manis, paling banyak dicari."
Ada sesuatu yang mengencang di dada Wening, tenang tapi tajam, seperti benang yang tiba-tiba ditarik lurus. Ia membuka mapnya kembali, menariknya keluar pena.
"Pot-nya dibiarkan terbuka? Semalaman? Di atas, di pucuk pohon?"
"Terbuka, Bu. Mau ditutup pakai apa. Bumbung bambu, mangap ke atas." Parmin mengangkat bahu. "Kadang paginya ada bangkai serangga di dalamnya. Kadang basah kena embun. Dituang saja, tetap diminum."
Wening menulis satu kata dengan huruf besar, lalu melingkarinya dua kali. LEGEN. Ia menatap kata itu seolah menunggu ia bergerak sendiri. Di atas pohon, sepanjang malam, sebuah wadah terbuka menganga ke langit — ke arah apa pun yang terbang di kegelapan, ke arah apa pun yang hinggap dan meninggalkan jejak. Dan pagi harinya cairan itu dituang ke gelas, dibagi, diminum. Diminum di Ngepoh. Diminum di Karangsari. Diminum di mana saja pohon aren tumbuh.
"Berhenti sebentar, Pak," katanya.
Parmin menepikan mobil di bahu jalan berlumpur. Wening turun. Udara pagi dingin menempel di kulitnya. Ia menghampiri sebatang aren di pinggir kebun, mendongak. Tinggi sekali. Tangga bambu itu naik tak berujung, licin oleh lumut. Di puncaknya, samar, ia melihat bumbung tergantung, mulutnya menghadap langit yang kelabu.
"Siapa yang biasa membeli legen di sini?" Ia bertanya tanpa menoleh.
"Semua orang, Bu." Parmin sudah ikut turun, berdiri di sampingnya. "Dijual keliling. Pagi-pagi ada yang mikul, keliling kampung. Satu penderes bisa ngedar sampai tiga dusun. Yang di Ngepoh minum legen dari penderes yang sama dengan yang di Karangsari, bisa jadi."
Satu penderes. Tiga dusun. Wening merasakan lantai investigasinya bergeser di bawah kakinya — bukan runtuh, tapi bergeser ke tempat yang lebih benar. Air sumur terikat pada satu titik di tanah; siapa yang jauh, terlepas. Tapi legen bergerak. Legen dijual berkeliling, menyeberangi lembah yang dikira memisahkan orang-orang sakit. Legen bisa menyambungkan Mbak Surti yang tinggal di ujung dengan Pak Kasdi yang di seberang bukit, tanpa mereka pernah bertegur sapa.
Ia teringat papan di Puskesmas. Empat nama, terpencar seperti bintang tanpa rasi. Ia sudah menghabiskan tiga hari memaksa mereka masuk ke dalam pola air, dan pola itu terus retak di tepinya. Mungkin ia salah sejak awal. Mungkin bukan yang mereka minum dari dalam tanah, melainkan yang mereka minum dari atas pohon.
"Bu Dokter?" Parmin memandangnya cemas. "Legennya kenapa? Sudah dari dulu orang minum begitu. Bapak saya minum tiap hari sampai umur delapan puluh."
"Saya belum tahu, Pak." Wening menahan diri. Ia belum berhak menakuti orang. Hipotesis air pun belum ia buktikan salah; ia hanya belum bisa membuktikannya benar. "Mungkin bukan apa-apa. Tapi saya perlu tahu siapa saja yang minum legen. Dari penderes yang mana. Kapan mereka mulai sakit sesudahnya."
Ia sudah membayangkan lembar kuesioner baru, kolom yang belum pernah ada di sana. Bukan cuma nama sumur. Bukan cuma pasar. Sekarang: legen — ya atau tidak; dari siapa; berapa kali seminggu. Hendra harus tahu ini sore nanti. Bahasa warga ada di tangan Hendra, dan pertanyaan ini menuntut kehati-hatian — sebab menyentuh legen berarti menyentuh nafkah, tradisi, dan sesuatu yang mereka sebut berkah.
Wening kembali menatap pucuk pohon yang menghilang di kabut. Di suatu tempat di atas sana, semalam suntuk, bumbung-bumbung itu menganga terbuka, mengumpulkan embun dan entah apa lagi yang datang bersama gelap. Ia tidak tahu apa yang mendatangi mulut-mulut bambu itu di kedalaman malam. Tapi untuk pertama kalinya sejak tiba di Mraggen, ia merasa telah menemukan sehelai benang yang cukup panjang untuk menjangkau semua nama sekaligus.
"Pulang, Pak Parmin," katanya, menutup map, menyimpan kata yang dilingkarinya seperti orang menyimpan bara. "Saya harus menambah satu baris di papan."
Mobil kembali berjalan, membelah kabut, meninggalkan barisan pohon aren yang berdiri diam seperti saksi yang sudah lama tahu, hanya menunggu ada yang bertanya dengan benar.