Amplop cokelat dari laboratorium kabupaten itu sudah tergeletak di meja Wening sejak subuh, tetapi ia menundanya sampai kopi kedua. Parmin yang membawanya, menembus hujan pagi dari kantor pos kecamatan, dan sekarang duduk di sudut ruang tunggu Puskesmas Mraggen dengan jaket yang masih meneteskan air, menunggu tanpa berkata-kata. Wening merobek sisi amplop dengan pisau lipat, mengeluarkan tiga lembar kertas hasil, dan membacanya dua kali sebelum ia benar-benar percaya pada apa yang dilihatnya.
Negatif. Sampel air dari sumur di Ngepoh — sumur yang ia tandai merah di papan tiga hari lalu, sumur yang dibagi tiga rumah, sumur yang menjadi hipotesis pertamanya — bersih dari patogen utama yang mereka curigai. Tidak ada bakteri yang biasa mereka temukan pada air yang membunuh secepat ini. Tidak ada jejak yang cocok dengan gejala Bu Sari Darto atau Pak Kasdi. Kertas itu menuliskannya dengan huruf-huruf mesin yang dingin, tanpa ampun, tanpa basa-basi.
"Bagaimana, Bu?" Parmin bangkit, membaca wajah Wening seperti membaca langit sebelum berangkat menyetir.
"Airnya bersih," kata Wening pelan. "Sumur itu tidak menularkan apa-apa."
Ia mengucapkannya, dan mendengar suaranya sendiri seperti milik orang lain. Tiga hari ia yakin. Tiga hari ia menyusun logika di kepalanya: tiga rumah, satu sumur, tiga orang tumbang. Segitiga yang begitu rapi hingga terasa benar. Dan sekarang laboratorium menghapus segitiga itu dengan satu kata.
Hendra datang setengah jam kemudian, membawa kabar yang membuat papan itu makin runtuh. Ia baru pulang dari rumah keluarga Mbak Surti di ujung Ngepoh, mewawancarai kembali sang suami dengan kuesioner yang sama, kata demi kata, seperti diajarkan Wening.
"Bu, Mbak Surti tidak pernah minum dari sumur itu," kata Hendra, masih berdiri, belum sempat melepas topinya. "Suaminya bersumpah. Rumah mereka punya sumur bor sendiri, sudah tiga tahun. Air Ngepoh yang di bawah pohon asem itu, mereka tidak pernah ambil. Sekali pun tidak."
Wening menatapnya. "Kamu yakin dia tidak sekadar lupa?"
"Saya tanya tiga cara berbeda, Bu. Saya tanya apa dia pernah menampung air hujan, apa dia pernah nebeng ke tetangga waktu bornya rusak. Semua tidak. Sumur itu jauh dari rumahnya, harus lewat kebun orang." Hendra menelan ludah. "Tapi Mbak Surti sakit. Sakit sama persis. Demam, mata merah, lalu perutnya."
Ruangan itu hening kecuali suara hujan yang menampar seng. Wening berdiri, berjalan ke papan tulis yang ia bangun sejak Bab pertama investigasi ini — nama-nama, tanggal, panah-panah, dan di tengahnya, dilingkari tebal dengan spidol merah: SUMUR NGEPOH. Ia berdiri di depannya cukup lama sampai Dokter Bagas keluar dari ruang periksa, tertarik oleh keheningan yang tak biasa.
"Ada apa?" tanya Bagas.
"Hipotesisku salah," kata Wening.
Ia tidak menghias kalimat itu. Ia bisa saja berkata "belum sepenuhnya terkonfirmasi", "perlu sampel ulang", "mungkin ada faktor lain". Kalimat-kalimat lunak yang menjaga muka. Ia tahu godaan itu, merasakannya menempel di lidahnya seperti rasa logam. Seorang atasan pernah mengajarinya di ibu kota provinsi: jangan pernah menghapus, cukup tambahkan catatan kaki. Papan yang penuh coretan membuat orang ragu pada penyelidiknya.
Tetapi Wening mengambil penghapus.
"Bu—" Hendra melangkah maju, refleks, seolah hendak mencegah tangan yang akan merobek sesuatu yang berharga. "Itu tiga hari kerja kita."
"Itu tiga hari kerja yang mengarahkan kita ke tempat yang salah," kata Wening. Ia menghadap mereka bertiga — Hendra, Parmin, Bagas — dan menyandarkan penghapus ke lingkaran merah itu. "Kalau aku biarkan tulisan ini di sini, besok kita akan datang lagi, melihatnya lagi, dan tanpa sadar mencari bukti yang membenarkannya. Kita akan memaksa data cocok dengan lingkaran ini. Itu bukan menyelidiki. Itu berdoa."
Ia menyeka spidol merah itu sampai bersih. Debu spidol beterbangan tipis di bawah lampu neon. Lingkaran yang tadi terasa seperti jawaban kini hanya bekas kabur di papan putih.
Bagas melipat tangan. "Jadi kita kembali ke nol."
"Tidak," kata Wening. Ia mengambil spidol biru dan menulis di sudut papan, di bawah kolom yang ia beri judul KETERANGAN JUJUR: *Sumur Ngepoh — negatif dari lab. Mbak Surti tak pernah pakai sumur ini, tapi tetap sakit. Air bukan jalur tunggal.* Ia menggarisbawahi kata *tunggal*. "Kita tidak kembali ke nol. Kita tahu satu hal yang tadinya tidak kita tahu: sesuatu menghubungkan orang-orang ini yang bukan air sumur. Sesuatu yang bisa menjangkau rumah bersumur bor sekalipun. Itu bukan kekalahan, itu satu pintu yang tertutup supaya kita berhenti mendobraknya sia-sia."
Parmin, yang selama ini diam di sudut, tiba-tiba bersuara. "Kalau bukan sumur yang sama, mungkin ada tempat lain yang sama, Bu. Tempat yang mereka semua datangi. Bukan yang mereka minum."
Wening menoleh padanya, dan untuk sesaat sopir berjaket basah itu tampak seperti orang yang baru saja mengucapkan sesuatu yang lebih besar dari yang ia sadari. Ia menyimpannya, tidak menuliskannya di papan — belum. Menulis terlalu cepat sama bahayanya dengan menolak menghapus.
"Besok kita ulang kuesioner untuk keempat korban," kata Wening akhirnya. "Bukan cuma apa yang mereka minum. Ke mana mereka pergi. Apa yang mereka pegang. Siapa yang mereka temui. Kita perlebar pertanyaannya."
Malam itu, sebelum pulang, Wening berdiri sendiri di depan papan yang kini punya satu lingkaran merah lebih sedikit. Ia tidak merasa lega, tetapi juga tidak malu. Ia teringat kalimat yang selalu ia ulang pada mahasiswa dulu: peta yang salah lebih berbahaya daripada tidak punya peta sama sekali, karena orang yang percaya peta salah akan berjalan dengan yakin ke jurang. Ia mematikan lampu ruang rapat. Di luar, hujan mulai reda, dan di kegelapan kecamatan itu, empat nama masih menunggu benang merah yang belum ia temukan — tetapi setidaknya kini ia mencarinya di arah yang benar.