Kertas-kertas kuesioner itu sudah kusut di ujungnya, dipegang terlalu sering oleh tangan yang gelisah. Wening menyusunnya ulang di atas meja panjang ruang tunggu Puskesmas Mraggen, empat tumpuk untuk empat nama: Bu Sari Darto, Mbak Surti, Pak Kasdi, Ningsih. Di papan tulis, garis waktu yang ia buat dua hari lalu masih menunjukkan pola samar-samar—demam yang muncul berdekatan, tapi belum juga membentuk satu titik pasti selain sumur di Ngepoh, yang kini terasa terlalu rapi untuk dipercaya penuh.
"Coba lihat lagi jawaban nomor delapan," kata Wening, menunjuk kolom yang selama ini luput dari perhatian. "Aktivitas di luar rumah, tujuh hari sebelum sakit."
Hendra membolak-balik map miliknya, mengeja tulisan tangan warga yang kadang disingkat dan kadang berbelit karena malu menyebut detail. "Pak Kasdi ke pasar hewan tiap Kliwon, jual kambing. Sudah kebiasaan sejak muda."
"Mbak Surti?"
"Suaminya blantik di sana. Dia sering antar nasi bungkus siang-siang, kadang bantu di kandang unggas kalau ramai."
Wening menuliskan dua nama itu di kolom baru, lalu berhenti sebentar di tumpukan ketiga. "Bu Sari Darto?"
"Anaknya bilang, Bu Sari beli ayam kampung buat hajatan, dua minggu sebelum panas tinggi." Hendra mengangkat wajah, seperti baru menyadari sendiri apa yang barusan ia baca. "Ningsih juga, Bu. Catatan posyandunya nyebut kunjungan ke rumah keluarga yang jual pakan ternak, deket pasar."
Empat nama, empat alasan berbeda, satu tempat yang sama. Wening menatap papan tulis, merasakan sesuatu yang mirip dingin di tengkuk—bukan ketakutan, melainkan kewaspadaan seorang yang tahu ia baru saja menemukan jalan kedua yang tak kalah berbahaya dari yang pertama.
"Air belum tentu salah," katanya pelan, lebih untuk dirinya sendiri. "Tapi ini jalur lain yang belum kita periksa sama sekali."
Parmin mengantar mereka sore itu, mobil puskesmas berbelok masuk gang sempit menuju pasar hewan Mraggen. Bau sudah tercium dari seratus meter sebelum gerbang—campuran jerami basah, kotoran ternak, dan asap dari tungku yang membakar sisa bulu unggas. Di dalam, kandang-kandang bambu berjejer sepanjang gang becek, ayam berdesakan di keranjang anyaman, kambing mengembik ditarik-tarik tali, dan seorang lelaki tua menjajakan daging asap hitam yang menggantung di kail—kalong, jawabnya singkat ketika Hendra bertanya, dianggap lauk istimewa kalau musim kemarau. Wening hanya melirik sekilas, mencatatnya di kepala tanpa tahu ke mana detail itu akan membawanya kelak.
Ia berhenti di dekat kandang unggas, mengamati tangan-tangan yang keluar-masuk sangkar tanpa sarung, darah bercampur air comberan mengalir ke selokan yang sama dengan tempat orang mencuci sayur. Seorang blantik menyeka keringat dengan lengan baju, lalu memegang uang dengan tangan yang sama.
"Sudah berapa lama pasar buka begini?" tanya Wening, mencoba terdengar sekadar ingin tahu.
"Dari saya kecil, Bu. Kliwon rame, hari lain sepi." Lelaki itu tertawa kecil. "Kalau pasar tutup, matinya bukan cuma dagangan, matinya kecamatan."
Ia belum sempat mencatat lebih jauh ketika sebuah mobil dinas berhenti di ujung gang, dan seorang pria berbatik cokelat turun dengan langkah yang sengaja dilambatkan agar terlihat berwibawa. Camat Sudrajat. Wening mengenalinya dari foto di kantor kecamatan, tapi baru sekarang melihat caranya berjalan—seperti orang yang terbiasa didatangi, bukan mendatangi.
"Dokter Wening, kan?" Camat Sudrajat mengulurkan tangan, senyumnya lebar tapi matanya mengukur. "Dengar-dengar tim surveilans keliling pasar nanya-nanya soal wabah. Warga jadi resah."
"Kami hanya mengumpulkan data, Pak. Beberapa kasus punya riwayat kontak di sini."
"Riwayat kontak." Camat Sudrajat mengulang kata itu seolah mencicipi rasa asing di lidahnya. "Begini, Dokter. Pasar ini urat nadi kecamatan. Setiap Kliwon, uang yang berputar bisa untuk makan seratus keluarga seminggu. Kalau nanti kedengaran ada dokter bilang pasar sumber penyakit, besok yang datang belanja separuh, minggu depan mati total."
"Saya belum bilang pasar sumbernya, Pak. Saya bilang ada kemungkinan yang perlu diperiksa."
"Kemungkinan." Camat Sudrajat mendekat setengah langkah, suaranya turun tapi tetap tegas didengar. "Saya ini yang tanggung jawab kalau pedagang demo ke kantor kecamatan. Saya minta, sementara belum ada bukti pasti, jangan bikin isu yang bikin orang takut ke pasar. Kerja sama, ya, Dokter. Bukan saya menghalangi, saya cuma jaga supaya semua jalan seimbang."
Wening menahan diri untuk tidak membalas dengan nada yang sama tajamnya. Ia tahu, di posisi ini, kalimat yang keliru bisa menutup pintu yang justru harus tetap terbuka. "Saya mengerti kekhawatiran Bapak. Tapi kalau memang ada jalur penularan lewat sini, semakin cepat kami tahu, semakin cepat juga pasar bisa aman untuk semua orang."
Camat Sudrajat menatapnya sebentar, lalu tersenyum lagi, kali ini lebih hati-hati. "Ya sudah. Periksa saja, asal jangan gembar-gembor dulu ke wartawan atau ke warga sebelum jelas. Saya nggak mau kecamatan ini dicap sarang penyakit gara-gara dugaan."
Ia berbalik, meninggalkan bau jerami dan darah unggas yang masih menggantung di udara. Hendra menunggu sampai mobil dinas itu benar-benar hilang di tikungan sebelum bersuara.
"Itu baru awal, Bu. Kalau nanti memang kelihatan pasarnya yang salah…"
"Kita belum tahu itu benar atau tidak," potong Wening, menatap kandang-kandang yang masih ramai di belakangnya. "Yang saya tahu, sekarang kita punya dua jalur, bukan satu. Dan kita tidak akan berhenti memeriksa hanya karena seseorang takut kehilangan muka."
Ia melipat kuesioner yang dibawanya, memasukkannya ke dalam tas dengan hati-hati, seolah kertas-kertas kusut itu jauh lebih berat dari yang seharusnya. Di kejauhan, seorang pedagang berteriak menawar harga kambing, suaranya tenggelam dalam gaduh yang sama sekali tidak menunjukkan tanda akan pernah berhenti.