Kertas milimeter tak ada di Puskesmas Mraggen, maka Wening Pradipta membalik sebuah poster imunisasi lama dan memakai sisi belakangnya yang masih putih. Dengan penggaris kayu ia menarik dua garis: satu mendatar untuk tanggal, satu tegak untuk jumlah orang. Lampu neon di ruang tunggu berdenyut pelan, sesekali padam sekejap, dan setiap kali gelap datang ia berhenti menggambar, menunggu cahaya pulih, lalu melanjutkan seolah tak ada yang mengganggu.
"Ini bukan tanggal mereka datang ke sini," katanya, lebih kepada dirinya sendiri daripada kepada Hendra yang duduk di seberang meja dengan setumpuk kuesioner. "Yang kubutuhkan tanggal mulai sakit. Hari pertama demam. Bukan hari mereka akhirnya mau diperiksa."
Hendra membuka lembar paling atas. "Susah, Bu. Orang di sini nyebut waktu pakai patokan lain. 'Sakitnya pas habis panen jagung.' 'Mulai anget waktu malam Jumat Kliwon.' Nggak ada yang bilang tanggal berapa."
"Kalau begitu kita terjemahkan." Wening meletakkan pensil. "Malam Jumat Kliwon itu jatuh tanggal berapa?"
Hendra menghitung di jari, bibirnya bergerak tanpa suara. "Tanggal sembilan."
"Bagus. Tulis: Pak Kasdi, mulai demam tanggal sembilan." Wening menghitamkan satu petak kecil di atas angka sembilan. Sebuah bata hitam berdiri sendirian di garis waktu. "Sekarang Mbak Surti. Suaminya bilang apa?"
"Katanya Mbak Surti mulai lemes tiga hari sebelum Bu Sari Darto meninggal."
"Bu Sari Darto meninggal tanggal empat belas." Wening menarik garis mundur di kepalanya. "Berarti Mbak Surti mulai sakit sekitar tanggal sebelas. Kita tulis sebelas, tapi beri catatan: perkiraan." Ia menghitamkan petak lagi. Dua bata sekarang, tak bersebelahan, seperti dua batu di dasar sungai yang belum kelihatan bentuknya.
Mereka bekerja begitu untuk waktu yang lama. Parmin masuk membawa dua gelas teh yang sudah dingin dari warung seberang, meletakkannya tanpa bersuara, lalu bersandar di kusen pintu, menonton perempuan itu mengubah cerita-cerita kabur menjadi kotak-kotak hitam yang rapi. Setiap nama yang Wening baca dari kuesioner menambah satu bata. Bu Sari Darto. Ningsih — kader posyandu yang seharusnya mencatat orang lain, kini justru tercatat. Seorang bocah dari Ngepoh yang keluarganya semula menyangkal, lalu mengaku setelah Hendra bicara pelan-pelan di pekarangan. Tiga orang dari Karangsari yang baru masuk daftar minggu ini.
Menjelang tengah malam, poster itu tak lagi kosong. Wening menyandarkan punggung, meletakkan pensil di meja, dan memandang hasilnya dari jarak yang membuat seluruh gambar terlihat sekaligus.
Ia tidak suka apa yang dilihatnya.
Bata-bata itu tidak menumpuk di satu titik lalu menipis. Mereka naik. Perlahan di awal — satu, dua di hari-hari pertama — kemudian lebih tinggi, lebih rapat, dan bata paling kanan, bata untuk tiga hari terakhir, berdiri paling menjulang dari semuanya. Garis puncaknya menanjak keluar dari tepi kertas seolah ingin terus naik andai poster itu cukup lebar.
"Bu?" Hendra menoleh, membaca sesuatu di wajahnya. "Kenapa?"
Wening tidak langsung menjawab. Ia mengetuk-ngetukkan ujung pensil pada tumpukan bata paling awal. "Kalau wabah sudah lewat puncaknya, gambar ini mestinya seperti gunung. Naik, sampai atas, lalu turun. Yang turun itu artinya penularannya sudah berhenti — orang yang mau sakit sudah sakit, sisanya sembuh atau…" Ia tidak menyelesaikan kalimat itu. "Tapi ini bukan gunung."
"Terus ini apa?"
"Ini tanjakan." Suaranya rata, dan justru keratanya yang membuat Parmin menegakkan tubuh di pintu. "Belum ada puncaknya. Kita belum sampai atas."
Ia mengambil kertas kosong dan mulai menghitung. Pak Kasdi mulai demam tanggal sembilan; ia diketahui sering menimba di sumur yang sama dengan dua tetangganya. Kalau paparan terjadi beberapa hari sebelum demam pertama, jarak antara terpapar dan jatuh sakit — masa inkubasi, tempo diam-diam antara racun masuk dan tubuh menyerah — bisa ditaksir dari orang-orang yang tahu kapan mereka bersinggungan dengan sumber. Angka-angka kasarnya berdesakan di kepalanya. Empat hari. Lima. Mungkin sampai tujuh.
"Kalau masa inkubasinya sekitar lima hari," katanya pelan, "berarti orang yang mulai sakit tiga hari lalu itu tertular sekitar seminggu yang lalu. Dan orang yang tertular kemarin — kalau ada — baru akan demam lima hari lagi. Belum kelihatan di gambar ini. Belum kita hitung."
Hendra memandang poster itu dengan cara baru, seakan bata-bata hitam tiba-tiba punya suara. "Jadi yang sudah sakit ini…"
"Bukan akhir. Ini yang tertular minggu lalu." Wening mengetuk bagian kanan kertas yang kosong, di sebelah bata tertinggi, tempat yang belum ada tandanya. "Yang tertular minggu ini duduknya di sini. Kita cuma belum bisa melihatnya."
Ruangan itu diam. Di luar, seekor tokek berbunyi tiga kali dan berhenti.
Suara langkah mendekat dari koridor. Dokter Bagas muncul, kemejanya kusut, jelas baru selesai dari bangsal. Ia berdiri di belakang Wening, mengamati poster terbalik itu, dan mengerutkan kening. "Kau menggambar apa itu?"
"Kurva epidemik. Berapa orang mulai sakit tiap hari." Wening tidak menoleh. "Aku pikir kita mengejar sesuatu yang sudah reda. Ternyata tidak. Kita masih di tengah, Dokter. Mungkin belum sampai tengah."
Bagas terdiam lama. Ia seorang dokter; ia terbiasa menghitung nyawa satu per satu, di depan ranjang, di bawah tangannya sendiri. Grafik di atas kertas bekas bukan bahasanya. "Ini cuma coretan," katanya akhirnya, tetapi suaranya kehilangan keyakinannya sendiri di pertengahan kalimat.
"Coretan yang bilang orang masih tertular sekarang. Malam ini. Sementara kita ngobrol." Wening berdiri, meraih tehnya yang sudah dingin, meneguknya sampai habis karena tubuhnya butuh sesuatu untuk dipegang. "Kalau garisnya masih naik, artinya sumbernya masih terbuka. Masih ada yang meneteskannya ke orang-orang, tiap hari, dan kita belum tahu apa itu."
Ia menatap sumur yang tergambar di petanya yang lain — hipotesis pertamanya, tiga rumah satu sumber. Untuk pertama kalinya ia meragukan apakah satu sumur cukup menjelaskan tanjakan setinggi ini.
"Besok pagi," katanya kepada Hendra dan Parmin, "kita mulai lebih pagi. Kurva ini tidak akan menunggu kita sarapan."
Ia membiarkan poster itu tetap terpasang di meja, bata-bata hitamnya menanjak dalam gelap sesudah lampu dimatikan, naik menuju sesuatu yang belum satu pun dari mereka berani sebut namanya.