Air di mata air Ngepoh selalu jernih, bahkan pada musim kemarau paling panjang sekalipun. Wening pernah membaca laporan lama Puskesmas yang menyebutnya begitu, tapi baru pagi itu ia melihatnya sendiri: cekungan batu berlumut yang memuntahkan air sebening kaca, mengalir pelan ke parit kecil yang membelah pekarangan-pekarangan Ngepoh. Di tepinya berdiri sebuah cungkup kayu kecil beratap ijuk, dengan sesaji—kembang telon, rokok kretek yang belum dibakar, sebutir kelapa muda—tersusun rapi di atas batu pipih.
"Itu Sendang Kamulyan," kata Hendra, suaranya direndahkan seolah tempat itu bisa mendengar. "Dari dulu memang begitu. Tiap malam Jumat Kliwon ada yang taruh sesaji."
Wening berjongkok di tepi cekungan, mengeluarkan botol sampel dari tasnya. Ia sudah menandai titik ini di peta—tiga rumah yang paling awal melapor demam, Bu Sari Darto, dua tetangganya, semuanya mengambil air minum dari sini. Hipotesis paling sederhana: sumber tunggal, kontaminasi tunggal. Ia baru saja mencelupkan botol ketika seorang perempuan tua muncul dari balik pohon randu, tergopoh-gopoh, tangannya terangkat seperti hendak mencegah sesuatu yang lebih besar dari sekadar botol kaca.
"Jangan diambil, Nduk," katanya. "Itu bukan air sembarangan."
Wening menahan gerakan tangannya, tapi tidak melepaskan botol. "Saya cuma perlu diperiksa di laboratorium, Bu. Untuk memastikan air ini aman."
"Aman?" Perempuan itu—belakangan Wening tahu namanya Mbok Ijah, tetangga langsung Bu Sari Darto—tertawa kecil, getir. "Sendang ini yang bikin aman, Nduk. Sejak simbah-simbah kami masih cilik, sendang ini nggak pernah kering, nggak pernah bikin orang sakit. Itu berkah leluhur. Kalau sekarang ada yang sakit, bukan airnya yang salah."
Hendra melirik Wening, memberi isyarat kecil untuk tidak buru-buru membantah. Tapi kerumunan sudah mulai terbentuk—dua-tiga orang dari ladang terdekat, seorang bapak yang baru turun dari pohon kelapa, anak-anak yang penasaran. Semua memandang botol di tangan Wening seolah itu benda yang akan mencuri sesuatu dari mereka.
"Kalau memang berkah," Wening mencoba, suaranya setenang mungkin, "pemeriksaan ini justru untuk membuktikan itu. Kalau airnya bersih, kita bisa tenang. Kalau ada yang perlu dibenahi, kita bisa benahi sebelum jatuh korban lagi."
Tidak ada yang menjawab. Justru dari arah jalan setapak, muncul seorang lelaki tua bertongkat, mengenakan blangkon lusuh dan sarung yang diikat tinggi di pinggang. Kerumunan bergeser memberi jalan tanpa diminta, seperti air membelah sendiri di depan perahu. Wening tidak perlu diberi tahu siapa itu.
"Mbah Karto," bisik Hendra, hampir tanpa suara.
Lelaki tua itu berhenti di depan cungkup, menatap sesaji yang belum tersentuh, lalu menatap Wening—bukan dengan permusuhan, melainkan semacam iba yang justru lebih sulit dihadapi.
"Kamu yang dari kota itu, ya. Yang nyatet-nyatet siapa sakit siapa nggak." Bukan pertanyaan. "Saya sudah lihat tandanya sejak lebaran kemarin. Burung gagak muter tiga kali di atas Ngepoh, tengah malam anjing pada nguing bareng-bareng. Itu bukan tanda sembarangan, Nduk. Itu tanda ada yang kirim."
"Kirim apa, Mbah?" Wening bertanya, berusaha terdengar ingin tahu, bukan menantang.
"Kiriman. Kutukan." Mbah Karto mengetuk tongkatnya ke tanah, pelan, seperti menandai kalimat. "Ada yang diganggu di tempat yang nggak boleh diganggu. Leluhur nggak suka. Yang kena musibah duluan yang paling deket sama sendang ini—Bu Sari, Mbak Surti. Itu bukan kebetulan. Itu peringatan."
Bisik-bisik menyebar di antara warga, cepat seperti api menjilat jerami kering. Wening mendengar seseorang menyebut nama seorang perantau yang katanya menggali tanah di dekat sendang tahun lalu untuk membangun kandang; seseorang lain menyebut ada yang pernah kencing sembarangan di dekat cungkup. Cerita bertambah, saling menyambung, membentuk logika sendiri yang tak butuh data apa pun untuk terasa benar.
"Kalau itu benar kutukan," Wening berkata, mencoba mempertahankan suaranya tetap datar, "kenapa yang sakit polanya mengikuti waktu, Mbah? Kenapa muncul di rumah yang satu, lalu rumah sebelahnya, seminggu kemudian? Kalau itu kiriman leluhur, kenapa polanya seperti penyakit menular biasa?"
Mbah Karto menatapnya lama, tanpa marah, hanya dengan semacam kesabaran seorang yang sudah kenyang berdebat dengan orang-orang yang tak percaya. "Kamu percaya angka-angkamu, saya percaya apa yang saya lihat turun-temurun. Sendang ini sudah ratusan tahun ngasih hidup ke Ngepoh. Kalau sekarang dia yang disalahkan, ya itu karena orang kota nggak ngerti caranya menghormati."
Ia berbalik, memimpin beberapa warga menuju cungkup, membakar rokok kretek yang tadi tergeletak, menyelipkannya di sela-sela kembang telon. Ritual kecil itu berlangsung singkat, tapi cukup untuk membuat kerumunan yang tadi ragu kini berdiri lebih tegak, lebih yakin. Wening merasakan sesuatu bergeser di udara—bukan permusuhan terbuka, tapi semacam jarak yang tiba-tiba menebal.
Mbok Ijah mendekat lagi, kali ini suaranya lebih lunak, hampir memohon. "Simpan saja botolmu, Nduk. Nanti malah kualat. Kasihan kamu."
Wening menatap botol sampel di tangannya, air yang masih sebening tadi, tak menunjukkan apa pun yang bisa dilihat mata telanjang. Ia tahu satu-satunya cara membuktikan sesuatu adalah membawa air itu ke laboratorium, membiarkan hasilnya bicara. Tapi ia juga tahu, berdiri di tengah kerumunan yang kini menatapnya seperti penganggu, bahwa satu botol air tak akan cukup melawan cerita yang sudah dipercaya tiga generasi.
"Saya bawa ini bukan untuk menghina sendang, Bu," katanya akhirnya, pelan, kepada Mbok Ijah dan siapa pun yang masih mau mendengar. "Saya bawa ini supaya kita tahu pasti, sebelum ada yang sakit lagi."
Tak ada yang menjawab. Hendra menariknya perlahan menjauh dari cungkup, memberi isyarat agar mereka pergi sebelum suasana memburuk. Di punggungnya, Wening masih bisa merasakan mata-mata yang mengikuti, dan asap rokok kretek yang mengepul tipis di atas air yang, bagi mereka, tak pernah—dan tak akan pernah—disebut sebagai sumber penyakit.