Pintu rumah itu tertutup rapat sejak mereka menginjakkan kaki di halaman, padahal siang baru merangkak ke tengah dan di dusun Ngepoh biasanya semua pintu terbuka lebar untuk angin. Wening memperhatikan hal-hal kecil seperti itu sekarang—ia sudah belajar bahwa yang tidak biasa selalu punya alasan.
"Rumahnya Pak Kromo," kata Hendra pelan, menunjuk dengan dagu ke bangunan berdinding anyaman bambu yang dipulas kapur putih pudar. "Istrinya sepupu jauh Mbak Surti. Kemarin pas aku tanya-tanya di warung, tetangganya bilang ada yang batuk-batuk di sana lebih dari seminggu."
Wening menyelipkan papan kuesioner ke ketiaknya dan melangkah ke teras. Ada jemuran kosong di sisi rumah—tak ada baju yang dikeringkan, padahal matahari sedang bagus-bagusnya. Ada juga bau samar yang menguar dari sela dinding, campuran minyak kayu putih dan sesuatu yang lebih pekat, lebih hangat, seperti rebusan daun-daunan.
Hendra mengetuk. Tak ada jawaban. Ia mengetuk lagi, kali ini memanggil, "Pak Kromo? Kula Hendra, saking Puskesmas."
Terdengar derit kayu dari dalam, langkah-langkah yang buru-buru, lalu suara berbisik yang ditahan-tahan sebelum akhirnya pintu bergeser sedikit—hanya cukup untuk satu wajah. Seorang perempuan setengah baya menyembul, matanya cepat menyapu ke arah Wening lalu kembali ke Hendra, seolah mencari muka yang lebih ia kenal.
"Bapake gak ada, Dhik," katanya. "Lagi ke sawah."
"Bu Kromo sendiri sehat?" Hendra bertanya, nadanya dijaga tetap ringan. "Kula mau tanya-tanya sedikit saja, buat data Puskesmas. Sebentar kok, Bu."
"Sehat, sehat semua di sini." Perempuan itu menjawab terlalu cepat, dan tangannya mencengkeram tepi pintu seolah pintu itu bisa lepas dari engselnya kalau ia lengah. Dari dalam, sayup-sayup, Wening mendengar bunyi batuk—bukan batuk ringan orang kena debu, tapi batuk dalam yang terdengar seperti menyeret sesuatu dari dasar dada.
Wening menahan diri untuk tidak langsung menatap ke arah suara itu. Ia sudah dua minggu di Mraggen, cukup lama untuk tahu bahwa menatap terlalu tajam sama saja dengan menutup pintu lebih rapat.
"Kami cuma mau tahu, Bu," katanya, suaranya sengaja dilembutkan, "siapa saja yang belakangan ini demam di rumah ini. Bukan buat menyalahkan siapa-siapa. Cuma buat catatan, biar kami tahu penyakit ini menyebar lewat mana."
"Gak ada yang demam." Perempuan itu menggeleng, dan geleng itu terlalu keras, terlalu berulang. "Batuk anak saya itu batuk biasa. Habis makan gorengan, keselek."
Batuk itu terdengar lagi, lebih panjang, lalu disusul suara seseorang menyeka sesuatu di lantai, dan sebuah pintu di dalam—mungkin pintu kamar—ditutup buru-buru. Wening melirik Hendra. Hendra melirik balik, matanya bicara lebih banyak daripada mulutnya berani.
"Bu," Hendra mencoba lagi, kali ini dengan bahasa Jawa yang lebih halus, memilih kata-kata yang ia tahu tak akan menyudutkan, "kami tahu ini berat. Tapi kalau ada yang sakit disembunyikan, nanti yang lain di dusun ini yang kena getahnya. Bukan buat mempermalukan, Bu. Buat nolong."
Untuk sesaat wajah perempuan itu retak—ada kilat ketakutan yang lolos sebelum ia kembali memasang topeng tenang. "Sampeyan pikir saya gak tahu Bu Sari sama Mbak Surti mati kena penyakit ini?" suaranya turun jadi bisikan tajam. "Kalau saya bilang anak saya batuk, besok seluruh dusun ngomongin rumah saya sumber penyakitnya. Suami saya bisa diusir dari kelompok tani. Sudah ada yang kena getah gitu, Dhik, sampeyan gak tahu?"
Wening merasa sesuatu bergeser di dadanya—bukan kejutan, lebih seperti kepastian yang datang perlahan dan pahit. Ia sudah menduga akan ada yang seperti ini, tapi menduga dan menyaksikan langsung ternyata dua hal yang berbeda beratnya.
"Kami tidak akan bilang ke siapa-siapa nama rumah ini," katanya, mencoba, meskipun ia sendiri tahu janji itu rapuh di tangan orang yang sudah kadung takut. "Datanya cuma buat kami, bukan buat gosip kampung."
"Sampeyan bilang gitu sekarang," jawab perempuan itu, "tapi kalau ada apa-apa nanti, yang disalahkan tetep kita." Dan sebelum Wening sempat membalas, pintu itu sudah menutup, lebih pelan dari yang Wening kira tapi tetap final, seperti sebuah keputusan yang sudah dipikirkan jauh sebelum mereka datang.
Mereka berdiri diam beberapa detik di teras yang kini sunyi, hanya suara ayam berkokok jauh dan angin mengetuk daun kamboja di sudut halaman.
"Bocah e Tarno, anak e sing nomer loro," Hendra berkata pelan sambil berjalan menjauh dari rumah, seakan tak ingin suaranya tertangkap dinding bambu. "Umurnya belasan. Kalau dia yang batuk kayak tadi, itu bukan keselek gorengan."
Wening membuka papan kuesionernya dan menulis satu baris di kolom keterangan: menolak wawancara; indikasi kasus tersembunyi; alasan sosial-ekonomi. Tapi tangannya berhenti sebelum menutup pulpen. Kata-kata itu terlalu rapi untuk apa yang baru saja ia dengar—ketakutan yang begitu telanjang di mata perempuan itu, begitu manusiawi, begitu bisa dimengerti.
"Kalau satu rumah bisa nyembunyiin kayak gini," katanya lebih ke dirinya sendiri daripada ke Hendra, "berapa rumah lagi yang kita lewati dan kita kira baik-baik saja?"
Hendra tidak menjawab langsung. Ia menatap ke ujung dusun, ke deretan rumah lain yang tampak damai dari luar, jemuran berkibar, anak-anak berlarian—gambaran yang tiba-tiba terasa seperti tirai, bukan lagi kenyataan.
"Kita bisa dapat empat nama di kertas," kata Hendra akhirnya, "tapi kalau separuh dusun sembunyiin yang sakit, kertas itu cuma motret separuh wajah, Mbak."
Wening menutup papannya perlahan. Ia memandang sekali lagi ke pintu yang sudah rapat itu, membayangkan anak lelaki di baliknya, meringkuk menahan batuk supaya tak terdengar sampai ke teras. Untuk pertama kali sejak ia menginjakkan kaki di Mraggen, ia merasa peta yang sedang ia susun bukan cuma kurang lengkap—peta itu bisa jadi sedang berbohong padanya, pelan-pelan, dari balik pintu-pintu yang tampak damai.