Kertas-kertas kuesioner itu sudah berpindah dari tas kerja Wening ke atas meja panjang di ruang belakang Puskesmas Mraggen, disusun menurut tanggal mulai demam, bukan menurut abjad nama. Ia belajar dari pengalaman lama: kronologi bicara lebih jujur daripada urutan huruf. Bu Sari Darto: demam sejak dua puluh enam hari lalu. Mbak Surti: dua puluh tiga hari. Pak Kasdi: dua puluh dua hari. Ningsih, yang terakhir dan yang paling menyayat karena ia sendiri kader posyandu, roboh delapan belas hari lalu.
Wening menandai empat titik di peta administratif kecamatan yang ia gantung di dinding dengan paku payung dan benang wol merah. Bukan estetika. Ini alat kerja—tiap warna benang mewakili satu variabel yang belum tentu benar, dan kebenaran cuma bisa diuji kalau kesalahan ikut digambar.
"Tiga titik ini," katanya, menunjuk simpul benang di dusun Ngepoh, "berdekatan. Yang keempat"—jarinya berpindah ke arah timur, ke Karangsari—"agak menyendiri."
Hendra berdiri di sampingnya dengan kuesioner Ningsih di tangan, wajahnya belum sepenuhnya lepas dari rasa kehilangan yang ia sembunyikan di balik nada kerja. "Bu Sari, Mbak Surti, sama Pak Kasdi rumahnya emang deket-deketan, Bu Dokter. Satu RT malah. Tapi deket itu kan biasa. Wong tiap dusun juga rumahnya nempel-nempel."
"Dekat itu bisa berarti dua hal," kata Wening. "Kebetulan geografis, atau mereka berbagi sesuatu yang sama. Makanan, air, orang yang sama-sama mereka temui." Ia mengetuk-ngetukkan pena ke kolom kuesioner yang menanyakan sumber air minum sehari-hari. Ketiga nama itu, di kolom yang sama, menulis jawaban yang identik: sumur di ujung pekarangan Pak Kasdi, yang oleh warga disebut mata air, meski sebenarnya lebih tepat disebut sumber—air yang keluar sendiri dari tanah, tidak digali.
Ningsih tidak menulis jawaban itu. Kolomnya kosong, lalu diisi tangan Hendra dengan tulisan kecil: PDAM, kadang beli galon.
"Kalau tiga orang minum dari sumber yang sama, dan satu orang tidak," kata Wening, lebih pada dirinya sendiri daripada pada Hendra, "maka sumber itu layak dicurigai duluan. Bukan dipastikan bersalah. Dicurigai."
Ia menggarisbawahi kata itu di buku catatannya sendiri, karena ia tahu betul jarak antara dua kata itu—dicurigai dan dipastikan—adalah jarak yang sering dilupakan orang, dan kelupaan itu bisa mahal.
Parmin sudah menunggu di halaman Puskesmas dengan mobil dinas yang catnya mengelupas di bagian spakbor, mesin menyala pelan seolah ia sengaja memanaskannya lebih awal supaya tidak ada alasan menunda. "Ke Ngepoh, Bu Dokter?"
"Ke sumbernya, Pak Parmin. Yang di pekarangan Pak Kasdi."
Jalan menuju Ngepoh menyempit setelah melewati pasar hewan Mraggen, aspal pecah berganti tanah keras berbatu yang membuat mobil bergoyang seperti perahu kecil. Parmin menyetir dengan tangan santai tapi mata awas, sesekali membunyikan klakson pendek di tikungan buta, mengenal jalan itu bukan dari peta melainkan dari bertahun-tahun mengantar petugas Puskesmas ke rumah-rumah bersalin dan rumah-rumah sakit.
"Sumber itu," katanya, tanpa diminta, saat mobil menurun ke arah dusun, "dari dulu emang dianggep bersih, Bu. Airnya jernih, ndak pernah surut biar kemarau panjang. Orang tua-tua bilang itu tanda air itu diberkati."
Wening tidak menjawab dulu. Ia mencatat kalimat itu di sudut buku, bukan sebagai fakta epidemiologis, melainkan sebagai fakta sosial—kepercayaan yang nanti akan bertemu, dan mungkin berbenturan, dengan data.
Sumber itu berupa cekungan batu alami di bawah rimbun pohon beringin, airnya keluar dari celah tanah dengan suara gemericik kecil yang nyaris menenangkan. Wening berjongkok di tepinya. Air itu benar-benar bening—ia bisa melihat kerikil di dasarnya, bisa melihat bayangan wajahnya sendiri terpantul tanpa keruh sedikit pun.
Justru itu yang mengganggunya.
"Jernih tidak sama dengan bersih," katanya pada Hendra, yang berdiri agak menjauh dari bibir sumber, tangannya terlipat, seolah air itu sendiri sudah cukup membuatnya waswas. "Kuman yang membuat orang sakit itu kebanyakan tidak kelihatan mata. Air keruh belum tentu berbahaya, air jernih belum tentu aman."
Ia mengeluarkan botol steril dari tas, mengambil sampel dengan tangan bersarung, menuliskan waktu dan koordinat kasar di label. Di dekat cekungan itu ada dua ember plastik tergeletak, bekas dipakai warga menciduk air, dan seutas tali dari batang bambu yang menjuntai ke arah dahan pohon di atasnya—entah untuk apa, Wening belum tahu, tapi ia mencatatnya juga, karena ia sudah belajar: hal-hal yang tampak tak penting sering justru menyimpan jawaban yang paling penting.
"Pak Kasdi sama Bu Sari sama Mbak Surti," kata Parmin pelan, berdiri agak di belakang mereka berdua, "tiap pagi ambil air di sini. Kadang buat minum, kadang buat masak. Ndak cuma mereka bertiga, Bu. Hampir separo dusun juga kadang ke sini."
Kalimat itu membuat Wening berhenti sejenak, pena tergantung di udara. Kalau separuh dusun memakai sumber yang sama, dan yang sakit baru tiga orang, maka air itu—kalau benar sumbernya—bukan satu-satunya sebab. Ada sesuatu yang membedakan Bu Sari, Mbak Surti, dan Pak Kasdi dari tetangga-tetangga mereka yang masih sehat. Sesuatu yang belum ia lihat.
Ia berdiri, membersihkan lutut celananya yang basah oleh tanah lembap, memandang sekali lagi ke arah air yang terus mengalir tenang, tak peduli apa pun yang sedang dipertaruhkan di atasnya.
"Ini bukan jawaban," katanya kepada Hendra, lebih untuk menegaskan pada dirinya sendiri. "Ini baru pertanyaan yang lebih tajam."
Di dinding Puskesmas nanti malam, ia akan menambahkan satu simpul benang biru dari tiga rumah di Ngepoh menuju satu titik di bawah pohon beringin—hipotesis pertama, ditulis dengan pensil, bukan tinta, karena ia tahu betul pensil bisa dihapus, dan tinta hanya untuk yang sudah teruji berkali-kali tanpa terbantahkan.