Papan tulis itu dulunya milik ruang imunisasi—di sudut kanannya masih menempel separuh stiker jadwal posyandu, terkelupas dan menguning. Wening Pradipta menyeretnya ke tengah ruang tunggu Puskesmas Mraggen yang telah sepi selepas magrib, lalu mengelap permukaannya dengan lengan baju sampai serbuk kapur lama beterbangan di bawah lampu neon yang berkedip satu-dua kali. Ia butuh bidang kosong. Bukan untuk mengajar, melainkan untuk berpikir dengan tangannya.
Dengan spidol yang tintanya nyaris kering, ia menuliskan empat nama, satu di bawah yang lain, huruf-hurufnya menekan agar terbaca.
Bu Sari Darto. Mbak Surti. Pak Kasdi. Ningsih.
Empat nama itu berdiri di sana seperti tonggak di sawah yang baru dibajak—menandai sesuatu, tetapi belum menjelaskan apa. Wening mundur selangkah, menyilangkan tangan, dan menatapnya lama. Di kepalanya, empat nama itu bukan orang. Mereka adalah titik. Titik yang, kalau ia cukup sabar dan cukup jujur, suatu saat bisa ditarik menjadi garis.
"Yang paling awal siapa, Mas Hendra?" tanyanya tanpa menoleh.
Hendra duduk di bangku tunggu, setumpuk lembar kuesioner di pangkuannya, sebagian masih basah oleh keringat tangan warga yang mengisinya siang tadi. Ia membolak-balik kertas, membaca tanggal yang ditulis dengan berbagai bentuk angka.
"Kalau kata anaknya Bu Sari, mulai sumeng—anget-anget—itu pas habis Jumat Kliwon. Dua minggu lalu, mungkin lebih."
"Sumeng itu demam ringan?"
"Ya, demam yang belum bikin ngambruk. Orang sini nggak langsung bilang sakit, Bu. Bilangnya 'kurang enak badan', 'masuk angin', 'kecapekan'." Hendra mengangkat bahu. "Kalau sudah nggak bisa bangun, baru namanya sakit."
Wening menuliskan angka di samping nama Bu Sari Darto—perkiraan hari mulai gejala—lalu memberi tanda tanya. Ia benci tanda tanya, tetapi lebih benci angka yang berpura-pura pasti. "Kita nggak bisa pakai 'kecapekan' sebagai data," katanya. "Aku butuh hari. Hari pertama badan mulai panas. Sebisa mungkin. Kalau lupa, kita pancing—habis lebaran haji? Sebelum atau sesudah panen? Waktu ada hajatan siapa?"
"Warga inget acara, bukan tanggal," Hendra membenarkan pelan.
"Bagus. Kita pakai acara sebagai jangkar." Wening menuliskan di pojok papan: *lebaran haji, panen, kenduri, pasaran.* "Setiap orang kita geser waktunya ke acara yang mereka ingat, baru kita terjemahkan ke tanggal. Itu tugasmu—bahasanya, ingatannya. Aku yang menyusun garisnya."
Mereka mulai dari kuesioner yang paling tebal. Rumah demi rumah, siang tadi, Wening mengetuk pintu dengan senyum yang ia latih agar tidak tampak seperti petugas yang datang mencari kesalahan. Ia bertanya hal-hal yang, di telinga warga, terdengar aneh sampai nyaris kurang ajar. Minum dari mana. Beli sayur di mana. Terakhir keluar dusun kapan. Tidur di kamar yang sama dengan siapa. Melayat siapa. Hendra berjalan setengah langkah di depannya, menerjemahkan bukan hanya kata, tetapi juga maksud—melunakkan pertanyaan yang tajam, menajamkan jawaban yang kabur.
"Pak Kasdi ini," Wening menunjuk lembar ketiga, "istrinya bilang suaminya jarang di rumah. Kerja apa?"
"Nderes." Hendra menirukan gerakan memanjat. "Manjat pohon aren, ngambil legennya. Malam sama subuh."
"Legen." Wening mengulang kata itu seolah mengecapnya. Ia belum tahu artinya penting atau tidak. Ia menuliskannya di kolom pekerjaan, kecil, tanpa memberinya berat lebih dari yang pantas. Aturan pertama yang ia pegang mati-matian: jangan jatuh cinta pada kecurigaan sendiri sebelum ia membuktikan diri. "Mbak Surti kerja apa?"
"Jualan di pasar. Sayur."
"Pasar Mraggen?"
"Nggih. Yang hewan juga ada di situ, sebelahan."
"Ningsih?"
Hendra terdiam sejenak. Nama itu membuat sesuatu bergerak di wajahnya. "Kader posyandu. Ke mana-mana dia. Semua rumah dia masuki, semua bayi dia timbang." Suaranya menurun. "Kalau ada yang tahu siapa sakit lebih dulu di sini, ya harusnya dia."
Wening mencatat itu juga, dan untuk pertama kalinya merasakan ironi yang dingin: orang yang paling mungkin memetakan wabah ini justru menjadi salah satu titiknya. Ia menahan diri agar tidak berhenti pada pikiran itu. Bukan sekarang.
Ia kembali ke papan. Di sebelah tiap nama, ia menuliskan tiga hal yang berhasil ia korek: perkiraan hari mulai demam, pekerjaan, dan satu kolom yang ia beri judul *ke mana ia pergi*. Angka-angka itu berjajar tidak rapi, penuh tanda tanya, seperti tulisan tangan seseorang yang gemetar. Tetapi ketika Wening memandanginya dari kejauhan, memicingkan mata sampai huruf-huruf mengabur dan hanya urutan waktunya yang tersisa, ia melihat sesuatu.
Bu Sari lebih dulu. Lalu Pak Kasdi, beberapa hari sesudahnya. Mbak Surti menyusul. Ningsih paling belakang.
Bukan serentak. Itu yang penting. Kalau empat orang jatuh sakit di hari yang sama, sumbernya mungkin satu paparan bersama—air yang sama, makanan yang sama, satu acara. Tetapi ini berurutan. Berjarak. Ada jeda beberapa hari yang berulang di antara satu nama dan nama berikutnya, seolah sesuatu berpindah dari orang ke orang, atau dari satu sumber yang meracuni pelan-pelan, satu demi satu.
"Mas Hendra," katanya, dan ia sadar suaranya sedikit berubah. "Lihat ini. Jaraknya."
Hendra bangkit, mendekat, menyipitkan mata ke papan. "Jarak apa, Bu?"
"Antara sakitnya orang satu dan orang berikutnya. Kira-kira sama. Beberapa hari, lalu ada lagi, lalu ada lagi." Wening menarik garis putus-putus dengan spidol, menghubungkan keempat tanggal, membentuk satu garis samar yang menanjak dari kiri bawah ke kanan atas. "Kalau ini benar, artinya ini bukan sekali kejadian yang sudah lewat. Ini masih jalan. Masih ada yang akan menyusul."
Ruangan itu senyap. Neon berdengung. Di luar, seekor anjing menggonggong lalu berhenti.
"Bu Wening," Hendra berkata hati-hati, "empat orang. Dari dua ribu lebih penduduk. Yakin bukan kebetulan?"
Pertanyaan yang jujur. Pertanyaan yang benar. Wening menghargainya. "Belum yakin," jawabnya terus terang. "Empat titik belum cukup untuk apa pun. Bisa jadi kebetulan, bisa jadi aku salah baca tanggalnya karena kita menebak-nebak dari kenduri dan panen." Ia mengetuk papan dengan buku jari. "Tapi kalau garis ini benar, dan kita diam sampai yakin, jumlahnya sudah bukan empat waktu kita tahu. Jadi kita kerjakan seolah-olah benar—sambil siap dibuktikan salah."
Ia memberi tutup spidolnya, memasukkannya ke saku, dan menatap keempat nama itu sekali lagi. Bukan lagi sekadar orang yang malang. Mereka telah menjadi peta pertama—kasar, penuh lubang, ditopang ingatan dan tebakan. Tetapi peta. Dan besok, Wening tahu, ia harus mengetuk lebih banyak pintu untuk menambah titik, sebelum garis samar di papan itu sempat menanjak jadi sesuatu yang tak lagi bisa siapa pun sembunyikan.