Wening tidak menunggu pagi. Ia turun dari lereng sore itu juga, kakinya pegal dan sampel gua masih di ranselnya, dan memaksa perjalanan ke tepi kota meski hari sudah gelap dan jalan masih licin sisa hujan. Bu Tariah menemaninya; di tempat asing seperti pinggiran kota, kepercayaan yang dibawa perempuan itu sama pentingnya dengan kuesioner di tas Wening.
Orang yang sakit itu dirawat di sebuah klinik kecil di tepi kota, di pinggir jalan provinsi yang menghubungkan kabupaten ini ke ibu kota. Namanya Marsudi, lelaki tiga puluhan, dan ketika Wening melihatnya, ia tahu seketika ini bukan kebetulan. Demam tinggi lima hari. Mimisan sejak kemarin. Bintik merah di lengan. Definisi kasusnya cocok sempurna, gejala demi gejala, dengan sepuluh orang yang sudah ada di petanya.
Tapi Marsudi tidak masuk ke pola mana pun yang ia kenal. Ia tidak tinggal di lereng. Ia tidak pernah ke gua, tidak ambil sarang walet, tidak punya ternak. Ia tidak datang ke hajatan Pak Lurah. Ia bahkan tidak tinggal di Mraggen — rumahnya di pinggiran kota, berkilometer dari titik terjauh di peta Wening. Untuk sesaat, seluruh hipotesis yang baru saja mengeras di gua tadi siang terasa runtuh lagi, dan rasa frustrasi yang tajam menggigit Wening. Anomali lagi. Selalu anomali yang menjengkelkan, yang menolak masuk ke cerita yang ia susun dengan susah payah.
Lalu ia bertanya, seperti yang selalu ia lakukan, tentang pekerjaan. Apa yang Marsudi kerjakan sehari-hari.
Istrinya yang menjawab, karena Marsudi terlalu lemah. "Suami saya sopir, Bu. Sopir truk. Angkut barang."
Wening duduk lebih tegak. "Angkut barang apa? Dari mana ke mana?"
"Dari pabrik, Bu. Pengolahan ternak di Mraggen. Suami saya angkut barangnya — tulang, sisa potongan, kotoran ternak buat diolah jadi pupuk dan pakan. Bolak-balik tiap hari. Dari kandang-kandang di lereng, dikumpulkan di pabrik, lalu dibawa ke kota." Ia mengusap mata. "Tiap hari, Bu. Pagi berangkat, sore pulang. Rute yang sama terus."
Wening merasakan sesuatu yang dingin merayap naik dari tengkuknya. Potongan-potongan yang selama ini berserakan — gua, lereng, ternak yang mati, kotoran kelelawar untuk pakan, pabrik pengolahan, dan sekarang seorang sopir — semuanya tiba-tiba jatuh ke tempatnya, tapi membentuk gambar yang jauh lebih besar dan lebih menakutkan daripada yang ia bayangkan. Marsudi bukan korban yang tersesat di pinggiran. Marsudi adalah jalur. Ia mengangkut bahan dari lereng yang terkontaminasi — kandang, kotoran, sisa ternak — ke pabrik, lalu ke kota, tiap hari, dengan rute yang sama. Kalau penyakit ini benar berpindah lewat bahan-bahan itu, maka rantai penularan tidak terkurung di sudut Mraggen seperti yang ia kira. Ia punya jalur cepat keluar wilayah, lewat truk yang melaju di jalan provinsi tiap hari, menuju ibu kota provinsi tempat ratusan ribu orang tinggal.
Dan pabrik — pabrik yang sama yang ingin dilindungi pejabat itu, yang menelepon agar Wening tak membesar-besarkan demi investasi — duduk tepat di tengah simpul ini. Bukan sebagai penjahat, Wening menahan dirinya untuk tidak melompat ke sana; ia belum punya bukti pabrik itu sengaja berbuat salah. Tapi sebagai titik di mana bahan dari seluruh lereng terkumpul dan disebar lagi, pabrik itu mungkin adalah pengganda — tempat satu sumber kecil di gua bisa berubah jadi jalur yang menjangkau jauh. Ia harus memetakan rute truk itu. Ia harus tahu ke mana saja Marsudi pergi, apa lagi yang ia bongkar muat, siapa lagi yang menyentuh barang itu di sepanjang jalan. Rantai ini punya ujung yang sama sekali belum ia pegang, dan ujung itu mengarah lurus ke kota.
Ini terlalu besar untuk ia tangani sendiri. Ini harus naik — ke dinas provinsi, ke tim yang lebih besar, ke peringatan resmi agar truk-truk pabrik diperiksa dan jalur logistik itu dipetakan sebelum kasus berikutnya muncul entah di mana. Wening duduk sepanjang malam di klinik kecil itu, dengan laptop tuanya dan baterai yang ia hemat, menyusun laporan eskalasi: peta kasus, kurva epidemi, hipotesis zoonosis dengan jalur gua-ternak-pabrik, dan kini jalur logistik sopir yang membuka kemungkinan lompatan ke kota. Ia menulis dengan hati-hati, jujur tentang apa yang ia tahu dan apa yang masih dugaan, karena laporan yang dilebih-lebihkan sama berbahayanya dengan yang diremehkan.
Menjelang subuh, ia membuka sistem surveilans dinas dari laptopnya, ingin menarik data kasus-kasus awal yang ia masukkan di hari-hari pertama untuk dilampirkan ke laporan — sepuluh kasus pertama, titik-titik yang ia data sendiri, tanggal mulai sakit yang menyusun gundukan pertama kurva itu.
Layarnya menampilkan daftar yang nyaris kosong.
Wening mengernyit dan menyegarkan halaman. Sinyal di tepi kota lemah, byar-pet seperti listriknya. Halaman dimuat ulang, lambat. Ketika muncul lagi, sebagian besar kasus awal yang ia masukkan tidak ada. Bukan semua. Beberapa masih ada, dengan tanggal yang aneh, sebagian terduplikasi dengan ejaan nama yang berbeda, sebagian dengan kolom tanggal mulai sakit yang kosong. Gundukan pertama kurvanya — bukti bahwa wabah ini sudah menanjak sejak dua pekan lalu — di atas kertas sistem dinas, nyaris hilang. Yang tersisa hanyalah segelintir kasus baru yang tampak seperti percikan kecil, bukan gelombang.
Untuk satu detik yang dingin, pikiran tergelap melintas: ada yang sengaja menghapusnya. Ada yang ingin kurva itu terlihat landai demi pabrik, demi investasi, demi angka yang nyaman dilaporkan ke atas.
Lalu Wening menarik napas dan memaksa dirinya berpikir seperti yang selalu ia lakukan: jangan tebak yang jahat sebelum yang biasa habis dijelaskan. Sistem ini berjalan di server kabupaten yang sering mati listrik. Entri dilakukan oleh petugas yang kewalahan, di antara byar-pet, lewat koneksi yang putus nyambung — entri yang gagal tersimpan, entri ganda dengan ejaan beda, sinkronisasi yang tertunda berhari-hari karena pejabat menunda input agar angka tak terlihat besar sebelum rapat. Bukan satu tangan jahat yang menghapus. Sebuah sistem yang reyot, kekurangan dana, dan dikelola oleh orang-orang yang takut pada angka — itu jauh lebih masuk akal, dan, Wening menyadari dengan getir, jauh lebih sulit dilawan. Kau bisa menuntut seorang penjahat. Tapi bagaimana kau menuntut kelalaian yang tersebar, ketakutan yang kolektif, dan kabel listrik yang putus?
Apa pun penyebabnya, akibatnya sama dan mengerikan: bukti bahwa wabah ini sudah berlangsung dua pekan, bukti yang ia butuhkan untuk meyakinkan provinsi agar bertindak cepat sebelum truk-truk itu membawa penyakit ke kota — bukti itu kini raib dari satu-satunya sistem resmi yang akan dipercaya orang di atas. Di matanya, kurva masih menanjak tajam. Di mata sistem, kurva itu nyaris rata.
Wening menatap layar yang berkedip di ruangan yang gelap, sopir yang sekarat di ranjang sebelahnya, dan jendela yang mulai memutih oleh subuh — di luar sana, di jalan provinsi yang sama, sebuah truk pabrik sudah siap berangkat menuju kota, membawa entah apa, di pagi yang baru.