Kamis hujan kecil. Bukan hujan yang mematikan listrik, bukan hujan yang membuat generator menyala dan rumah terasa seperti bunker.
Seminggu sudah lewat sejak malam batas permanen itu. Observasi di sekolah Salsa berjalan. Angka di kantor Damar berjalan. Televisi dinyalakan lebih hati-hati sekarang, dan malam hampir itu sudah jadi arsip — arsip yang tidak dihapus, hanya disimpan.
Lembar di kulkas tetap dua baris. Jari Anisa masih kosong. Yang 'nanti' masih tetap nanti. Sekolah masih belum penuh. Faris tetap terkunci di kertas. Om masih dipantau. Pintu masih pintu. Draf Naufal masih di laci.
Payung di foyer basah sejak sore. Teh dibuat dua gelas. Tidak ada bunga di meja untuk menebus apa pun, dan tidak ada kotak beludru di mana pun di rumah itu.
Pembantu cuti malam itu. Lampu ruang tamu kuning dan agak redup di satu sisi karena satu bohlam belum diganti.
Malam itu tidak disiapkan siapa pun. Tidak ada yang berdandan, tidak ada yang menyisihkan waktu, tidak ada yang mengirim pesan lebih dulu bahwa ada sesuatu yang mau dibicarakan.
Anisa baru selesai menyetrika dua baju kerja. Damar baru selesai menelepon Naufal soal jadwal Senin.
Anisa duduk di sofa dengan jarak yang ia pilih sendiri — lebih dekat daripada bulan-bulan sebelumnya, tapi belum sedekat yang bisa disebut klaim. Map tertutup di meja rendah.
Damar duduk di sisi lain sofa yang sama, tangannya di atas bantal yang ada di antara mereka. Ia tidak mengambil apa pun. Ia menunggu.
Hujan mengisi diam mereka, dan diam itu bukan vonis.
Ada satu perbedaan kecil yang Anisa sadari malam itu, dan perbedaan itu yang akhirnya membuatnya bicara. Dulu, kalau mereka berdua duduk diam di ruangan yang sama, ia selalu menghitung berapa lama lagi sampai lelaki itu mengatakan sesuatu yang menyakitkan. Malam ini ia tidak menghitung apa-apa.
Diam yang tidak perlu dijaga. Ternyata itu yang selama ini paling ia rindukan dari hidup yang dulu, lebih dari pekerjaan, lebih dari nama baiknya.
'Saya tidak bilang sembuh,' kata Anisa akhirnya.
'Saya tidak minta kau bilang begitu.'
'Bagus. Karena yang mau saya bilang lain.' Ia memutar gelas tehnya sekali. 'Jangan menikahi dendam itu lagi. Nikahi saya yang ini.'
Damar tidak bergerak.
'Yang ini,' ulang Anisa. 'Yang masih takut kalau ada berita tol di televisi. Yang punya rem dan memakainya. Yang keluar rumah untuk kerja karena mau, bukan karena disuruh membuktikan pantas. Yang bisa pergi kalau altar itu kembali, dan sudah bilang begitu dengan jelas seminggu lalu.'
Ia mengangkat tangan kirinya sedikit — jari yang kosong.
'Yang jarinya kosong dan tidak minta maaf soal itu. Yang masak bukan sebagai tebusan. Yang hampir lari malam Selasa itu, lalu memilih tetap duduk dengan jarak.' Ia meletakkan tangannya kembali. 'Bukan saya yang ada di berkas. Bukan saya yang ada di berita. Dan bukan saya yang ada di kepala Anda tiga tahun terakhir setiap kali dengar kata tol.'
Hujan terdengar sebentar di talang.
'Kalau Anda mau yang ini — bilang. Pakai mulut, sekarang.' Ia menatapnya. 'Bukan dengan cincin malam ini. Yang nanti tetap nanti. Dan tolong jangan berpidato seperti di depan board.'
Damar menarik napas panjang.
Matanya basah, dan ia tidak menyembunyikannya, dan ia juga tidak menjadikannya pertunjukan. Ia tidak berlutut. Tidak ada kotak yang dikeluarkan dari saku.
'Saya menikahi kau yang ini,' katanya.
Ia berhenti, seolah memeriksa kalimatnya sendiri sebelum melanjutkan.
'Bukan dendam. Bukan berkas. Bukan altar untuk Dita. Bukan bahan slide, bukan bahan berita, bukan bukti apa pun ke dunia.' Suaranya rendah. 'Yang ini. Yang takut, yang punya batas, yang bisa pergi. Termasuk bagian yang bisa pergi itu — saya menikahi bagian itu juga, karena bagian itu yang menjaga saya tetap jadi manusia.'
Anisa menahan sesuatu di tenggorokannya dan menang atas benda itu.
'Dicatat,' katanya.
'Dan saya tidak menagih jawaban malam ini.'
'Jawaban saya sudah ada di kalimat pertama saya tadi,' kata Anisa. 'Cuma bentuknya bukan yang biasa orang pakai.'
Damar mengangguk. Tangannya masih di bantal itu, tidak bergerak ke mana-mana.
'Boleh saya tanya satu hal, dan kau boleh tidak jawab,' katanya.
'Tanya.'
'Kalau tiga tahun lalu saya bukan orang yang menikahi kau sebagai hukuman — kalau kita ketemu di tempat lain, sebagai dua orang biasa — kau kira bagaimana?'
Anisa memikirkannya lebih lama dari yang Damar duga.
'Saya tidak tahu,' katanya akhirnya. 'Dan saya tidak mau menebak, karena pertanyaan itu jenis yang bikin orang menyesali hidup yang tidak pernah ada.' Ia meletakkan gelasnya. 'Yang ada cuma ini. Dan ini yang saya urus.'
'Adil.'
'Bukan adil,' kata Anisa lagi, dan kali ini ada sesuatu yang hampir seperti geli di suaranya. 'Praktis.'
Beberapa menit kemudian Anisa yang menggeser tangannya sendiri — sedikit, beberapa sentimeter, sampai punggung tangannya menyentuh punggung tangan Damar.
Ia tidak menggenggam. Damar juga tidak.
Yang terjadi di kepala Anisa saat itu tidak ia ceritakan kepada siapa pun, termasuk Salsa.
Ia sedang menghitung. Bukan menghitung perasaan — menghitung bukti. Berapa kali lelaki ini berhenti waktu diminta berhenti. Berapa kali ia menolak jalan pintas yang tidak pernah dilaporkannya. Berapa kali pintu itu tidak ditahan padahal ditahan akan jauh lebih mudah baginya.
Angkanya belum cukup untuk kata sembuh. Angkanya cukup untuk satu malam ini.
Mereka membiarkannya begitu sampai teh dingin, lalu Anisa berdiri, mengucapkan selamat malam, dan naik ke kamar tamu seperti biasa.
Tidak ada yang berubah tempat malam itu. Tapi sesuatu yang lain sudah dipindahkan, dan keduanya tahu.