Rabu malam, setelah hari observasi keduanya dan setelah malam hampir itu, Anisa tidak menunggu suasana membaik.
Itu keputusan yang ia ambil sendiri sore harinya, di angkutan pulang: kalau ia menunggu waktu yang enak untuk mengatakan hal-hal berat, ia tidak akan pernah mengatakannya, karena waktu yang enak selalu terasa terlalu sayang untuk dirusak.
Di angkutan itu ia menulis kalimatnya di halaman belakang buku catatan kelas, mencoretnya dua kali, lalu menulisnya lagi lebih pendek. Yang pertama terlalu banyak alasan. Yang kedua terlalu mirip ancaman. Yang ketiga akhirnya cuma tiga baris, dan tiga baris itu yang ia hafalkan.
Ia duduk di ruang tamu dengan map di meja rendah. Dua baris di kulkas ada di belakang kesadarannya, seperti biasa.
Damar pulang setengah delapan, melepas jasnya di gantungan, dan langsung mengambil jarak yang biasa tanpa perlu diberi tahu.
'Saya mau menyampaikan batas,' kata Anisa. 'Dan batas ini permanen.'
Damar duduk.
Anisa bicara dengan cara yang dulu ia pakai di depan kelas ketika menjelaskan aturan pada hari pertama: jelas, pelan, tanpa nada mengancam, dan tanpa satu pun kalimat yang bisa disalahartikan.
'Ini bukan ancaman untuk menagih apa pun dari Anda. Bukan drama yang saya siapkan untuk portal. Bukan hukuman balik.' Ia meletakkan kedua tangannya di pangkuan. 'Ini batas.'
'Saya dengar.'
'Kalau dendam itu kembali — kalau saya dijadikan altar lagi, atau terdakwa lagi, atau alat untuk menutup luka Dita lagi — saya pergi. Pintu, kos, atau lebih jauh dari itu. Dan surat cerai yang masih ada di laci ruang kerja Anda itu boleh naik dari kertas jadi tindakan.'
Ia berhenti sebentar supaya kalimat itu punya tempat.
'Rem Naufal tetap. Salsa tahu isi batas ini, dan dia tahu harus menelepon siapa.' Ia menatap Damar lurus. 'Dan ini bukan berarti kalau Anda tidak sempurna saya langsung kabur. Anda boleh salah. Anda boleh hampir, seperti semalam. Yang tidak boleh adalah perang lama itu dihidupkan kembali dengan tubuh saya sebagai medannya.'
Damar tidak menjawab cepat.
Ia juga tidak membela diri. Tidak ada 'tapi semalam saya berhenti', tidak ada daftar hal-hal baik yang sudah ia kerjakan setahun terakhir.
Matanya basah. Ia tetap duduk di jaraknya.
'Saya angguk,' katanya akhirnya, dan ia benar-benar mengangguk, sekali, pelan. 'Saya terima. Kalau dendam itu balik dan saya jadikan kau altarnya — kau pergi, dan itu sah, dan saya tidak akan menghalangi di pintu.'
'Hafal?'
'Hafal.' Suaranya serak. 'Dan saya tidak akan meminta kau tinggal untuk menebus rasa takut saya. Saya juga tidak minta kau memotong kalimat barusan supaya lebih enak didengar. Kalimat itu memang tidak untuk enak didengar.'
Ia menarik napas.
'Rem permanen. Draf resign Naufal tetap hidup. Pintu tetap hidup. Kos tetap hidup. Laci tetap hidup.' Ia menyeka wajahnya sekali dengan telapak tangan. 'Saya takut mendengarnya. Itu sah. Saya terima.'
Anisa mengangguk. Bahunya turun sedikit — bukan lega, lebih seperti otot yang akhirnya diizinkan berhenti menegang.
'Satu hal lagi,' kata Damar. 'Supaya saya tidak salah pakai nanti.'
'Silakan.'
'Kalau suatu hari saya minta maaf soal sesuatu, permintaan maaf itu tidak menghapus batas ini. Batas ini yang menahan maaf saya supaya tidak berubah jadi tali lagi.' Ia menatap map di meja. 'Saya baru mengerti itu belakangan. Dulu saya kira maaf itu penutup. Maaf itu bukan penutup.'
'Bukan,' kata Anisa. 'Maaf itu cuma kalimat. Yang menutup itu perbuatan yang diulang.'
Anisa menunggu, dan ketika Damar tidak segera melanjutkan, ia menambahkan sendiri satu hal yang belum ia sebutkan.
'Batas ini juga berlaku untuk saya,' katanya. 'Kalau suatu hari saya yang mulai memakai batas ini untuk mengancam Anda tiap kali kita berselisih soal kecil — itu juga bukan batas lagi. Itu senjata. Kalau saya mulai begitu, saya minta Anda bilang.'
Damar mengangkat wajahnya, jelas tidak menduga bagian itu.
'Saya bilang.'
'Bagus. Karena saya juga tidak mau jadi orang yang menghukum pelan-pelan.'
'Boleh saya tanya satu hal?' kata Damar.
'Boleh.'
'Kalau suatu hari kau pergi karena batas ini — apa saya boleh tahu alasannya, atau kau pergi begitu saja?'
Anisa memikirkannya sungguh-sungguh, karena pertanyaan itu pantas dipikirkan.
'Saya akan bilang,' katanya akhirnya. 'Satu kalimat, di ruangan ini. Bukan lewat surat, bukan lewat Salsa, bukan lewat pengacara.' Ia menatapnya. 'Tapi saya tidak akan berdebat setelah kalimat itu. Saya bilang, lalu saya pergi.'
'Cukup adil.'
'Itu bukan soal adil,' kata Anisa. 'Itu soal saya tidak mau dibujuk waktu saya sedang paling lemah. Saya sudah pernah dibujuk tinggal, dulu. Yang membujuk waktu itu surat, bukan orang.'
Damar tidak menjawab apa-apa untuk itu.
Mereka duduk tanpa bicara beberapa menit setelah itu.
Lalu Anisa mengambil ponselnya dan mengetik pesan pendek ke Salsa: batas sudah saya sampaikan, dia terima, saya baik-baik saja.
Salsa membalas dalam sepuluh detik: aku simpan. Kalau berubah, kamu telepon jam berapa pun.
Anisa menaruh ponselnya menghadap ke bawah dan menyadari tangannya tidak gemetar sama sekali malam itu.
Sebelum naik, ia menambahkan satu halaman ke dalam mapnya, ditulis dengan tinta hitam dan diberi tanggal: batas permanen, disampaikan, diterima, tanpa syarat tambahan dari pihak mana pun.
Bukan untuk pengadilan. Untuk dirinya sendiri, supaya suatu hari nanti kalau ingatannya mulai melunak karena hari-hari yang enak, ada kertas yang tidak ikut melunak.