Jumat pagi langitnya cerah tipis, jenis cerah yang tidak bisa dipercaya di musim ini.
Ritualnya sama. Damar membaca dua baris di kulkas dengan suara pelan — hormati, jangan dendam lagi. Kertas PILIH masih di sana, sudah menguning di pinggir. REM NAUFAL di sebelahnya.
Jari Anisa kosong.
Di laci bawah ada map yang isinya sekarang jauh lebih tebal daripada setahun lalu: tujuh syarat lama yang sudah diarsipkan, catatan tentang batas permanen, catatan sekolah yang belum penuh, dan satu halaman yang cuma berisi kata nanti tanpa penjelasan apa pun. Cincin lama di laci kamar tamu.
Faris terkunci di kertas. Om masih dipantau dari jauh. Pintu masih pintu. Draf Naufal masih hidup.
Damar menyiapkan kopi dan meletakkannya di ujung meja yang jauh, seperti biasa, gerakan yang sudah tidak perlu dipikirkan lagi.
Payung disiapkan di foyer karena ramalan bilang hujan siang.
Tote Anisa berisi map observasi. Sepatu. Jas Damar di lengan. Bau telur dari dapur.
'Asin sedikit,' kata Damar.
'Saya tahu,' kata Anisa. 'Garamnya tumpah sedikit tadi.'
Bukan perang. Cuma mulut yang jujur soal telur.
Di foyer mereka berdiri seperti dua orang yang mau berangkat kerja, karena memang itu yang sedang terjadi.
'Selamat kerja,' kata Anisa. 'Angka. Bukan altar.'
'Selamat observasi,' kata Damar. 'Karena mau. Bukan karena pantas.' Ia memindahkan jasnya ke lengan yang lain. 'Kalau di sana kau takut, bilang. Pintu ada. Kos ada. Rem ada. Saya tidak akan memantau kau tiap jam — chat saja kalau perlu.'
'Dan Anda?'
'Saya pulang. Ada di rumah. Itu saja yang bisa saya janjikan tiap hari, dan saya lebih suka menjanjikan yang kecil.'
Anisa hampir tersenyum. Pendek, dan ia biarkan.
'Setiap hari,' katanya. 'Tapi saya mau ini jelas dulu: yang kita punya sekarang itu lantai, bukan garis selesai.'
'Lantai.'
'Masih ada Om. Masih ada draf resign di laci Naufal. Masih mungkin Anda hampir lagi suatu malam, dan masih mungkin saya gemetar lagi di depan gerbang sekolah.' Ia menyandang tasnya. 'Masih ada rem. Itu semua tidak hilang cuma karena pagi ini enak.'
'Tidak hilang,' kata Damar.
'Tapi pagi ini ada kopi, ada payung, ada dua orang yang berangkat kerja masing-masing, ada telur yang asin sedikit dan dibilang asin sedikit, dan ada dua baris di kulkas.' Ia menatap suaminya. 'Sudah. Setiap hari. Hafal?'
'Hafal,' kata Anisa lagi, karena Damar belum menjawab.
Damar menatapnya cukup lama.
Ia tidak berlutut. Tidak ada cincin yang dikeluarkan. Matanya basah sedikit, sewajarnya manusia, bukan sebagai pertunjukan untuk siapa pun.
'Sudah,' katanya. 'Setiap hari.'
Hari itu berjalan seperti hari kerja mana pun.
Anisa tiba di sekolah pukul tujuh kurang. Bu Ren memintanya memegang satu sesi penuh hari itu, bukan cuma mengamati, dan Anisa mengiyakan setelah berpikir tiga detik lebih lama dari yang diperlukan. Kapurnya tidak patah kali ini.
Hujan memang turun siang, seperti ramalan, dan payung di tasnya terpakai.
Damar menghabiskan paginya dengan angka dan siangnya dengan dua rapat yang membosankan. Sekali, seorang kepala divisi mencoba melempar pertanyaan tentang kasus yang dulu ramai itu di sela rapat. Damar menjawab bahwa itu urusan hukum yang sudah berjalan, lalu mengembalikan pembicaraan ke tenggat pengiriman.
Naufal, dari pintu, mencatat bahwa bosnya tidak perlu waktu untuk menahan diri lagi. Ia tidak menyampaikannya ke siapa-siapa.
Mereka pulang di jam yang berbeda. Anisa lebih dulu, dan ia yang menyalakan lampu teras.
Mereka keluar bersama, lalu berpisah di halaman ke dua mobil yang berbeda. Tidak ada yang berdiri di dekat gagang pintu menunggu yang lain berubah pikiran.
Malam itu mereka makan berdua di meja dapur. Anisa bercerita tentang sesi penuh yang ia pegang, dan tentang seorang anak yang bertanya apakah guru juga pernah salah. Damar mendengarkan sampai selesai, lalu bertanya apa jawabannya.
'Saya bilang: sering,' kata Anisa. 'Dan yang penting bukan tidak pernah salah. Yang penting mau memperbaiki.'
'Kau bilang itu ke anak kelas empat.'
'Saya bilang itu ke anak kelas empat,' katanya. 'Kalimat yang sama berlaku untuk orang dewasa, tapi orang dewasa biasanya lebih susah percaya.'
Damar tidak menjawab. Ia mencuci piringnya sendiri, lalu piring Anisa, dan Anisa membiarkannya karena malam ini memang gilirannya.
Rumah itu tetap rumah yang salah bentuk asalnya — dibangun dari kecelakaan di tol, dari berkas yang tercemar, dari sumpah seorang kakak di depan batu nisan yang salah sasaran. Itu tidak bisa dihapus, dan tidak ada yang berpura-pura bisa.
Yang berubah cuma satu: orang-orang di dalamnya berhenti menghukum, lalu mengulangi pilihan yang benar dalam hal-hal kecil — kopi di ujung meja yang jauh, payung yang disiapkan, kerja masing-masing, telur yang asin dan dibilang asin, dua baris di pintu kulkas, rem yang permanen, batas yang tidak dicabut, dan pulang ke rumah yang sama.
Suatu hari nanti mungkin cincin itu keluar lagi dari laci kamar tamu, dan mungkin juga tidak. Suatu hari nanti sekolah itu mungkin jadi penuh, dan yang 'nanti' mungkin akhirnya dibicarakan di meja ini. Tidak ada yang tahu, dan tidak ada yang memaksanya cepat.
Yang pasti cuma bagian yang paling kecil dan paling membosankan: besok pagi alarm akan berbunyi lagi, kopi akan diletakkan di ujung meja yang jauh lagi, dan dua baris di pintu kulkas akan dibaca lagi dengan suara pelan.
Sudah.
Setiap hari.
— TAMAT —