Malam itu diawali dengan biasa saja. Makan malam selesai pukul tujuh. Damar membaca laporan di kursinya. Anisa membuka materi sertifikasi di sofa dan menandai dua paragraf dengan stabilo kuning.
Selasa malam, televisi kecil di ruang keluarga menyala tanpa ada yang benar-benar menontonnya.
Beritanya biasa: kecelakaan di tol, satu mobil, ambulans, lampu biru, nama korban belum bisa disebutkan.
Bukan Dita. Bukan Faris. Bukan Anisa. Bukan siapa pun yang ada hubungannya dengan rumah ini.
Tapi kata tol masuk ke telinga Damar seperti bunyi logam lama yang jatuh di lantai.
Yang muncul di layar cuma potongan gambar yang biasa dipakai semua stasiun: garis polisi, aspal basah, lampu berputar, dan seorang reporter yang berdiri terlalu dekat ke lokasi.
Anisa duduk di sofa dengan map di pangkuan, membaca materi sertifikasi, dan ia melihatnya lebih dulu — bahu Damar yang mengeras, mulut yang menipis, dan mata yang berubah lebih cepat dari mulutnya. Mata seorang hakim yang sedang mencari terdakwa. Otot perang yang belum mati sepenuhnya.
'Damar,' kata Anisa pelan. Bukan tuduhan. 'Itu berita. Bukan kita. Rem.'
Damar berdiri terlalu cepat.
Tangannya sudah mengangkat remote sebelum ia sendiri sadar. Ia menahannya di udara, lalu meletakkannya di meja — bukan membanting, meletakkan — dan napasnya pendek-pendek.
'Aku tahu,' katanya. 'Bukan Dita. Aku tahu.' Suaranya naik. 'Tapi dunia tidak berhenti membunuh orang di jalan. Setiap malam ada. Dan aku—'
Ia menoleh ke arah Anisa.
Sekilas saja, tapi keduanya merasakannya. Wajah itu. Wajah yang tiga tahun lamanya mencari seseorang untuk dijatuhi hukuman.
Lalu Damar berhenti.
Ia mengangkat tangan ke sisi kepalanya sendiri dan berdiri diam beberapa detik.
'Tidak,' katanya. 'Bukan kau. Rem.' Napasnya masih pendek. 'Aku hampir—'
'Hampir,' kata Anisa.
Ia tetap duduk. Ia tidak berdiri, tidak mundur, tidak berlari ke tangga. Tapi di kepalanya semuanya sudah tersusun rapi seperti daftar: pintu di sebelah kiri, kunci mobil di mangkuk foyer, nomor Salsa di panggilan cepat, draf resign Naufal di laci kantor.
Punya daftar itu justru yang membuatnya bisa tetap duduk.
Ada beberapa detik di mana ruangan itu bisa berjalan ke dua arah, dan keduanya tahu itu.
Dulu, di ruangan yang sama, detik-detik seperti ini selalu berakhir dengan Anisa yang naik ke lantai atas sambil menghitung berapa hari kali ini akan berlangsung — dua hari, empat hari, seminggu penuh tanpa satu kata pun.
'Bilang,' katanya. 'Cepat. Jangan diam lalu menghukum dengan muka sampai besok. Pakai mulut.'
Damar duduk. Jauh — di kursi seberang, bukan mendekat ke sofa, karena mendekat malam ini akan menjadi klaim.
Bahunya gemetar.
'Aku hampir keras,' katanya. 'Aku hampir mulai mencari siapa yang salah di layar itu, padahal itu bukan urusan siapa pun di rumah ini. Aku hampir melihat kau dan teringat berkas palsu itu — seperti refleks, seperti orang tolol yang ototnya belum tahu perangnya sudah selesai.'
Ia menekan telapak tangannya ke lututnya sendiri.
'Aku berhenti. Maaf. Cepat, tanpa pidato.' Ia menelan. 'Berita di televisi bukan izin untuk dendam. Kau bukan altar. Dita adikku, dan kau orang lain sama sekali, dan aku tidak boleh menaruh kalian di kalimat yang sama lagi. Maaf.'
Anisa diam menghitung napasnya sendiri sampai delapan.
Otot takut itu ada di dadanya, jelas dan nyata. Tapi otot yang lain juga ada — yang memilih, yang sudah dilatih berbulan-bulan.
'Diterima,' katanya. 'Cepat, karena Anda juga cepat.'
'Terima kasih.'
'Jangan berterima kasih dulu.' Ia menutup mapnya. 'Ini yang perlu Anda dengar dengan jelas: kalau suatu malam Anda tidak berhenti — kalau Anda meneruskan wajah itu sampai ke mulut — saya lewat pintu itu malam itu juga. Bukan besok paginya.'
'Aku tahu.'
'Malam ini Anda berhenti. Itu saya catat.' Ia berdiri. 'Saya matikan televisinya.'
Ia mematikannya, dan ruangan itu langsung terasa lebih besar.
Di tangga, sebelum naik, ia berhenti satu langkah.
'Damar.'
'Ya.'
'Yang barusan itu berat buat saya juga.' Ia tidak menoleh ke belakang waktu mengatakannya. 'Saya duduk diam bukan karena saya kuat. Saya duduk diam karena saya sudah hitung dulu jalan keluarnya. Supaya Anda tahu bentuk sebenarnya.'
'Saya tahu sekarang.'
'Bagus.'
Di kamar tamu, Anisa duduk di tepi ranjang cukup lama sebelum mengganti baju. Ia memeriksa dirinya sendiri dengan pertanyaan yang sudah ia hafal: apakah aku takut, atau aku sedang mengarang takut karena terbiasa? Jawabannya malam itu: takut, sungguhan, dan tetap memilih tinggal.
Dua-duanya benar sekaligus, dan itu boleh.
Damar tetap duduk di kursinya cukup lama setelah Anisa naik.
Ia memikirkan satu hal yang tidak ia katakan malam itu, dan tidak akan ia katakan besok atau kapan pun: bahwa refleks tadi bukan datang dari duka. Refleks itu datang dari kebiasaan. Selama tiga tahun ia melatih dirinya untuk mencari orang yang bisa disalahkan setiap kali ada kabar buruk, dan otot yang dilatih selama itu tidak hilang hanya karena pemiliknya sudah tahu ia keliru.
Yang bisa ia lakukan cuma berhenti. Setiap kali. Termasuk pada malam yang tidak ada saksinya. Ia tidak menyalakan televisi lagi malam itu, dan keesokan paginya ia menyampaikannya sendiri ke Naufal dalam satu kalimat di telepon, sebelum ditanya.
'Semalam saya hampir.'
'Dan?'
'Berhenti. Dia yang bilang rem, saya berhenti.'
Naufal diam sebentar di seberang. 'Baik. Draf saya masih di laci. Kerja.'
Pagi itu di dapur tidak ada yang membahasnya lagi. Telur, kopi di ujung meja, dua baris di kulkas.
Yang berbeda cuma satu: Anisa yang lebih dulu bilang selamat pagi, dan Damar sempat berhenti mengaduk kopinya karena kaget mendengarnya.