Senin pagi ritualnya pendek.
Damar membaca dua baris di kulkas dengan suara pelan — hormati, jangan dendam lagi — dan Anisa mengangguk sekali. Bukan sebagai ujian yang harus dilalui, cuma sebagai hal yang dibaca dua orang sebelum berangkat.
Kertas PILIH sudah menipis di ujungnya. REM NAUFAL masih tebal. Jari Anisa kosong. Tujuh syarat lama sudah pindah ke map di laci bawah, tidak dibuang, hanya tidak lagi perlu ditempel.
Sekolah masih belum penuh. Tapi hari ini Anisa keluar rumah untuk pekerjaan yang ia pilih sendiri — bukan untuk membuktikan bahwa ia pantas.
Kopi Damar di ujung meja yang jauh, seperti biasa. Telur pagi itu asin sedikit lagi, dan Damar bilang begitu, dan Anisa menerimanya tanpa perang. Cuci, keringkan, giliran.
Jas Damar disampirkan di lengan. Tote Anisa berisi map materi sertifikasi dan buku catatan kelas.
Salsa yang menghubungkannya: observasi terbatas di sekolah dasar tempat Salsa mengajar sekarang. Tiga hari dalam dua minggu, mengamati kelas, membantu satu sesi. Bukan kontrak penuh. Bukan pengangkatan. Dan yang paling penting bagi Anisa — tidak diumumkan sebagai berita tentang istri seorang CEO yang kembali mengajar.
Di foyer, ia berhenti sebentar sebelum membuka pintu.
'Dulu saya kerja untuk lari dari rumah ini,' katanya. 'Anda tahu itu.'
'Saya tahu.'
'Hari ini saya keluar karena saya mau. Bukan karena Anda bilang saya pantas. Bukan karena ada orang board yang perlu dibuat terkesan. Bukan karena Ibu Anda kaku waktu terakhir datang.' Ia menyandang tasnya. 'Observasi saja. Salsa yang jaga. Saya tidak akan jadi iklan siapa pun. Hafal?'
'Hafal,' kata Damar. 'Mau. Privasi.'
'Dan Anda?'
'Saya mengurus angka.' Ia memasukkan tangannya ke saku. 'Saya tidak akan cerita ke staf. Saya tidak akan tiba-tiba jadi bos yang aneh baiknya cuma karena istri saya mulai keluar rumah lagi. Dan saya tidak akan menagih laporan hari ini malam nanti seolah itu tiket.'
'Bagus.'
'Kalau di sana kau takut, bilang. Pintu ada. Kos ada, kalau rumah ini terasa jadi kandang. Rem Naufal ada.' Ia menatapnya sebentar. 'Kerja saya bukan altar. Dan kerja kau bukan bukti ke dunia bahwa kau sudah sembuh.'
'Bukan bukti,' kata Anisa. 'Manusia.'
Ia membuka pintu, lalu berhenti lagi.
'Satu lagi. Kalau saya pulang gemetar nanti sore, itu bukan gagal. Itu otot yang belum terlatih. Jangan diperlakukan seperti kabar buruk.'
'Tidak akan.'
'Dan kalau saya perlu dijemput, saya kabari Salsa dulu. Bukan karena Anda tidak boleh menjemput. Karena prinsipnya begitu.'
'Prinsipnya begitu,' ulang Damar.
Ia berangkat pukul setengah tujuh, lebih pagi dari yang perlu, karena orang yang baru kembali bekerja selalu berangkat lebih pagi dari yang perlu.
Salsa menunggunya di pos satpam sekolah, memakai seragam guru dan wajah yang berusaha keras terlihat santai.
'Kelas empat B,' katanya sambil menyerahkan kartu tamu. 'Wali kelasnya namanya Bu Ren. Dia tidak tahu apa-apa soal berita, dan aku tidak akan menceritakannya. Kalau ada yang tanya, kamu peserta program sertifikasi. Titik.'
'Itu memang benar.'
'Makanya aku pakai itu.'
Hari itu berjalan tanpa kejadian yang layak diceritakan. Anisa duduk di belakang kelas empat selama dua jam, mencatat, dan sekali diminta membantu membagikan lembar kerja. Seorang guru bertanya dari mana ia mendapat pelatihan sertifikasinya. Tidak ada yang bertanya tentang hal lain.
Ada satu momen kecil yang ia simpan untuk dirinya sendiri. Menjelang jam terakhir, seorang anak laki-laki di barisan tengah tidak bisa mengerjakan soal pembagian dan mulai menutup bukunya dengan wajah yang Anisa kenal betul — wajah anak yang sudah memutuskan bahwa dirinya bodoh.
Anisa berjongkok di samping mejanya, tidak mengoreksi apa pun dulu, dan bertanya bagian mana yang membuatnya berhenti.
Anak itu menunjuk. Anisa menjelaskan satu langkah saja, lalu menyuruhnya mencoba sendiri sisanya.
Waktu jawabannya benar, anak itu mengangkat bukunya sendiri tanpa disuruh.
Bu Ren melihatnya dari depan kelas dan tidak berkomentar apa pun sampai bel, lalu berkata singkat bahwa Anisa boleh datang lagi Kamis kalau mau.
Di kantor, Damar menyelesaikan rapat kuartal dan menolak satu usul yang menyebut nama istrinya sebagai bagian dari citra perusahaan, dengan satu kalimat, tanpa marah.
Naufal mencatat penolakan itu dan tidak melaporkannya ke rumah, karena hal-hal semacam itu memang tidak perlu dilaporkan sebagai jasa.
Yang ia rasakan justru sesuatu yang ganjil: rindu. Bukan rindu pada gedung sekolahnya yang dulu, dan bukan rindu pada masa sebelum kecelakaan itu. Rindu pada dirinya sendiri yang berdiri di depan kelas dan tahu persis sedang mengerjakan apa.
Ia sempat menuliskan itu di halaman terakhir buku catatannya, satu kalimat, lalu menutupnya.
Anisa pulang pukul empat. Ia tidak gemetar. Ia lelah, jenis lelah yang menyenangkan, dan ia tidur setengah jam di sofa dengan map masih terbuka di pangkuan.
Anisa terbangun sendiri setengah jam kemudian, membereskan mapnya, dan mengirim satu pesan ke Salsa: hari ini baik. Anak yang tadi akhirnya bisa. Salsa membalas dengan tiga tanda seru dan tidak menambahkan apa-apa lagi, yang bagi Salsa sudah termasuk pidato.
Damar pulang pukul delapan dan tidak membangunkannya. Ia menaruh selimut tipis di kaki sofa, dari jarak, lalu masuk ke ruang kerja dan menutup pintunya pelan.
Ketika akhirnya mereka bertemu di dapur pukul sembilan, satu-satunya pertanyaan yang Damar ajukan adalah apakah Anisa mau makan sekarang atau nanti.
Ia tidak bertanya bagaimana harinya. Bukan karena tidak ingin tahu — karena pertanyaan itu, kalau diajukan setiap malam oleh orang yang dulu memeriksa segala hal, bisa berubah bentuk jadi laporan wajib.
Anisa yang akhirnya bercerita sendiri, sedikit, sambil memanaskan sayur.