Kamis pagi Anisa memasak, dan itu bukan peristiwa.
Nasi, telur, sayur bening. Bukan menu penebus. Bukan menu permintaan maaf. Bukan menu untuk menandai sumpah apa pun. Bukan menu yang dulu dimasak ibu Damar dengan kaku di dapur ini, dan jelas bukan menu untuk menjamu orang seperti Chandra.
Ia memasak karena lapar. Itu saja alasannya, dan butuh waktu lebih dari setahun sampai alasan sesederhana itu bisa berdiri sendiri di rumah ini.
Garamnya ia takar dengan sadar, dan sambil menakar ia teringat malam ketika Salsa dan Naufal makan di meja ini dan Naufal bilang telurnya asin — dan tidak ada yang marah, tidak ada yang dihukum, tidak ada yang harus minta maaf sampai pagi.
Damar berdiri di dapur dengan kopinya di ujung meja yang jauh. Ia membaca lembar di pintu kulkas dengan suara pelan, hampir seperti orang membaca pengumuman untuk dirinya sendiri.
'Hormati. Jangan dendam lagi.'
Dua baris itu yang sekarang tinggal di magnet, menggantikan tujuh syarat yang sudah dipindahkan ke dalam map. Di sebelahnya masih menempel dua kertas kecil: PILIH, dan REM NAUFAL.
Jari Anisa kosong. Cincin itu ada di laci kamar tamu dan hari ini tidak dipanggil.
Mereka makan di meja, dengan jarak yang sudah biasa — bukan lima sentimeter yang tegang seperti dulu, bukan juga menempel untuk membuktikan sesuatu kepada siapa pun.
Damar mencicip lebih dulu.
'Asin sedikit,' katanya.
Anisa mengangkat wajahnya. 'Terima kasih.' Lalu, karena otot lama belum sepenuhnya mati, ia bertanya juga. 'Bukan perang?'
'Bukan perang.' Damar meletakkan sendoknya sebentar. 'Cuma asin. Saya lapar, saya makan, dan saya bilang apa adanya.' Ia menatap piringnya. 'Dulu saya diam kalau ada yang tidak enak, lalu saya menghukum dengan muka sepanjang hari. Sekarang saya pakai mulut. Bedanya jauh, dan bedanya baru saya mengerti belakangan.'
'Dulu Anda pernah bilang asin sebagai cambuk.'
'Pernah. Beberapa kali.' Ia tidak berpidato tentang itu. 'Maaf. Sudah. Kita kerja hari ini.'
Anisa menerima kalimat sependek itu, dan justru karena pendek ia menerimanya.
'Pintu ruang kerja saya terbuka kalau kau lewat,' lanjut Damar. 'Tidak wajib lewat.' Ia meneruskan makan. 'Dan saya tidak akan menagih senyum karena telur. Saya juga tidak akan memuji kau sebagai istri yang berubah cuma karena pagi ini tenang.'
'Kenapa tidak?'
'Karena pujian di rumah ini pernah jadi tali,' katanya. 'Saya tahan dulu sampai saya yakin pujian saya tidak menarik apa-apa.'
Anisa mengangguk pelan. Itu jawaban yang benar, dan ia tidak akan mengakuinya keras-keras.
'Saya yang cuci,' katanya kemudian. 'Anda yang keringkan. Giliran, bukan penebusan piring.'
'Giliran.'
Mereka mengerjakannya berdampingan di wastafel, dan itu memakan waktu delapan menit, dan tidak satu pun dari delapan menit itu terasa seperti upacara.
'Sore nanti saya ke taman lima belas menit,' kata Anisa sambil menyerahkan piring terakhir. 'Setelah itu pulang. Malam saya masak lagi kalau lapar. Kalau tidak lapar, kita makan apa yang ada.'
'Baik.'
'Siang saya baca materi sertifikasi.' Ia mematikan keran. 'Bukan karena Anda pernah bilang saya harus kerja supaya pantas. Karena saya mau. Hafal bedanya?'
'Hafal,' kata Damar. 'Mau. Bukan pantas.'
'Dan kalau siang nanti saya tiba-tiba takut waktu berdiri di depan panci — saya bilang. Saya tidak akan pura-pura lapar supaya kelihatan baik-baik saja.'
'Bilang saja.'
Siang itu ia benar-benar membaca materi sertifikasinya di meja makan, dengan dua stabilo dan buku catatan, seperti orang yang sedang belajar untuk ujian. Ada dua bab tentang penanganan kelas yang ia lewati karena sudah hafal, dan satu bab tentang laporan penilaian yang ia baca tiga kali karena aturannya berubah sejak terakhir ia mengajar.
Pukul dua ia berdiri untuk membuat kopi, dan berhenti di depan kompor.
Panci yang tadi pagi ia pakai masih di rak pengering. Untuk beberapa detik, tanpa sebab yang jelas, dadanya mengencang — sisa dari bulan-bulan ketika memasak di rumah ini berarti membuktikan sesuatu, dan tidak memasak berarti menantang sesuatu.
Ia tidak berpura-pura. Ia mengirim pesan ke Damar di kantor, tiga kata: takut panci sebentar.
Balasannya datang enam menit kemudian, sama pendeknya: dicatat. tidak usah masak. saya bawa makanan pulang.
Anisa membacanya, lalu memasak juga sore itu — bukan karena diminta, dan bukan untuk membantah. Karena rasa takutnya lewat, dan karena ia memang lapar.
Sore harinya ia ke taman kompleks selama lima belas menit, seperti yang ia bilang. Ia duduk di bangku dekat lapangan, melihat dua anak berebut bola, dan tidak melakukan apa-apa selain itu. Lima belas menit itu bukan terapi dan bukan hadiah. Itu cuma lima belas menit yang jadi miliknya.
Anisa mengeringkan tangannya. Di luar, tetangga menyalakan mesin motor. Di dinding ruang keluarga, foto Dita tetap di tempatnya, tidak dipindah-pindah lagi seperti barang.
Sekolah masih belum penuh. Yang 'nanti' masih tetap nanti, dan tidak ada yang memaksanya jadi hari ini. Faris sudah terkunci di kertas. Om masih dipantau dari jauh. Draf pengunduran diri Naufal masih hidup di lacinya sendiri, sebagai rem yang tidak pernah dicabut.
Malamnya Damar pulang membawa bungkusan makanan yang tadi ia janjikan, dan mendapati meja sudah terisi masakan Anisa.
Ia berdiri sebentar di ambang dapur dengan bungkusan itu di tangan.
'Saya jadi masak,' kata Anisa. 'Takutnya lewat.'
'Berarti kita makan dua-duanya.' Damar meletakkan bungkusannya di meja. 'Yang saya bawa dimakan besok.'
Tidak ada yang dibahas lebih jauh dari itu. Pesan tiga kata siang tadi tidak diungkit sebagai kemajuan, tidak dijadikan bukti apa pun, dan tidak dicatat siapa-siapa selain di kepala dua orang.
Pintunya masih pintu. Dan pagi itu tidak ada satu pun skor yang ditempel di dinding rumah ini.