Anisa tidak menunggu untuk menghadapi Damar dengan bukti kebenaran itu. Ia tidak menunggu untuk membuktikan bahwa ia tidak bersalah atas kecelakaan yang membunuh Dita. Ia tidak menunggu untuk membuktikan bahwa Damar salah tentangnya.
Anisa menghadapi Damar malam itu juga, ketika Damar pulang dari kantor dengan wajah yang lelah, dengan tatapan yang dingin, dengan tatapan yang sudah tidak lembut lagi.
'Damar, kita perlu bicara,' kata Anisa dengan suara yang teguh ketika Damar masuk ke ruang tamu dengan langkah yang lelah.
Damar menatapnya dengan tatapan yang dingin, dengan tatapan yang sudah tidak lembut lagi, dengan tatapan yang sudah tidak tulus lagi. 'Aku tidak ingin bicara denganmu, Anisa. Aku tidak ingin mendengar apa pun yang kau katakan.'
'Kau harus mendengar saya, Damar. Kau harus mendengar kebenaran tentang kecelakaan itu, tentang apa yang sebenarnya terjadi malam itu, tentang bagaimana saya tidak bersalah atas kecelakaan yang membunuh adikmu.' Anisa menatapnya dengan tatapan yang teguh, dengan tatapan yang penuh dengan kebenaran yang tidak bisa disangkal.
Damar tidak berkata apa-apa untuk waktu yang lama. Ia hanya menatap Anisa dengan tatapan yang dingin, dengan tatapan yang sudah tidak lembut lagi, dengan tatapan yang sudah tidak tulus lagi.
'Aku tidak ingin mendengar kebenaran darimu, Anisa. Aku tidak ingin mendengar bahwa kau tidak bersalah atas kecelakaan itu. Aku tidak ingin mendengar bahwa kau tidak mengemudi dalam keadaan mabuk malam itu.' Damar menatapnya dengan tatapan yang dingin, dengan tatapan yang penuh dengan dendam yang sudah mengakar. 'Aku hanya ingin kau menderita untuk apa yang sudah kau lakukan pada adikku. Aku hanya ingin kau membayar untuk kecelakaan yang membunuh adikku.'
Anisa tidak bisa berkata apa-apa untuk waktu yang lama. Ia hanya menatap Damar, dan untuk pertama kalinya, ia melihat bahwa Damar tidak ingin mendengar kebenaran itu. Damar tidak ingin mendengar bahwa Anisa tidak bersalah. Damar tidak ingin mendengar bahwa Anisa tidak mengemudi dalam keadaan mabuk malam itu.
Damar hanya ingin Anisa menderita untuk kesalahan yang tidak pernah ia lakukan.
'Aku punya bukti bahwa saya tidak bersalah, Damar. Aku punya saksi yang melihat kecelakaan itu malam itu, yang melihat bahwa saya tidak mengemudi dalam keadaan mabuk, yang melihat bahwa saya tidak menyebabkan kecelakaan itu.' Anisa menatapnya dengan tatapan yang teguh, dengan tatapan yang penuh dengan kebenaran yang tidak bisa disangkal. 'Aku punya bukti bahwa saya tidak bersalah, Damar. Dan kau harus mendengarnya.'
Damar tidak berkata apa-apa untuk waktu yang lama. Ia hanya menatap Anisa dengan tatapan yang dingin, dengan tatapan yang sudah tidak lembut lagi, dengan tatapan yang sudah tidak tulus lagi.
'Aku tidak ingin mendengar bukti itu, Anisa. Aku tidak ingin mendengar saksi itu. Aku tidak ingin mendengar bahwa kau tidak bersalah atas kecelakaan itu.' Damar menatapnya dengan tatapan yang dingin, dengan tatapan yang penuh dengan dendam yang sudah mengakar. 'Aku hanya ingin kau menderita untuk apa yang sudah kau lakukan pada adikku. Aku hanya ingin kau membayar untuk kecelakaan yang membunuh adikku.'
Anisa tidak bisa berkata apa-apa untuk waktu yang lama. Ia hanya menatap Damar, dan untuk pertama kalinya, ia melihat bahwa Damar tidak ingin mendengar kebenaran itu. Damar tidak ingin mendengar bahwa Anisa tidak bersalah. Damar tidak ingin mendengar bahwa Anisa tidak mengemudi dalam keadaan mabuk malam itu.
Damar hanya ingin Anisa menderita untuk kesalahan yang tidak pernah ia lakukan.
'Damar, kau tidak bisa terus membenci saya untuk sesuatu yang tidak pernah saya lakukan,' kata Anisa dengan suara yang pelan, dengan air mata yang mengalir di wajahnya. 'Kau tidak bisa terus menghukum saya untuk kecelakaan yang tidak pernah saya sebabkan. Kau tidak bisa terus menghancurkan saya dari dalam untuk kesalahan yang tidak pernah saya lakukan.'
Damar tidak berkata apa-apa untuk waktu yang lama. Ia hanya menatap Anisa dengan tatapan yang dingin, dengan tatapan yang sudah tidak lembut lagi, dengan tatapan yang sudah tidak tulus lagi.
'Aku bisa, Anisa. Aku bisa terus membencimu untuk sesuatu yang tidak pernah kau lakukan. Aku bisa terus menghukummu untuk kecelakaan yang tidak pernah kau sebabkan. Aku bisa terus menghancurkanmu dari dalam untuk kesalahan yang tidak pernah kau lakukan.' Damar menatapnya dengan tatapan yang dingin, dengan tatapan yang penuh dengan dendam yang sudah mengakar. 'Dan aku tidak akan berhenti sampai kau hancur seperti adikku hancur.'
Anisa tidak bisa berkata apa-apa untuk waktu yang lama. Ia hanya menatap Damar, dan untuk pertama kalinya, ia melihat bahwa Damar tidak ingin mendengar kebenaran itu. Damar tidak ingin mendengar bahwa Anisa tidak bersalah. Damar tidak ingin mendengar bahwa Anisa tidak mengemudi dalam keadaan mabuk malam itu.
Damar hanya ingin Anisa menderita untuk kesalahan yang tidak pernah ia lakukan.
Dan itu menghancurkan Anisa dari dalam dengan cara yang paling kejam.