Anisa tidak bisa tinggal di mansion itu lagi. Ia tidak bisa tinggal dengan pria yang tidak ingin mendengar kebenaran, dengan pria yang tidak ingin mempercayainya, dengan pria yang hanya ingin menghancurkannya dari dalam untuk kesalahan yang tidak pernah ia lakukan.
Anisa memutuskan untuk pergi.
Ia mengemas barang-barangnya di kamar tidur itu dengan tangan yang gemetar, dengan air mata yang mengalir di wajahnya, dengan hati yang hancur. Ia tidak membawa banyak — hanya beberapa pakaian dan buku-bukunya. Ia tidak membawa apa pun yang dibelikan Damar untuknya. Ia tidak membawa apa pun yang mengingatkannya pada pernikahan yang salah ini.
Ia menulis surat untuk Damar, surat yang singkat dan jelas:
'Damar,
Aku pergi. Aku tidak bisa tinggal di sini lagi, tidak setelah kau tidak ingin mendengar kebenaran tentang kecelakaan itu. Aku tidak bisa tinggal dengan pria yang tidak ingin mempercayai saya, dengan pria yang hanya ingin menghancurkan saya dari dalam untuk kesalahan yang tidak pernah saya lakukan.
Aku tidak bersalah atas kecelakaan yang membunuh adikmu, Damar. Aku tidak mengemudi dalam keadaan mabuk malam itu. Aku tidak menyebabkan kecelakaan itu. Aku tidak bersalah.
Aku punya bukti bahwa saya tidak bersalah, dan aku akan membuktikannya pada semua orang. Aku akan membuktikan bahwa saya tidak bersalah, bahwa saya tidak mengemudi dalam keadaan mabuk, bahwa saya tidak menyebabkan kecelakaan yang membunuh adikmu.
Maaf jika aku mengecewakanmu. Tapi aku tidak bisa tinggal dengan pria yang tidak ingin mempercayai saya.
Anisa'
Anisa meletakkan surat itu di meja di kamar tidurnya, di samping cincin pernikahan yang Damar berikan padanya. Ia menatap cincin itu untuk waktu yang lama, memikirkan semua yang sudah terjadi, semua yang sudah ia rasakan, semua yang sudah hancur.
Lalu ia mengambil tasnya dan berjalan keluar dari kamar tidur itu, menuruni tangga, menuju pintu depan.
Tapi Damar sudah ada di sana, berdiri di depan pintu dengan wajah yang gelap dan mata yang penuh dengan sesuatu yang tidak bisa dijelaskan.
'Kau mau pergi ke mana?' tanya Damar, suaranya rendah dan berbahaya.
Anisa berhenti, tas di tangannya. 'Saya pergi, Damar. Saya tidak bisa tinggal di sini lagi dengan pria yang tidak ingin mempercayai saya.'
'Kau tidak bisa pergi.' Damar berjalan ke arahnya, langkahnya cepat, dan berhenti di depannya. 'Kau tidak bisa meninggalkanku seperti ini. Kau tidak bisa meninggalkanku sebelum kau membayar untuk apa yang sudah kau lakukan pada adikku.'
'Saya tidak melakukan apa-apa pada adikmu, Damar. Saya tidak mengemudi dalam keadaan mabuk malam itu. Saya tidak menyebabkan kecelakaan yang membunuh adikmu. Saya tidak bersalah.' Anisa menatapnya dengan tatapan yang teguh, dengan air mata yang mengalir di wajahnya. 'Dan saya akan membuktikannya pada semua orang. Saya akan membuktikan bahwa saya tidak bersalah.'
Damar tidak berkata apa-apa untuk waktu yang lama. Ia hanya menatap Anisa, dan untuk pertama kalinya, Anisa melihat sesuatu yang tidak pernah ia lihat di mata Damar: keraguan. Keraguan yang mendalam. Keraguan yang hancur.
'Aku tidak ingin kau pergi, Anisa,' kata Damar akhirnya, suaranya serak. 'Aku tidak ingin kau pergi sebelum aku tahu kebenaran tentang kecelakaan itu, sebelum aku tahu apakah kau bersalah atau tidak.'
Anisa tidak bisa berkata apa-apa untuk waktu yang lama. Ia hanya menatap Damar, dan untuk pertama kalinya, ia melihat bahwa Damar tidak hanya ingin menghancurkannya dari dalam. Damar juga ingin tahu kebenaran itu. Damar juga ingin tahu apakah Anisa bersalah atau tidak.
'Saya tidak bersalah, Damar,' kata Anisa pelan, dengan air mata yang mengalir di wajahnya. 'Saya tidak bersalah atas kecelakaan yang membunuh adikmu. Dan saya akan membuktikannya pada semua orang.'
Damar tidak berkata apa-apa untuk waktu yang lama. Ia hanya menatap Anisa, dan untuk pertama kalinya, Anisa melihat bahwa Damar tidak hanya ingin menghancurkannya dari dalam. Damar juga ingin tahu kebenaran itu. Damar juga ingin tahu apakah Anisa bersalah atau tidak.
'Kau tidak bisa pergi sebelum aku tahu kebenaran itu, Anisa. Kau tidak bisa pergi sebelum aku tahu apakah kau bersalah atau tidak.' Damar menatapnya dengan tatapan yang dalam, dengan keraguan yang masih ada, dengan keinginan untuk tahu kebenaran yang masih berjuang. 'Kau harus tinggal sampai aku tahu kebenaran itu.'
Anisa tidak tahu harus berkata apa. Ia hanya menatap Damar, dan untuk pertama kalinya, ia melihat bahwa Damar tidak hanya ingin menghancurkannya dari dalam. Damar juga ingin tahu kebenaran itu. Damar juga ingin tahu apakah Anisa bersalah atau tidak.
Anisa tidak tahu apakah ia harus tinggal atau pergi. Anisa tidak tahu apakah ia harus membuktikan bahwa ia tidak bersalah atau tidak. Anisa tidak tahu apakah ia harus mencoba membuat Damar mempercayainya atau tidak.
Tapi Anisa tahu satu hal: ia sudah jatuh cinta pada Damar. Ia sudah jatuh cinta pada pria yang tidak ingin mempercayainya, pada pria yang hanya ingin menghancurkannya dari dalam, pada pria yang tidak mencintainya dengan sepenuh hati.
Dan itu menghancurkan Anisa dari dalam dengan cara yang paling kejam.
Anisa memutuskan untuk tinggal. Ia memutuskan untuk tinggal untuk membuktikan bahwa ia tidak bersalah. Ia memutuskan untuk tinggal untuk membuat Damar mempercayainya. Ia memutuskan untuk tinggal untuk membuktikan bahwa cinta mereka nyata.
Tapi Anisa tidak tahu apakah itu akan cukup. Anisa tidak tahu apakah Damar akan pernah mempercayainya. Anisa tidak tahu apakah Damar akan pernah mencintainya dengan sepenuh hati.
Anisa hanya tahu bahwa ia sudah jatuh cinta pada Damar, dan ia tidak bisa pergi begitu saja.
Dan itu menghancurkan Anisa dari dalam dengan cara yang paling kejam.