Anisa tidak menyerah setelah Damar terus menyiksanya secara emosional. Anisa tidak berhenti mencoba membuktikan bahwa ia tidak bersalah atas kecelakaan yang membunuh Dita. Anisa tidak berhenti mencoba membuktikan bahwa ia tidak mengemudi dalam keadaan mabuk, bahwa ia tidak menyebabkan kecelakaan itu, bahwa ia tidak bersalah.
Anisa mulai menyelidiki kecelakaan itu sendiri. Ia mulai mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi malam itu, apa yang sebenarnya menyebabkan kecelakaan itu, siapa yang sebenarnya bersalah atas kecelakaan itu.
Anisa tidak tahu bahwa Damar sudah menghancurkan semua bukti yang bisa membuktikan bahwa Anisa tidak bersalah. Anisa tidak tahu bahwa Damar sudah menggunakan kekuasaannya untuk membuat semua orang percaya bahwa Anisa yang bersalah, bahwa Anisa yang mengemudi dalam keadaan mabuk, bahwa Anisa yang menyebabkan kecelakaan yang membunuh Dita.
Tapi Anisa tidak menyerah. Anisa tidak berhenti mencari kebenaran.
Suatu hari, Anisa menemukan seorang saksi yang melihat kecelakaan itu malam itu. Saksi itu adalah seorang pria tua yang sedang berjalan di jalan tol malam itu, yang melihat kecelakaan itu dengan mata kepalanya sendiri, yang tahu bahwa Anisa tidak bersalah.
'Anisa tidak mengemudi dalam keadaan mabuk malam itu,' kata pria tua itu dengan suara yang teguh ketika Anisa menemukannya di rumahnya di pinggiran kota. 'Anisa tidak menyebabkan kecelakaan itu. Anisa tidak bersalah.'
Anisa tidak bisa bernapas untuk waktu yang lama. Ia hanya menatap pria tua itu, dan untuk pertama kalinya, ia melihat bahwa ada seseorang yang percaya padanya, ada seseorang yang tahu bahwa ia tidak bersalah, ada seseorang yang bisa membuktikan bahwa ia tidak bersalah.
'Anda melihat kecelakaan itu malam itu?' tanya Anisa dengan suara yang pelan, dengan air mata yang mengalir di wajahnya. 'Anda melihat bahwa saya tidak mengemudi dalam keadaan mabuk? Anda melihat bahwa saya tidak menyebabkan kecelakaan itu?'
'Aku melihat semuanya, Nona. Aku melihat bahwa kau tidak mengemudi dalam keadaan mabuk malam itu. Aku melihat bahwa kau tidak menyebabkan kecelakaan itu. Aku melihat bahwa kau tidak bersalah.' Pria tua itu menatapnya dengan tatapan yang teguh, dengan tatapan yang penuh dengan kebenaran yang tidak bisa disangkal. 'Dan aku akan bersaksi untukmu kalau kau butuh.'
Anisa tidak bisa berkata apa-apa untuk waktu yang lama. Ia hanya menatap pria tua itu, dan untuk pertama kalinya, ia merasa bahwa ia tidak sendirian lagi. Bahwa ada seseorang yang percaya padanya. Bahwa ada seseorang yang tahu bahwa ia tidak bersalah.
'Terima kasih,' kata Anisa akhirnya, dengan suara yang serak, dengan air mata yang mengalir di wajahnya. 'Terima kasih karena percaya pada saya. Terima kasih karena tahu bahwa saya tidak bersalah.'
Pria tua itu tidak berkata apa-apa untuk waktu yang lama. Ia hanya menatap Anisa dengan tatapan yang teguh, dengan tatapan yang penuh dengan kebenaran yang tidak bisa disangkal. 'Kau tidak bersalah, Nona. Kau tidak bersalah atas kecelakaan itu. Dan aku akan bersaksi untukmu kalau kau butuh.'
Anisa tidak tahu apa yang harus ia lakukan dengan kebenaran itu. Anisa tidak tahu apa yang harus ia rasakan dengan kebenaran itu. Anisa hanya tahu bahwa ia tidak bersalah atas kecelakaan itu, bahwa ia tidak mengemudi dalam keadaan mabuk, bahwa ia tidak menyebabkan kecelakaan yang membunuh Dita.
Anisa memiliki bukti kebenaran sekarang. Anisa memiliki saksi yang bisa membuktikan bahwa ia tidak bersalah. Anisa memiliki cara untuk membuktikan bahwa Damar salah tentangnya.
Tapi Anisa tidak tahu apakah Damar akan percaya padanya. Anisa tidak tahu apakah Damar akan mau mendengarkan kebenaran itu. Anisa tidak tahu apakah Damar akan mau menerima bahwa Anisa tidak bersalah.
Tapi Anisa harus mencoba. Anisa harus membuktikan bahwa ia tidak bersalah. Anisa harus membuktikan bahwa Damar salah tentangnya.
Dan untuk pertama kalinya, Anisa merasa bahwa ia tidak sendirian lagi dengan cara yang benar.
Dan untuk pertama kalinya, Anisa merasa bahwa ia bisa membuktikan bahwa ia tidak bersalah.