Izin dari Ibu sudah didapat seminggu sebelumnya, dan izin itu datang dengan syaratnya sendiri.
Paginya mendung. Angin kecil, rumput basah sisa hujan semalam. Bukan konvoi — satu mobil biasa, dan bunga kecil yang dibeli di depan pintu masuk kompleks, bukan karangan dengan pita nama perusahaan.
Anisa sempat ragu sampai semalam sebelumnya. Ia bertanya sekali, jujur, apakah kehadirannya di sana justru akan menambah luka orang lain — dan Damar menjawab bahwa ibunya sendiri yang mengizinkan, dengan syarat, dan syarat itu akan dijalankan apa adanya.
'Kalau saya berdiri di situ dan Ibu berubah pikiran,' kata Anisa waktu itu, 'saya menunggu di mobil. Tanpa dibahas.'
'Tanpa dibahas.'
Anisa memakai baju gelap yang biasa. Ia melepas cincin statusnya pagi itu dan menaruhnya di laci, karena hari ini bukan hari untuk memakai benda yang bisa dibaca orang sebagai klaim.
Damar juga sederhana. Tanpa jas.
Naufal mengantar sampai jalan kompleks dan berhenti di situ. Ia tidak ikut sampai ke batu nisan. Satu orangnya berdiri jauh di jalan setapak, cukup jauh untuk tidak terlihat seperti pengawalan.
Ibu sudah lebih dulu ada di sana, berdiri kaku di depan nisan dengan tas kecil di tangan. Ia menoleh sekali ketika mendengar langkah, lalu mengangguk ke arah belakang Damar.
Itu izinnya. Pojok boleh. Satu langkah lebih jauh dari batu.
Anisa berhenti di tempat yang ditunjuk anggukan itu dan tidak maju lagi.
Damar membawa bunganya ke depan. Ia meletakkannya, lalu berdiri lama tanpa bicara.
Nama adiknya ada di batu itu. Umur yang tidak akan bertambah lagi ada di bawahnya. Tanahnya sudah lama rata.
Ketika ia akhirnya bicara, suaranya pelan — untuk adiknya, bukan untuk siapa pun yang merekam, dan memang tidak ada yang merekam.
'Dita. Aku salah orang.'
Angin bergerak sekali di rumput.
'Faris yang menyetir malam itu. Om yang mengarahkan semuanya. Dan perempuan yang aku hukum tiga tahun ini adalah orang yang berhenti di tol untuk menolong.' Ia menelan. 'Aku memakan hidupnya dengan berkas yang kotor. Aku percaya pada berkas itu karena aku ingin percaya. Aku menikahinya sebagai hukuman. Aku memecatnya dari pekerjaannya. Aku mengusirnya. Aku mengunci rekeningnya. Aku menyodorkan surat cerai sebagai cambuk, berkali-kali.'
Ia berhenti agak lama.
'Aku sudah mendengar. Aku sudah mengejar yang benar. Faris kalah di kertas, dan Om menyusul lewat jalurnya sendiri.' Ia menatap nama itu. 'Aku tidak menggantikan kau dengan dia. Kau adikku. Dia orang yang salah aku makan. Dua-duanya tidak bisa ditukar.'
Suaranya turun lagi.
'Aku minta maaf di batu ini bukan supaya kau memaafkan aku dari bawah sana. Aku tidak berhak minta itu. Aku minta maaf karena aku salah sasaran, dan karena aku memakai fotomu sebagai perisai perang selama tiga tahun.' Ia menarik napas. 'Namamu tidak akan aku jual di panggung mana pun. Dan dia akan aku perlakukan sebagai orang, bukan sebagai bayaran dosaku. Itu saja. Aku pulang. Aku kerja.'
Ia tidak menangis. Ibunya juga tidak.
Anisa diam di pojoknya. Tidak maju, tidak menunduk berlebihan, tidak ada air mata untuk kamera yang tidak ada. Ia berdiri menghormati seseorang yang tidak pernah ia bunuh, dan itu bukan hal yang mudah dijelaskan kepada siapa pun.
Bau tanah basah naik pelan.
Di pojoknya, Anisa mendapati dirinya memikirkan malam itu lagi — bukan versi berkas, versi yang sebenarnya. Lampu yang tiba-tiba, bunyi yang salah, keputusannya menepi padahal ia sedang buru-buru pulang mengajar les. Bagaimana ia mengeluarkan ponselnya dengan tangan gemetar untuk menelepon ambulans. Bagaimana orang-orang mulai berkumpul.
Ia tidak pernah melihat wajah perempuan di dalam mobil itu dengan jelas.
Ia melihat namanya sekarang, di batu, dari jarak beberapa langkah.
Maaf, katanya di dalam kepalanya, dan ia tahu persis bahwa itu bukan permintaan maaf — cuma satu-satunya kalimat yang tersedia.
Ibunya sempat berjongkok sebentar dan membersihkan daun kering yang menempel di sudut nisan dengan tangannya sendiri, lalu berdiri lagi.
Ibu menoleh sekali ke arah pojok. Pendek.
'Pojok itu benar,' katanya kepada Damar, bukan kepada Anisa. 'Jangan pegang dia di sini. Jangan ada pidato tambahan. Sudah.'
Damar tidak memegang. Tidak ada pidato tambahan.
Anisa mengangguk ke arah Ibu dari jaraknya — bukan pelukan, bukan panggilan 'Ma', bukan adegan keluarga yang utuh kembali. Sekadar anggukan seorang tamu yang tahu batas ruangannya.
Ibu mengangguk balik. Sekali. Kaku.
Sebelum berpisah di jalan setapak, Ibu berhenti sekali dan berbicara kepada anaknya dengan suara yang lebih pelan dari sebelumnya.
'Kamu tidak berlutut tadi.'
'Tidak, Ma.'
'Bagus. Berlutut itu buat orang yang mau dilihat.' Ia membetulkan tali tasnya. 'Yang kamu bilang di batu tadi — jangan diulang tiap bulan. Sekali cukup. Sisanya dikerjakan.'
'Sisanya dikerjakan,' kata Damar.
Mereka pulang dalam tiga mobil yang berbeda arah: Ibu ke rumah lamanya, Naufal ke kantor, dan dua orang itu ke rumah yang masih salah bentuk.
Hujan turun tipis waktu mereka sampai di parkiran, jenis hujan yang tidak cukup untuk membuka payung.
Di mobil Anisa akhirnya bicara.
'Terima kasih tidak menyuruh saya maju.'
'Kau memang tidak perlu maju,' kata Damar.
Sisa perjalanan diam, dan diamnya kali ini bukan diam yang berat.