Surat tawaran itu sudah lama ada di laci kamar tamu, di bawah beberapa dokumen lain, sengaja tidak dibuang dan sengaja tidak dijawab.
Anisa mengeluarkannya pagi itu. Ia mengetik balasan yang dulu ia tunda, membacanya tiga kali, mengubah dua kata, lalu mengirimnya sebelum sempat berubah pikiran.
Saya bersedia mengajar satu hari sebagai guru pengganti. Tanpa rilis, tanpa pengumuman besar. Mohon sekolah tidak menjadikan kehadiran saya sebagai konten. Evaluasi setelah hari itu. Dan mohon gerbang dijaga dari orang yang tidak berkepentingan.
Balasan kepala sekolah datang siang, kaku dan pendek: disetujui, kami siapkan, terima kasih.
Salsa langsung mengirim pesan begitu diberi tahu: aku temani sampai gerbang, kita masuk bareng, aku tunggu di ruang guru.
Naufal mengirim instruksinya sendiri: jaga jarak, bukan konvoi, Pak Damar tidak di lokasi, kalau ada ponsel liar di pagar saya yang bergerak.
Damar hanya mengirim satu pesan, dan Anisa membacanya dua kali.
Aku di kantor. Pintu dijaga. Kalau di sana kau takut, pulang saja — itu sah, itu bukan gagal. Dan aku tidak menagih keputusan penuh malam ini.
Gerbang sekolah dasar itu tidak berubah. Catnya masih yang lama, mengelupas di bagian bawah. Ada spanduk lomba yang sudah lewat tanggalnya. Bau paginya campuran aspal, debu, dan sesuatu yang manis dari kantin.
Anisa berhenti satu tarikan napas di luar garis gerbang.
Dadanya sesak. Tiga tahun lalu ia keluar dari gerbang ini dengan kardus, dikawal dua orang, sementara beberapa wali murid memotretnya dari seberang jalan.
Ia melangkah masuk.
Seorang wali murid berpapasan dengannya di koridor. Perempuan itu mengangguk — kaku, canggung, tapi mengangguk, dan tidak mengangkat ponselnya. Anisa membalas anggukan itu.
Satpam sekolah sudah dapat pengarahan dan berdiri di posisinya tanpa terlihat seperti sedang berjaga.
'Aku dekat,' kata Salsa di depan ruang guru. 'Teriak kalau perlu.' Ia menepuk lengan Anisa sekali. 'Dan jangan jadi simbol perempuan bersih yang kembali. Jadi guru saja. Kapur. Anak. Napas.'
'Guru,' kata Anisa. 'Kapur. Hafal.'
Di ruang guru, tiga orang berdiri ketika ia masuk. Satu menyalaminya dan bertanya kabar dengan nada yang terlalu hati-hati. Satu lagi hanya mengangguk dari mejanya. Yang ketiga — guru olahraga yang dulu sekelas dengannya waktu pelatihan — memeluknya cepat dan berkata satu kalimat: kelas dua rusuh hari ini, semoga kuat.
Itu justru kalimat paling menolong sepanjang pagi itu, karena isinya sama sekali bukan tentang berita.
Kelasnya kelas dua. Meja-meja kecil, papan tulis yang sudah kelabu di tengah, dua puluh delapan anak yang sebagian besar tidak tahu apa-apa tentang berita, dan sebagian kecil pernah mendengar bisik-bisik orang dewasa di rumah.
Anisa tidak berpidato tentang apa pun. Ia tidak menjelaskan, tidak membela diri, dan sama sekali tidak meminta maaf kepada anak-anak tentang hal-hal yang bukan urusan mereka.
Ia mengabsen. Suaranya sempat parau di nama ketiga. Ia berdeham sekali dan melanjutkan sampai nama terakhir.
Lalu pelajaran: huruf, angka, dan satu lagu pendek yang dulu selalu ia pakai untuk mengembalikan perhatian kelas — lagu yang terakhir ia nyanyikan sebelum dunianya pecah.
Tangannya gemetar waktu memegang kapur pertama. Batangnya patah di papan, jatuh, dan debunya menempel di lengan bajunya.
Beberapa anak tertawa kecil.
Anisa tertawa juga — pendek, kaget pada dirinya sendiri, manusia.
'Kapurnya baru,' katanya sambil mengambil yang lain. 'Kita ulang. Siapa yang bisa huruf r?'
Satu tangan naik. Lalu dua. Lalu selusin, sebagian karena benar-benar bisa dan sebagian karena tangan-tangan itu selalu naik apa pun pertanyaannya.
Di tengah jam kedua seorang anak perempuan di baris depan mengangkat tangan dan bertanya kenapa Ibu Guru lama tidak mengajar.
Ruangan itu menunggu.
'Ibu berhenti sebentar karena ada urusan orang dewasa,' kata Anisa. 'Urusannya sudah hampir selesai. Sekarang kita lanjut ke huruf s, ya.'
Anak itu mengangguk dan langsung lupa. Anak-anak memang begitu, dan pagi itu Anisa bersyukur pada kenyataan tersebut lebih dari yang bisa ia jelaskan.
Kelas itu hidup selama tiga jam berikutnya.
Takutnya tidak hilang. Sepanjang jam pertama, setiap kali ada bayangan lewat di jendela koridor, sesuatu di perutnya mengencang. Tapi ia bertahan, dan bertahan itu ternyata cukup untuk hari ini.
Di koridor, Salsa mengintip sekali dari jendela dan tidak masuk.
Salsa menunggunya di gerbang waktu bel istirahat, dengan dua gelas teh dari kantin, dan tidak bertanya apa-apa sampai Anisa sendiri yang bicara.
'Kapur pertama patah,' kata Anisa.
'Terus?'
'Terus saya ambil yang baru.'
Salsa mengangguk dan menyerahkan gelasnya. 'Ya sudah. Itu saja beritanya hari ini.'
Pukul sebelas Anisa keluar kelas dengan lengan berdebu kapur. Kepala sekolah bertanya, dengan kalimat yang jelas sudah disusunnya sejak pagi, apakah ada kemungkinan ini berlanjut.
'Saya kirim jawabannya nanti,' kata Anisa. 'Hari ini saya cuma mau pulang dan tidur.'
Ia tidur satu jam sore itu, sesuatu yang tidak pernah ia lakukan sejak tiga tahun lalu, dan bangun dengan bau kapur yang masih tertinggal samar di lengan bajunya.
Malamnya ia mengirim surat pendek ke sekolah: terima kasih untuk hari ini, keputusan penuhnya belakangan.
Damar melihat surat itu di layar ponsel Anisa yang tergeletak di meja, tidak sengaja, dan tidak berkomentar apa pun tentang kata belakangan.
Lalu ia menempelkan satu kertas kecil baru di pintu kulkas, dengan tulisan tangannya sendiri.
COBA SEKOLAH. BELUM PENUH.