Damai bukan hotel Om dengan amplop metafora. Ruang legal netral, lantai dua, AC dingin. Meja panjang. Faris pucat, pengacara lelah. Om tidak masuk ruang — di lobby dengan muka tameng yang sudah retak, dua orang holding. Naufal, legal Mahesa, Anisa, Damar jarak satu kursi. Kamera rekam izin. Tidak ada wartawan di dalam.
Isi yang perlu diketahui rumah, tanpa berita acara membosankan: Faris mencabut banding pelembut; mengakui lagi ringkas di kertas — mabuk, setir, kabur, framing diarahkan Om, keterkaitan sebar data; ganti rugi terbatas ke Anisa; biaya pengamanan dan kerugian Salsa; larangan mendekat dan sebar ulang; Om masuk jalur terpisah soal lab, tekanan, dan jejak holding. Bukan eksekusi on-page. Kunci: Faris kalah tercatat; mulut dusta tidak punya gigi legal yang sama.
Anisa baca draf pelan, guru mode, pulpen merah. Coret satu klausul *para pihak tidak akan membahas perkara* yang terlalu lebar. 'Saya tidak jual mulut soal fakta yang sudah publik. Saya setuju tidak sebar data balasan. Saya setuju proses dan larangan. Saya tidak tanda NDA yang mengunci Harto, Raka, atau kalimat saya kemarin. Faris kalah di kertas. Om — jalur kalian. Saya paraf sebagai pihak yang dirugikan, bukan sebagai istri yang “memaafkan publik” demi saham. Uang masuk rekening saya. Saya atur. Bukan Mahesa. Bukan tebus.'
Damar: 'Ikuti dia. Mahesa paraf sebagai pihak terkait berkas dan sebar. Saya tidak pidato maaf di meja ini. Maaf saya ke Anisa sudah di rumah, tidak ditagih di sini. Ini kunci Faris. Bukan kunci cinta. Bukan pesta board.'
Faris ingin bicara; pengacaranya tahan, lalu izinkan satu kalimat. Faris: 'Saya… tidak sebar lagi. Saya tanda.' Tangan gemetar. Tidak senyum. Tidak lempar Dita. Tidak minta maaf teater ke Anisa di meja — Anisa tidak butuh maaf Faris sebagai tiket rumah. Tanda. Legal Mahesa paraf. Anisa paraf. Damar paraf instruksi. Om di lobby umpat pelan saat pintu terbuka; Naufal catat nada, tidak balas umpat. Satu orang holding Om mundur selangkah — tameng retak kelihatan. Selesai. Keluar sudut berbeda. Satpam. Udara parkir. Anisa pegang folder seperti map kuning dulu: fakta, bukan piala.
Di mobil Anisa pegang salinan folder. Napas. 'Kalah dia. Saya tidak menari. Uang — rekening saya. Sebagian sisih untuk Salsa kos dan pengamanan. Bukan derma drama. Tanggung jawab teman. Sisa — hidup. Sekolah — saya pikir lagi, mungkin coba sehari. Makam — Anda ajak kalau Ibu izinkan. Saya pojok. Hormat. Sticky FARIS — arsip, tidak digaris marah lagi. Om di lobby — saya tidak dengar umpat. Filter.' Damar: 'Makam. Saya tanya Ma hari ini. Kau pojok. Uang — kau atur. Aku tidak sita. Faris kunci. Om sisa gigi bisnis — tumpul, belum hilang. Naufal pantau. Rumah napas lebih panjang. Lembar kulkas tetap sampai kau ganti. Saya tidak cabut atas nama menang. Kau putuskan kapan. Saya tidak pesta.'
Naufal dari mobil depan: 'Kunci tercatat. Jangan mabuk. Om bisa sisa kotor. Lo angguk resign tetap. Anisa — skor coret NDA lebar. Salsa saya kabari: kos boleh pelan dengan satpam. Ibu — ringkas. Board — privasi, titik. Saya arsip folder. Lo pulang makan. Jauh.' Damar: 'Makan. Jauh. Privasi.' Anisa: 'Makan. Tidak menari. Folder di map.'
Ibu: *Faris?* Damar: *Kalah di kertas. Ma, diam. Makam — izin bawa Anisa pojok.* Ibu: *Pojok. Jangan peluk di makam. Jangan pidato. Sekali.* Anisa terima tembusan. 'Pojok. Hafal. Terima kasih izin. Sekali.'
Sore Salsa telepon. 'Sisih? Aku terima sebagai tanggung jawab, bukan hutang. Teman. Kunci. Aku balik kos pelan. Satpam Naufal. Kau jangan tiba-tiba jadi dermawan tebus. Kau juga jangan hilang ke makam tanpa kabar — kabari aku setelah.' Anisa: 'Teman. Hafal. Makam nanti. Kabar. Sekolah — pikir. Sehari. Takut. Coba.'
Malam ritual kulkas. Anisa tidak ganti lembar jadi *menang*. Lembar syarat tujuh. Sticky *PILIH*. *REM NAUFAL*. *LAWAN BARENG*. Garis tebal di FARIS dicabut — nama tinggal, tidak marah. Ia foto kulkas ke Salsa tanpa alamat. 'Arsip. Bukan pesta.' Damar jauh: 'Arsip. Skor. Tidur.' Ke foto Dita: 'Dia kalah di kertas. Kau tidak dibayar dengan tarian. Aku salah sasaran. Aku bawa Anisa ke makam — pojok. Bilang ke batu. Hormat.' Foto diam. Anisa di kamar tamu baca salinan damai sekali lagi, masukkan map kuning di belakang pengakuan Faris — urutan dusta sampai kunci. Tidur.
Pagi kopi jauh. 'Faris kunci. Masih tinggal?' Anisa: 'Masih. Pilih. Makna. Lembar. Tidak menari. Makam. Lalu mungkin gerbang — sehari. Takut. Coba. Uang sisih Salsa sudah transfer prinsip — dia terima sebagai teman.' Damar: 'Coba. Bareng jauh. Tidak cage. Tidak hukuman. Draft hidup. Makam — Ma izinkan. Pojok.' Naufal lewat dapur: 'Kunci. Jangan mabuk. Om pantau. Lo angguk. Anisa map. Salsa kos pelan. Board privasi. Saya ke legal sisa Om.' Damar: 'Privasi. Pantau. Tidak pesta. Makam pojok. Sekolah filter.' Anisa ritual kulkas pagi, baca lembar, tidak ganti. Napas rumah lebih panjang. Gigi Faris tumpul di meja legal. Om di luar masih bernapas. Cukup untuk damai yang mengunci tanpa mengisi halaman dengan pasal — fokus kalah dia, napas kami, kerja sisa hormat, lembar tetap.