Ruangannya kecil dan sengaja dibuat kecil.
Bukan konferensi pers besar. Dua portal yang kemarin memberitakan dengan hati-hati, satu juru kamera dari bagian hukum untuk arsip, dan dua orang Naufal berdiri di koridor luar.
Kursinya diatur sebelum siapa pun masuk: Anisa di tengah, pengacara di sebelah kirinya, Damar di sisi jauh — cukup jauh sehingga tidak ada satu pun sudut kamera yang bisa menghasilkan foto seorang suami memegang bahu istrinya.
Salsa ada di balik kaca satu arah. Hadir, tidak masuk bingkai, ponselnya dimatikan sendiri sebelum diminta. Ibu menonton dari rumah lewat tautan yang aman, bukan dari ruangan.
Naufal menghitung dengan jarinya di dekat pintu.
'Sepuluh menit. Tidak lebih.' Ia bicara ke Anisa, tidak ke Damar. 'Bacakan kalimatnya, lalu tutup. Kalau ada yang menyela dengan umpatan, jangan dijawab. Ada air di meja, minum kalau perlu berhenti.' Ia berhenti sebentar. 'Boleh gemetar. Tapi gemetarnya nanti di koridor, bukan di depan lensa.'
'Hafal,' kata Anisa.
'Dan Anda,' Naufal menoleh ke Damar.
'Diam saya,' kata Damar. 'Hafal.'
Setengah jam sebelumnya, Anisa berdiri di kamar mandi ruangan itu dan mengucapkan kalimatnya sendiri di depan cermin, dua kali, dengan suara pelan. Yang pertama terlalu cepat. Yang kedua ia sengaja perlambat di bagian nama Dita.
Lalu ia mencuci tangannya dengan air dingin sampai jarinya berhenti terasa asing.
Anisa tidak memakai pakaian yang dipilihkan siapa pun. Baju biasa, rambut diikat rapi seperti hari-hari ketika ia masih berdiri di depan kelas. Di tangannya ada kertas kecil berisi catatan yang sebenarnya sudah ia hafal — dibawa bukan untuk dibaca, tapi supaya tangannya punya pekerjaan.
Tangannya tetap gemetar. Ia menekankan pergelangannya ke meja.
Pengacaranya membuka satu menit: statusnya sebagai pihak, penyebaran data pribadi yang melanggar hukum, permohonan perlindungan.
Lalu giliran Anisa.
'Saya Anisa,' katanya. Datar, jelas, tidak dimanis-maniskan. 'Saya pernah dituduh sebagai pengemudi mabuk dalam berkas yang kemudian terbukti tercemar. Saya tidak mabuk. Saya tidak menabrak siapa pun. Saya berhenti di lokasi malam itu. Keterangan saksi dan pengakuan pihak terkait sudah ada di jalur hukum, dan biar jalur itu yang bekerja.'
Ia berhenti sekali, menarik napas, dan tidak minum.
'Kemarin data pribadi saya dan orang-orang di sekitar saya disebarkan tanpa izin. Nomor telepon, alamat, foto identitas, dan foto sebuah sekolah dasar. Itu bukan klarifikasi. Itu teror, dan sasarannya bukan cuma saya.'
Tidak ada yang bersuara di ruangan itu.
'Saya tidak mundur. Saya pernah tertuduh. Saya tidak bersalah. Saya minta satu hal kepada publik: jangan ganggu sekolah itu, jangan ganggu teman saya, jangan ganggu saksi yang sudah berada dalam perlindungan.' Ia meletakkan kertas kecilnya. 'Dan nama almarhumah Dita Wijaya bukan bahan untuk saling membalas, bukan juga bahan klikbait. Terima kasih.'
Ia tidak tersenyum di akhir. Ia juga tidak menangis.
Damar tidak menambahkan satu kata pun. Ia duduk di sisi jauh itu selama sepuluh menit penuh, dengan tangan di pahanya sendiri, dan tidak melihat ke arah kamera sekali pun.
Satu orang dari portal yang lebih kecil sempat mencoba menyisipkan pertanyaan di detik terakhir — sesuatu tentang bagaimana perasaan Bu Anisa sekarang menjadi istri seorang CEO.
Anisa menatapnya sebentar.
'Pertanyaan itu tidak ada hubungannya dengan data pribadi yang disebar,' katanya. 'Silakan kirim tertulis.'
Naufal menutup sesi: pertanyaan lanjutan hanya lewat surat ke bagian hukum. Beberapa lampu kilat menyala, jumlahnya bisa dihitung.
Selesai dalam sepuluh menit yang terasa satu jam.
Salah satu wartawan menutup buku catatannya lebih dulu, dan itu terlihat seperti tanda hormat yang tidak diucapkan.
Anisa berdiri. Lututnya hampir melunak di langkah pertama, jadi ia berjalan lebih dulu, cepat, keluar lewat pintu samping.
Ia gemetar di koridor, di dekat tangga darurat, dengan satu tangan di dinding. Salsa keluar dari balik kaca dan berdiri di sebelahnya tanpa menyentuh, karena Salsa tahu urutannya.
'Sudah,' kata Salsa. 'Sudah, sudah.'
'Saya tidak menangis di dalam.'
'Aku tahu. Aku lihat.'
'Sepuluh menit itu terasa satu jam,' kata Anisa, masih ke dinding.
'Buat aku juga,' kata Salsa. 'Dan aku cuma nonton dari balik kaca.'
'Kamu dengar semuanya?'
'Semuanya.' Salsa menunggu sebentar. 'Bagian Dita itu — kamu perlambat sendiri, ya?'
'Iya.'
'Bagus. Itu yang akan mereka kutip.'
Damar keluar terakhir dan berhenti di ujung koridor, sepuluh langkah jauhnya. Ia tidak mendekat. Ketika Anisa akhirnya menoleh dan mengangguk sekali, barulah ia berjalan mendekat, dan yang ia katakan cuma satu kalimat.
'Mobil sudah di bawah.'
Di mobil gemetarnya masih tipis di jari. Naufal menyetir dan menyalakan radio pelan tanpa ditanya, lagu yang tidak ada hubungannya dengan apa pun.
Berita yang keluar sore itu dari dua portal tadi memakai judul yang sama-sama datar, tanpa kata bangkit dan tanpa kata drama. Salah satunya mengutip bagian tentang nama Dita, persis seperti dugaan Salsa.
Ibu menelepon dari rumah sekitar satu jam kemudian. Yang diangkat Damar, dan pembicaraannya pendek.
'Dia tidak menangis,' kata perempuan itu di seberang.
'Tidak, Ma.'
'Dan kamu diam.'
'Saya diam.'
Ibu menutup teleponnya tanpa menambahkan penilaian apa pun, dan bagi Damar itu sudah termasuk pujian.
Tidak ada yang membicarakan konferensi pers itu sepanjang jalan pulang.