Sebarannya datang pagi, dan tidak lewat surat pengacara.
Portal kecil lebih dulu, jenis yang tidak punya alamat redaksi. Lalu cerminannya muncul di grup wali murid, di forum-forum yang memang lapar, di utas yang disalin berkali-kali sampai tidak jelas lagi siapa yang pertama.
Isinya nomor lama Anisa. Foto KTP yang buram tapi masih terbaca. Alamat kos Salsa lengkap sampai nama gang. Potongan tangkapan layar rekening yang dulu pernah dibekukan. Dan satu foto gerbang sekolah dasar itu, diambil dari seberang jalan.
Captionnya kotor: guru mabuk yang kawin CEO, ini rumahnya, ini temannya, ini sekolah anak kalian.
Tidak semua datanya akurat. Itu tidak penting bagi orang yang membagikannya, dan itu justru yang membuatnya bekerja.
Naufal menelepon sebelum Anisa sempat menggulir terlalu jauh.
'Jangan buka semuanya,' katanya, tanpa salam. 'Saya sudah mirror semua tautannya untuk bukti, jadi Bu Anisa tidak perlu jadi orang yang membaca. Legal sudah bergerak sejak setengah jam lalu.'
'Salsa.'
'Sudah dijemput. Aman. Bukan diculik — dia pindah sendiri bawa tas, dan sekarang ada orang saya di gang itu. Pak Harto dan Raka tidak ada dalam tautan mana pun, saya sudah periksa.' Suaranya rata seperti biasa. 'Bu Anisa di rumah dulu. Pak Damar sudah pulang dari kantor.'
'Dan dia?'
'Kalau dia balik ke mode menghukum siapa pun hari ini, saya resign hari ini juga. Itu sudah saya bilang ke dia di telepon.' Jeda pendek. 'Napas dulu. Lembar di kulkas tetap berlaku.'
Anisa berdiri di dapur dengan ponsel diletakkan menghadap ke bawah di meja. Tangannya gemetar, jadi ia menaruhnya di kayu supaya tidak melempar apa pun.
Ia tetap melakukan ritualnya. Membaca tujuh syarat di lembar yang menempel di kulkas, dari nomor satu sampai nomor tujuh, lalu kertas tempel bertulisan PILIH, lalu yang bertulisan REM NAUFAL. Bukan karena ia panik dan butuh altar. Karena itu kontrak, dan kontrak dibaca justru pada hari yang buruk.
Ia sempat berpikir untuk mengemasi barangnya. Pikiran itu datang lengkap dengan urutannya: tas mana, dokumen mana, berapa lama sampai kos. Ia menahannya.
Pintu itu ada. Pilihan itu masih ada. Data yang disebar orang tidak mengubah pilihannya — data itu hanya mengubah pekerjaannya hari ini.
'Saya tidak mundur,' katanya, mula-mula ke udara.
Lalu ke Damar, yang masuk lewat foyer tanpa jas rapi, dengan napas pendek orang yang setengah berlari dari parkiran.
'Mereka menyebar,' kata Anisa. 'Yang kemarin baru hampir, sekarang sudah. Kalimat di catatan saya sudah siap. Filternya jalan. Salsa?'
'Di unit aman untuk sementara. Dia yang mau, bukan dipaksa.' Damar berdiri di jarak yang biasa, tidak lebih dekat. 'Saya tidak berteriak ke satu pun staf hari ini. Saya juga tidak akan mengurung kau di rumah ini. Saya marah — tapi marah saya ke mereka, bukan ke kau, dan kau bukan peluru untuk saya balaskan.'
'Bagus.'
'Naufal yang pegang remnya. Saya sudah hafal draf pernyataannya.' Ia menelan. 'Bilang apa yang kau butuh. Bukan apa yang saya kira kau butuh.'
Anisa berpikir sebentar, lalu menghitungnya dengan jari, cara lama seorang guru.
'Satu: telepon Salsa. Satu kali saja, hari ini. Bukan untuk mengatur dia, cuma supaya dia dengar suara saya dan tahu saya tidak hancur.' Ia menurunkan jarinya. 'Dua: legal. Saya hadir sebagai pihak, bukan sebagai istri yang didampingi. Nama saya yang disebar, jadi nama saya yang bicara.'
'Diterima.'
'Tiga: nanti di depan kamera, Anda diam. Satu kata dari Anda, beritanya berubah jadi CEO membela istri, dan saya kembali jadi lampiran.' Ia menatapnya. 'Empat: di pekerjaan kita lawan bareng. Denah rumah tidak berubah — kamar tamu tetap kamar tamu.'
'Tetap.'
'Dan yang terakhir.' Anisa menunjuk kertas tempel di pintu kulkas. 'Jangan disobek sampai kertasnya hilang cuma karena Anda marah. Kita kerja hari ini. Bukan main teater marah.'
Damar melepaskan genggamannya sendiri dari punggung kursi. Buku jarinya sudah putih sejak tadi.
'Kerja,' katanya. 'Bukan teater.'
Anisa menelepon Salsa selama empat menit. Salsa mengumpat panjang di tiga puluh detik pertama, lalu bertanya apakah Anisa sudah makan, dan itu membuat mata Anisa panas untuk pertama kali sejak pagi. Ia tidak menangis. Ia bilang sudah, padahal belum.
Sisa hari itu dihabiskan di meja makan yang berubah jadi meja kerja: tangkapan layar, daftar tautan, urutan waktu, nomor laporan.
Ada satu hal yang tidak Anisa minta, dan baru ia ketahui malamnya dari Naufal.
Siang itu seseorang di lingkaran Damar menawarkan cara lama: sebar balik. Ada berkas soal orang-orang yang membagikan tautan itu, ada nama yang bisa dijatuhkan dalam dua hari.
Damar menolaknya di tempat, dan menolaknya dengan kalimat yang kemudian Naufal ulangi kata per kata: kita tidak menang dengan cara yang membuat kita jadi mereka, dan saya sudah pernah jadi mereka.
'Dia tidak cerita ke Bu Anisa?' tanya Naufal di telepon.
'Tidak.'
'Bagus. Berarti dia melakukannya bukan untuk dihitung.'
Menjelang tengah malam Naufal mengirim kabar terakhir hari itu: dua tautan sudah turun, sisanya masih diproses, dan laporan resminya sudah punya nomor.
Kertas tempel bertuliskan satu nama masih menempel di kulkas, di sisi kanan. Faris. Di bawahnya, sore itu, Anisa menambahkan satu lagi dengan spidol: LAWAN BARENG.