Anisa tidak menyerah setelah Damar mulai menyiksanya secara emosional. Anisa tidak berhenti mencoba menjadi istri yang baik untuk Damar. Anisa tidak berhenti mencoba membuat Damar bahagia, membuat Damar mencintainya dengan sepenuh hati, membuat Damar kembali menjadi pria yang lembut yang sudah ia kenal selama beberapa hari terakhir.
Anisa mulai memasak untuk Damar setiap pagi, dengan makanan yang Damar sukai, dengan makanan yang Anisa pelajari dari buku masak yang ia baca berkali-kali. Anisa tidak tahu apakah Damar akan menyukai masakannya atau tidak, tapi Anisa mencoba dengan sepenuh hati untuk membuat Damar bahagia.
'Damar, aku membuatkanmu sarapan,' kata Anisa dengan suara yang pelan ketika Damar turun ke meja makan pagi itu. 'Aku membuatkanmu makanan yang kau sukai.'
Damar menatapnya dengan tatapan yang dingin, dengan tatapan yang sudah tidak lembut lagi, dengan tatapan yang sudah tidak tulus lagi. Ia tidak menyentuh makanan yang Anisa buat untuknya. Ia tidak berkata apa-apa untuk waktu yang lama. Ia hanya menatap Anisa dengan tatapan yang dingin, dengan tatapan yang sudah tidak lembut lagi, dengan tatapan yang sudah tidak tulus lagi.
'Aku tidak lapar,' kata Damar dengan suara yang dingin, dan ia berjalan keluar dari meja makan tanpa menyentuh makanan yang Anisa buat untuknya.
Anisa tidak bisa berkata apa-apa untuk waktu yang lama. Ia hanya menatap makanan yang sudah ia buat dengan sepenuh hati untuk Damar, dan untuk pertama kalinya, ia merasa bahwa Damar tidak mencintainya dengan sepenuh hati. Damar tidak mencintainya dengan sepenuh hati. Damar tidak ingin membuatnya bahagia.
Anisa tidak menyerah. Anisa tidak berhenti mencoba menjadi istri yang baik untuk Damar. Anisa tidak berhenti mencoba membuat Damar bahagia.
Anisa mulai merawat rumah dengan sepenuh hati, membersihkan setiap sudut rumah dengan tangan yang gemetar, membuat rumah menjadi tempat yang nyaman untuk Damar. Anisa tidak tahu apakah Damar akan menyukai rumah yang bersih atau tidak, tapi Anisa mencoba dengan sepenuh hati untuk membuat Damar bahagia.
'Damar, aku sudah membersihkan rumah untukmu,' kata Anisa dengan suara yang pelan ketika Damar pulang dari kantor malam itu. 'Aku sudah membersihkan rumah untukmu agar kau merasa nyaman.'
Damar menatapnya dengan tatapan yang dingin, dengan tatapan yang sudah tidak lembut lagi, dengan tatapan yang sudah tidak tulus lagi. Ia tidak berkata apa-apa untuk waktu yang lama. Ia hanya menatap Anisa dengan tatapan yang dingin, dengan tatapan yang sudah tidak lembut lagi, dengan tatapan yang sudah tidak tulus lagi.
'Aku tidak peduli dengan rumah yang bersih,' kata Damar dengan suara yang dingin, dan ia berjalan ke kamar kerjanya tanpa berkata apa-apa lagi.
Anisa tidak bisa berkata apa-apa untuk waktu yang lama. Ia hanya menatap rumah yang sudah ia bersihkan dengan sepenuh hati untuk Damar, dan untuk pertama kalinya, ia merasa bahwa Damar tidak mencintainya dengan sepenuh hati. Damar tidak mencintainya dengan sepenuh hati. Damar tidak ingin membuatnya bahagia.
Anisa tidak menyerah. Anisa tidak berhenti mencoba menjadi istri yang baik untuk Damar. Anisa tidak berhenti mencoba membuat Damar bahagia.
Anisa mulai mencoba membahagiakan Damar dengan cara lain: dengan memberikan Damar hadiah-hadiah kecil, dengan menulis surat-surat cinta untuk Damar, dengan mencoba menghabiskan waktu dengan Damar dengan cara yang tidak mengganggunya.
Tapi Damar tidak pernah menyukai hadiah-hadiah kecil yang Anisa berikan padanya. Damar tidak pernah membaca surat-surat cinta yang Anisa tulis untuknya. Damar tidak pernah menghabiskan waktu dengan Anisa dengan cara yang tidak mengganggunya.
Damar tidak mencintai Anisa dengan sepenuh hati. Damar tidak ingin membuat Anisa bahagia. Damar datang untuk menghancurkan Anisa dari dalam untuk balas dendam pada adiknya.
Dan Anisa tidak tahu apa yang harus ia lakukan dengan kebenaran itu. Anisa tidak tahu apa yang harus ia rasakan dengan kebenaran itu. Anisa hanya tahu bahwa ia sudah menikahi Damar dengan kepercayaan yang tidak bisa disangkal, bahwa ia sudah menghabiskan hidupnya dengan pria yang tidak mencintainya dengan sepenuh hati.
Dan itu menghancurkan Anisa dari dalam dengan cara yang paling kejam.