Usulnya datang dari Naufal, dan disampaikan dengan cara Naufal.
'Kalian berdua makan di luar,' katanya di ruang kerja, sambil menutup mapnya. 'Bukan hotel tempat Om biasa mengajak damai. Bukan acara board. Restoran biasa. Dua jam.'
Damar mengangkat alis.
'Lo tidak bawa map. Dia tidak bawa kertas tempel. Coba jadi orang biasa dua jam.' Naufal berdiri. 'Kalau kaku, ya sudah, kaku itu sah. Pulang. Jangan dipaksa jadi film.'
Damar menanyakannya kepada Anisa malam itu, dan ia menanyakannya, bukan menjadwalkannya.
'Dua jam,' kata Anisa setelah berpikir. 'Restoran biasa. Kamar tamu tetap seperti biasa waktu pulang. Dan ini bukan tiket untuk lima sentimeter yang lalu.'
'Bukan tiket.'
'Satu lagi. Kalau di sana kita takut, kita bicara soal takut. Jangan pura-pura sibuk membahas menu.'
Sore itu Anisa berganti baju di kamar tamu. Bukan gaun; baju biasa yang biasa ia pakai ke rapat orang tua murid, dulu. Damar menunggu di foyer dan tidak berkomentar apa pun tentang penampilannya, yang justru merupakan hal paling sopan yang bisa ia lakukan.
Naufal yang menyetir, dan diam sepanjang jalan — diam yang untuk pertama kalinya tidak terasa seperti vonis.
Anisa melihat ke luar kaca. Bukan jalan ke ruang tertutup. Bukan jalan ke hotel Om. Restoran. Ganjil rasanya, tapi ada.
Tempatnya bukan yang termahal. Meja sudut, agak jauh dari pintu. Damar tanpa dasi. Naufal menunggu di mobil, tidak ikut masuk.
Pelayan menanyakan atas nama siapa reservasinya. Damar menyebut nama depannya saja, bukan nama perusahaan.
Mereka duduk. Air datang. Menu dibuka.
Anisa membaca menunya dua kali, karena yang pertama sama sekali tidak masuk ke kepalanya.
Damar hampir memilihkan untuknya — gerakan lama, refleks orang yang terbiasa memutuskan untuk semua orang di meja mana pun. Ia menahannya di tengah jalan.
'Kau pilih,' katanya. 'Saya bukan hakim lauk.'
Anisa hampir tersenyum. Hampir.
'Saya tidak tahu cara memesan makanan tanpa terdengar seperti sedang menjatuhkan putusan,' kata Damar.
'Pesan saja makanannya,' kata Anisa. 'Itu bukan vonis. Saya nasi dan ayam bakar. Dan malam ini saya tidak memasak apa pun sebagai penebus.' Ia menutup menunya. 'Anda yang bayar, karena Anda yang mengusulkan. Bukan karena saya berutang.'
Mereka memesan. Lalu diam.
Sendok orang lain berbunyi di meja-meja sekitar. Di meja sebelah ada ulang tahun kecil — seorang anak, kue dengan satu lilin, nyanyian pelan yang setengah malu, tepuk tangan pendek.
Damar tidak ikut bernyanyi. Anisa memandang sebentar, lalu memandang ke arah lain, dan tidak merasa iri pada kue orang.
Dua orang yang ketakutan, duduk di meja sudut.
'Saya takut,' kata Damar.
Anisa menatapnya. 'Takut apa. Jujur saja. Jangan yang indah.'
Damar meletakkan gelasnya.
'Takut malam ini ternyata cuma hukuman versi halus — saya membelikan makan supaya kau pelan-pelan lupa daftar syarat kau sendiri. Takut saya memegang tangan kau lagi dan kali ini tidak melepasnya. Takut Ma. Takut foto Dita di dinding itu.' Ia menarik napas. 'Takut kau pergi sekarang, karena namamu sudah bersih dan saya sudah tidak punya kertas apa pun untuk menahan kau. Takut kau tinggal karena kasihan. Dan takut saya benar-benar mencintai kau, dan begitu saya bilang, kalimatnya terdengar seperti tagihan.'
Ia berhenti.
'Banyak. Jelek. Tapi itu isinya.'
Nasi datang. Anisa tidak langsung makan.
'Saya juga takut,' katanya. 'Takut maaf yang benar kemarin itu saya hapus sendiri, cuma karena capek dan karena diperlakukan baik itu enak. Takut berdiri di gerbang sekolah lagi dan mendengar bisik-bisik orang tua murid. Takut rumah ini pelan-pelan jadi kandang yang nyaman.' Ia memutar gelasnya. 'Takut miskin lagi di kos. Itu takut yang lama dan tidak luhur sama sekali, tapi jujur.'
'Dan yang terakhir?'
'Takut jatuh cinta pada orang yang tiga tahun lalu ikut menghancurkan saya, lalu tidak bisa membedakan mana cinta dan mana rasa aman.' Ia menatap piringnya. 'Itu yang paling saya takutkan.'
Damar tidak menjawabnya, karena tidak ada jawaban yang tidak akan terdengar seperti bujukan.
Ia hampir mengatakan bahwa ia akan menunggu berapa lama pun. Ia menahannya juga. Kalimat itu, diucapkan oleh orang yang dulu menahan seseorang dengan kertas, akan terdengar seperti ancaman yang dibungkus kesabaran.
'Terima kasih sudah bilang,' katanya akhirnya. Itu saja yang aman.
Mereka makan. Percakapan sesudahnya kaku, terputus-putus, dan sesekali kosong. Sekali Anisa menceritakan seorang murid yang dulu selalu terlambat karena mengantar adiknya, dan Damar mendengarkan sampai selesai tanpa menyela.
Dua jam, seperti yang disepakati. Damar membayar. Tidak ada bunga di mobil, tidak ada kejutan yang disiapkan di rumah.
Naufal melihat mereka keluar dan tidak bertanya apa-apa.
Di mobil, Anisa memecah diam sekali di tengah jalan.
'Naufal.'
'Ya, Bu.'
'Ide makan malam ini punya Anda. Jangan diulang minggu depan sebagai jadwal tetap.'
'Tidak akan,' kata Naufal, matanya tetap di jalan. 'Saya cuma sekali usul. Sisanya urusan kalian.'
Damar tidak ikut bicara. Ia melihat ke luar jendela sepanjang sisa perjalanan, dan Anisa membiarkannya.
Di rumah, Anisa naik ke kamar tamu seperti biasa dan mengucapkan selamat malam dari tangga.
Tidak ada yang berubah bentuk malam itu. Tapi keduanya sudah menyebutkan isi ketakutan masing-masing dengan suara keras, di meja yang terang, tanpa dendam di antaranya — dan itu hal baru di rumah salah bentuk ini.