Salsa datang siang, bukan gerbang sekolah — foyer mansion, tas, muka perang yang sedang libur sebentar. Naufal di kantor. Damar kerja dari rumah, pintu ruang kerja terbuka. Anisa dan Salsa di meja dapur, jauh dari kulkas supaya tidak jadi altar gosip.
Salsa, pelan tapi tidak cukup pelan: 'CEO-mu itu sudah manusia, lho. Berdiri maaf. Lepas tangan di memorial. Tidak lutut. Aku hampir bilang sayang sama versi ini — secara platonis, sebagai temanmu. Jangan kawinkan aku. Aku cuma bilang: dia tidak lagi kelihatan seperti hakim lapar.'
Anisa hampir tertawa — jarang. Pendek. 'Jangan bilang sayang. Dia dengar. Rumah ini akustik jahat.'
Damar di ambang, kopi, muka yang tidak biasa: bukan dinding, bukan marah dendam. Kecil. Kesal konyol. 'Saya dengar. Platonis. Teman. Baik. Kopi Salsa di kulkas — bukan. Di meja. Silakan. Saya… kerja.' Ia balik ke ruang kerja terlalu cepat, pintu tidak ditutup rapat.
Salsa kedip. 'Dia iri.'
'Jangan,' kata Anisa, tapi sudut mulutnya khianat. 'Iri dendam dulu pernah. Ini… lain?'
Salsa: 'Lain. Dulu iri karena kau milik hukuman. Sekarang iri karena kau ketawa di dapur dengan orang yang bukan dia. Itu manusia. Konyol. Sehat. Jangan kau hadiahi ranjang karena dia konyol. Catat saja. Aku goda kamu karena kamu kaku sejak gerbang sekolah. CEO manusia. Kamu juga boleh manusia. Ketawa bukan selingkuh.'
Anisa: 'Ketawa terasa ilegal di rumah ini. Makanya akustik jahat. Aku ke ambang. Aku konfirmasi iri sebelum kau pulang jadi mitos.'
Anisa ke ruang kerja, jarak di ambang. Damar pura-pura tablet. Layar tidak bergerak. 'Anda iri ke Salsa.'
'Dalam tidak.' Pause. Ia taruh tablet. Jujur lebih mahal. 'Sedikit. Konyol. Aku tidak usir dia. Aku tidak cage kau. Aku cuma… tidak suka kalimat “hampir bilang sayang” meski platonis. Aku tidak berhak. Aku tetap tidak suka. Itu baru. Dulu aku tidak suka orang hormat padamu karena dendam — klien, tamu, siapa pun yang tidak makan altar. Sekarang aku tidak suka karena aku mau kau ketawa di sini, dan aku iri pada orang yang bisa bikin itu tanpa daftar hukuman di belakangnya. Jelek. Jujur. Kalau ini cage, bilang. Aku berhenti dengar dinding.'
Anisa: 'Salsa teman. Platonis. Saya ketawa karena dia kasar sehat, bukan karena saya pindah cinta. Cemburu Anda — saya catat sebagai manusia, bukan sebagai cage. Kalau jadi cage — kos. Lembar poin tujuh. Hari ini belum cage. Hari ini konyol. Terima kasih tidak usir dia. Saya kembali ke dapur. Anda kerja. Jangan dengar semua.'
Damar: 'Tidak dengar semua. Cuma yang “sayang”. Aku kerja. Sungguh.' Muka hampir — hampir — malu. Anisa tutup pintu pelan, bukan hardik.
Di dapur Salsa sudah nyontek kue. 'Laporan.'
'Iri. Konyol. Jujur. Tidak usir. Tidak cage.' Anisa duduk. 'Aku tidak hadiahi apa-apa. Aku ketawa lagi sedikit. Boleh?'
'Sah,' kata Salsa. 'CEO manusia. Teman platonis tetap. Kulkas tetap. Aku pulang sebelum dia iri ke gelas kuenya juga.'
Salsa pergi. Di mobil ia chat: `Aku selamat. Jaga iri jangan jadi detektif.` Anisa sudah di dapur. Damar keluar, jarak. 'Dia pulang.'
'Pulang. Platonis. Anda masih iri?'
'Dalam sisa. Akan habis. Aku tidak minta kau tidak ketawa. Aku minta… tidak. Aku tidak minta. Aku kerja. Malam ini aku tidak pegang tangan. Memorial kemarin cukup. Iri hari ini cukup. Dua cukup dalam dua hari.' Ia gesek tengkuk, gerakan orang yang kalah kecil. 'Aku hampir tanya apa yang kalian ketawakan. Detektif. Naufal akan marah. Jadi tidak tanya. Itu otot.'
Anisa: 'Otot. Kue. Godaan Salsa. Bukan rahasia perang. Dua cukup. Saya chat Salsa: kamu selamat, tidak diusir. Lembar hidup. Nama bersih. Guru tunda. Cemburu sehat — arsip konyol, bukan perang.'
Chat: `Kamu selamat. Dia iri konyol. Aku tidak hadiahi.` Salsa: `BAGUS. Jaga kulkas. Jangan jadi hadiah iri.` Ibu tidak perlu tahu. Naufal sore: *Salsa di rumah. Lo tidak drama?* Damar: *Tidak drama. Iri kecil. Kerja.* Naufal: *Iri kecil = progress. Jangan jadi detektif WA.*
Malam Anisa ritual kulkas. Damar kopi jauh, lalu: 'Aku iri. Aku bilang. Aku tidak cage. Skor?' Anisa: 'Skor manusia. Bukan skor suami iklan. Selamat malam. Kamar tamu. Salsa platonis. Anda — kerja, bukan dengar dinding.' Damar ke foto Dita: 'Aku iri ke teman guru. Konyol. Kau akan tertawa. Aku salah sasaran dulu. Sekarang aku salah iri sedikit. Lebih baik daripada salah altar.' Foto diam. Anisa di kamar tamu hampir ketawa lagi, sendiri, kecil, lalu padam lampu. Rumah salah bentuk dapat satu siang konyol yang tidak kejam. Cukup.
Pagi Damar tidak tanya isi chat Salsa. Anisa tidak pamer ketawa. Iri sisa di udara, menipis. Mereka makan jauh. Telur. Diam yang tidak vonis. Salsa kirim stiker konyol; Anisa tidak buka di meja. Hormat iri yang sedang habis. Naufal: *Lo tidak cek HP dia?* Damar: *Tidak. Kerja.* Naufal: *Rare. Pertahankan.* Anisa: 'Pagi ini saya ketawa di kepala, bukan di dapur. Sisa iri boleh habis sendiri. Salsa platonis. Anda manusia. Kulkas.' Damar angguk, malu sisa, kerja. Cemburu sehat tidak butuh pidato. Ia butuh tidak jadi cage. Tidak jadi. Iri menipis. Ketawa tidak ilegal. Cukup.