Pagi ketiga setelah restoran. Anisa ritual kulkas, lalu tidak ke taman dulu. Ia ke ruang tamu, map tertutup, cincin status di jari — hukum, bukan roman. Damar kopi. Anisa duduk jauh. Laci cerai di ruang kerja; ia tidak bawa kertas ke meja. Ia bawa pertanyaan.
'Kalau bersih,' katanya, datar, guru mode, 'kenapa masih nikah?'
Damar kaku. Bukan kaku hakim. Kaku orang yang sudah ramal pertanyaan dan tetap tidak punya naskah. 'Aku tidak punya jawaban cantik.'
'Jangan cantik. Jelek boleh. Kosong boleh. Cambuk cerai — jangan. Laci masih opsi, bukan cambuk. Saya tanya arti. Nama saya di kertas publik sudah lebih bersih. Faris mulut. Om tameng lepas. Hukuman yang menikahi kita — alasan itu runtuh. Kalau alasan runtuh, apa yang menahan catatan sipil? Takut miskin saya? Cage Anda? Kasihan? Dita? Saya butuh kalimat. Bukan steak. Bukan tangan memorial.'
Damar taruh kopi. Tangan di kayu meja, seperti ruang tertutup, tapi ini rumah. 'Jawaban jelek: aku tidak mau kau pergi, dan aku tidak berhak menahan. Jawaban kosong: aku tidak tahu nama yang benar untuk kita selain “salah bentuk yang sedang dicoba”. Jawaban yang bukan cinta iklan: aku belum pantas tagih cinta, aku sudah pantas tidak pakai nikah sebagai borgol. Jawaban yang lebih jelek: aku pernah nikahi kau supaya kau tidak lari dari hukuman. Sekarang hukuman runtuh. Kalau aku minta kau tetap, itu permintaan orang, bukan vonis. Cerai di laci — kau boleh ambil. Aku tidak sodor sebagai senjata. Kalau kau ambil, aku tanda. Kalau kau tidak, aku tidak baca itu sebagai kemenangan suami. Aku baca sebagai kau belum selesai bertanya. Aku juga belum selesai. Cantik tidak ada. Ada takut. Ada daftar maaf yang belum kau hapus. Ada kamar tamu. Ada lembar. Nikah ini masih kertas hukuman yang belum kita ganti makna. Aku tidak bisa ganti makna sendirian. Itu sebabnya aku tidak punya jawaban cantik.'
Anisa diam lama. 'Itu jelek. Jujur. Saya hampir ke laci. Bukan karena benci. Karena bersih tanpa arti terasa seperti baju orang lain. Saya tidak ambil pagi ini. Saya hampir. Hampir itu penting. Saya tinggal hari ini sebagai orang yang bertanya, bukan sebagai orang yang takut rekening dikunci lagi. Rekening saya sudah tidak dikunci. Saya bisa ke kos. Salsa. Sekolah tunda, bukan mustahil. Saya tidak miskin seperti dulu. Jadi kalau saya masih di sini, jangan kira borgol. Saya belum pilih. Saya hampir cerai. Saya belum cerai. Dua-duanya hidup.'
Ia berdiri, ke ruang kerja, buka laci, lihat tumpukan cerai, tutup. Damar tidak ikut. Hormat. Anisa kembali. 'Saya lihat. Tidak ambil. Catat hampir dengan mata, bukan dengan tanda tangan.'
Damar: 'Hampir hidup. Aku dengar. Aku tidak lutut. Aku tidak bunga. Aku tidak tarik laci duluan. Laci milikmu juga. Naufal — saya kasih tahu prinsip, bukan drama board.'
Anisa: 'Prinsip. Salsa juga. Ibu — jangan dulu. Duka tidak perlu hampir cerai sebagai tontonan.'
Naufal siang, dengar ringkas, tidak basabasi. 'Hampir cerai sah. Lo jangan panik closing. Dia tidak miskin. Lo tidak hakim. Kalau dia ambil laci — tanda. Kalau tidak — jangan pesta. Pilih menyusul. Jangan lo yang pilihkan. Board tidak perlu tahu laci.' Damar: 'Tidak pilihkan. Tidak board.' Anisa: 'Tidak dipilihkan. Terima kasih rem. Saya tidak miskin. Itu penting saya ucapkan ke orang ketiga.' Naufal angguk. 'Penting. Catat. Jangan lo isi laci dengan bunga. Jangan lo kosongkan laci diam-diam. Opsi milik dia.' Damar: 'Milik dia. Tidak bunga. Tidak kosongkan diam-diam. Hormat laci. Opsi hidup.' Anisa: 'Milik saya. Lihat. Tidak ambil.'
Salsa: `Kalau bersih kenapa nikah. BAGUS. Jangan jawab karena takut kos.` Anisa: `Dia tidak cantik. Aku hampir laci. Belum. Aku lihat kertas. Tidak tanda.` Salsa: `Hampir jujur. Pilih kapan kamu mau, bukan kapan dia lega. Kos tetap ada.` Anisa: `Pintu ada. Belum lewat.`
Malam Damar tidak ke ambang kamar tamu. Ia ke foto Dita: 'Dia tanya kenapa nikah. Aku tidak cantik. Aku tidak tahan dengan borgol. Kau tidak jadi alasan saya menikahi orang sebagai hukuman lagi. Kalau dia pergi, aku tidak makan orang lain sebagai ganti. Kalau dia tinggal, itu pilihannya. Bukan milikku. Aku tidak sodor laci. Aku tidak kunci laci. Hormat.' Foto diam.
Anisa buka laci cerai, lihat, tutup. Bukan tanda. Bukan teater. Opsi. Siang ia ke taman, 15 menit, hitung pagar. Pintu ada. Kos ada. Laci ada. Rumah ada. Empat arah. Belum pilih. Ia hitung lagi: rekening hidup, surat sekolah di laci lain, Salsa angkat telepon. Bukan miskin. Pertanyaan tetap. Ritual kulkas. Tujuh syarat. Poin enam: cerai opsi, bukan cambuk. Hidup. Pagi Damar kopi jauh. 'Masih hampir?' Anisa: 'Masih hampir. Masih di rumah. Masih tidak cantik. Telur. Jangan tanya pilih sebelum saya siap kalimat. Kalimat hampir sudah. Kalimat pilih — belum. Laci tertutup. Pintu ada.' Damar: 'Belum. Kerja. Tidak tagih. Laci tetap opsi. Bukan cambuk.' Mereka tidak bersentuhan. Hampir cerai duduk di antara nama bersih dan makna yang belum lahir. Anisa tidak packing. Damar tidak panik closing. Laci tertutup. Pertanyaan terbuka. Cukup untuk pertanyaan yang tidak boleh diindahkan dengan bunga.