Damar meminta izin ibunya lebih dulu, bukan izin portal berita. Teleponnya pendek, dan ia menyiapkan kalimatnya sebelum menekan tombol panggil.
'Ma, saya mau pasang foto Dita di dinding ruang keluarga. Memorial kecil di rumah saja. Foto yang biasa, bukan yang dipakai orang untuk perang. Keluarga saja.' Ia berhenti sebentar. 'Anisa di pojok, kalau Ma izinkan. Bukan sebagai menantu yang dipajang. Bukan pengganti Dita. Pojok. Itu saja.'
Ibunya diam cukup lama di seberang.
'Pojok,' kata perempuan itu akhirnya. 'Jangan berpelukan di depan foto. Jangan ada pidato. Saya datang, tapi saya tidak masak. Saya berdiri saja.' Suaranya rata. 'Dan perempuan itu — kalau dia menjual Dita dengan air mata, saya usir hari itu juga.'
'Tidak akan ada air mata untuk siapa pun, Ma.'
Damar menyampaikannya ke Anisa di dapur sore itu, dengan jarak yang sudah biasa di antara mereka. Anisa baru saja selesai membaca lembar di kulkas, ritual paginya yang sekarang juga jadi ritual sorenya.
'Pojok,' kata Anisa, mengulang. 'Saya tidak akan pidato. Saya juga tidak akan menangis untuk kamera yang tidak ada. Saya hadir kalau Ibu mengizinkan, sebagai orang yang berhenti di tol malam itu — bukan sebagai pengganti anaknya.'
'Itu yang saya bilang ke Ma.'
'Dan kalau Ibu berubah pikiran di pintu, saya naik ke kamar tamu. Tidak usah dibela, tidak usah dijelaskan.' Ia melipat lengannya. 'Poin tiga di lembar itu: tidak menghina. Saya tidak akan menghina duka orang.'
'Saya tidak janji akan memegang tangan kau di ruangan itu,' kata Damar. 'Saya tidak tahu apa yang akan saya lakukan. Yang saya janjikan cuma satu: saya tidak akan mengusir kau dari ruangan itu, kecuali Ma sendiri yang minta.'
Anisa menerimanya. Itu janji yang ukurannya jujur.
Naufal tidak diundang. Salsa juga tidak. Bukan konten, dan tidak ada yang perlu menyaksikan.
Sore harinya foto Dita dipindahkan dari ruang kerja — tempatnya selama tiga tahun terakhir, tergantung di atas brankas seperti bendera — ke dinding ruang keluarga. Bingkainya sederhana. Damar menaruh bunga kecil di rak bawahnya, jenis yang dibeli di pinggir jalan, bukan karangan yang dikirim bersama kartu perusahaan.
Damar sendiri yang mengangkat bingkai itu.
'Saya tidak akan menyentuh kacanya,' kata Anisa dari jarak beberapa langkah. 'Itu bukan tempat saya.'
'Saya yang pindahkan. Saya juga yang akan kembalikan.'
Ibunya datang pukul lima, memakai hitam, dan tidak memeluk siapa pun di pintu. Ia membawa tas kecil, bukan belanjaan, bukan panci. Damar memakai jas rumah. Anisa memakai baju biasa dan berdiri di pojok dekat jendela, jauh dari bingkai, tangan di belakang punggung.
Pembantu diminta tidak masuk. Pintu ruang keluarga ditutup.
Naufal mengirim pesan dari kantor: saya tidak datang, hormat saya untuk Dita, jangan berpidato. Damar membacanya di lorong dan tidak membuka ponselnya lagi begitu masuk ruangan.
Ibunya berdiri di depan foto itu cukup lama. Ia tidak berpidato.
'Kamu tidak menyetir,' katanya akhirnya, kepada bingkai, bukan kepada orang di ruangan. 'Faris. Dan Om itu. Kakakmu mengejar orang yang salah selama tiga tahun.' Suaranya bergetar sekali, lalu kembali rata. 'Ibu marah. Ibu rindu. Dan Ibu tidak mengganti kamu dengan orang yang berdiri di pojok sana.'
Anisa tidak menyahut. Ia tidak menunduk berlebihan, tidak juga menatap lurus. Ia berdiri di tempatnya, dan itu satu-satunya bentuk hormat yang tersedia baginya di ruangan itu.
Damar bicara setelah jeda yang cukup panjang.
'Ma. Dita.' Ia berdiri, tidak berlutut. 'Aku salah sasaran. Bertahun-tahun. Sekarang aku mengejar yang benar, dan itu tidak mengembalikan apa pun.' Ia menatap foto itu. 'Dan foto ini bukan perisai perang lagi. Aku pernah memakainya begitu. Tidak lagi.'
Diam. Jam dinding terdengar jelas.
Sekali, dan hanya sekali, ibunya menoleh ke arah pojok.
'Kau,' katanya kepada Anisa.
Anisa mengangkat wajahnya.
'Kau berhenti di jalan itu.'
'Iya, Bu.'
'Saya belum bisa berterima kasih.' Perempuan tua itu memalingkan wajah kembali ke foto. 'Tapi saya sudah berhenti membenci kamu. Itu dulu.'
'Itu sudah banyak, Bu.'
Tidak ada yang menambahkan apa pun setelah itu.
Sekitar sepuluh menit kemudian, tanpa sadar, tangan Damar bergerak ke arah Anisa yang berdiri setengah langkah di sebelahnya. Jarinya sempat menyentuh punggung tangan perempuan itu.
Ia melepasnya sendiri sebelum Anisa sempat bereaksi. Bukan ditarik, hanya dilepas, seperti orang yang teringat sesuatu.
'Maaf,' katanya pelan. 'Bukan di sini.'
'Bukan di sini,' kata Anisa.
Ibunya pulang pukul tujuh tanpa makan malam. Di pintu ia berhenti sebentar dan berkata kepada Damar bahwa fotonya boleh tinggal di dinding itu, tapi jangan dipindah-pindah lagi seperti barang.
Anisa mengirim satu pesan ke Salsa sebelum naik, karena Salsa akan tahu juga cepat atau lambat, dan lebih baik tahu dari sumbernya.
Foto Dita dipasang di ruang keluarga. Saya di pojok. Ibunya datang. Tidak diusir.
Balasannya masuk dalam hitungan detik, seperti biasa: dan CEO-mu?
Anisa menimbang sebentar sebelum mengetik. Berdiri waktu minta maaf, bukan berlutut. Sempat pegang tangan saya, lalu dia lepas sendiri.
Salsa membalas dengan satu kalimat: yang melepas sendiri itu yang penting, bukan yang memegang.
Malamnya rumah itu sepi seperti biasa. Anisa naik ke kamar tamu. Damar berdiri sendirian di depan foto adiknya cukup lama, tanpa bicara, karena ia sudah kehabisan hal yang pantas dikatakan.