Malam pertama pernikahan mereka tidak berakhir dengan cinta yang Anisa harapkan. Malam pertama pernikahan mereka berakhir dengan kebenaran yang kejam: bahwa Damar menikahi Anisa untuk balas dendam pada adiknya, bahwa Damar tidak mencintai Anisa dengan sepenuh hati, bahwa Damar datang untuk menghancurkan Anisa dari dalam.
Anisa tidak tahu apa yang harus ia lakukan dengan kebenaran itu. Anisa tidak tahu apa yang harus ia rasakan dengan kebenaran itu. Anisa hanya tahu bahwa ia sudah menikahi Damar dengan kepercayaan yang tidak bisa disangkal, bahwa ia sudah menghabiskan hidupnya dengan pria yang tidak mencintainya dengan sepenuh hati.
Pagi setelah malam pertama itu, Anisa bangun dengan harapan bahwa malam sebelumnya hanyalah mimpi buruk, bahwa Damar akan kembali menjadi pria yang lembut yang sudah ia kenal selama beberapa hari terakhir, bahwa Damar akan kembali menjadi pria yang mencintainya dengan sepenuh hati.
Tapi Damar tidak kembali menjadi pria yang lembut. Damar tidak kembali menjadi pria yang mencintainya dengan sepenuh hati. Damar tidak kembali menjadi pria yang baik yang sudah ia perankan selama beberapa hari terakhir.
Damar sudah menjadi pria yang dingin, pria yang kejam, pria yang tidak mencintai Anisa dengan sepenuh hati.
'Aku tidak datang ke pernikahan ini untuk mencintaimu dengan sepenuh hati, Anisa,' kata Damar dengan suara yang dingin ketika Anisa mencoba berbicara dengannya di meja makan pagi itu. 'Aku tidak datang ke pernikahan ini untuk menjadi suami yang baik untukmu. Aku datang ke pernikahan ini untuk menghancurkanmu dari dalam untuk balas dendam pada adikku.'
Anisa menatapnya dengan tatapan yang penuh dengan rasa sakit yang tidak bisa dijelaskan. 'Damar, aku tidak mengerti apa yang kau katakan. Aku tidak mengerti apa yang kau maksud. Aku tidak tahu apa-apa tentang adikmu atau tentang kecelakaan itu.'
'Aku tidak peduli apakah kau tahu apa-apa tentang itu atau tidak, Anisa. Aku tidak peduli apakah kau bersalah atau tidak. Aku hanya peduli dengan balas dendamku untuk adikku. Aku hanya peduli dengan menghancurkanmu dari dalam untuk membuatmu menderita seperti adikku menderita.' Damar menatapnya dengan tatapan yang dingin, dengan tatapan yang sudah tidak lembut lagi, dengan tatapan yang sudah tidak tulus lagi. 'Dan aku tidak akan berhenti sampai kau hancur seperti adikku hancur.'
Anisa tidak bisa berkata apa-apa untuk waktu yang lama. Ia hanya menatap Damar, dan untuk pertama kalinya, ia melihat bahwa Damar tidak seperti pria yang baik yang pernah ia bayangkan. Damar tidak seperti pria yang lembut, pria yang tulus, pria yang mencintainya dengan sepenuh hati. Damar tidak seperti pria yang baik.
Damar tidak seperti itu. Damar tidak seperti itu sama sekali.
Hari-hari berikutnya, Damar mulai menyiksa Anisa secara emosional dengan cara yang tidak bisa dijelaskan. Ia mengabaikan Anisa ketika Anisa berbicara dengannya. Ia berkata kasar pada Anisa ketika Anisa mencoba membantunya. Ia membuat Anisa merasa bersalah untuk sesuatu yang tidak pernah ia lakukan, merasa tidak berarti, merasa tidak dicintai dengan sepenuh hati.
Anisa tidak tahu mengapa Damar berubah seperti itu. Anisa tidak tahu mengapa Damar tidak lagi menjadi pria yang lembut yang sudah ia kenal selama beberapa hari terakhir. Anisa tidak tahu mengapa Damar tidak lagi mencintainya dengan sepenuh hati.
Anisa hanya tahu bahwa ia sudah menikahi Damar dengan kepercayaan yang tidak bisa disangkal, bahwa ia sudah menghabiskan hidupnya dengan pria yang tidak mencintainya dengan sepenuh hati.
Dan itu menghancurkan Anisa dari dalam dengan cara yang paling kejam.