Hujan turun lagi sejak sore, dan listrik padam sebentar sebelum generator menyala dengan bunyi rendah dari samping rumah. Pembantu sedang cuti tiga hari. Malam itu rumah besar itu hanya berisi dua orang dan selembar kertas yang menempel di pintu kulkas dengan magnet.
Naufal mengirim pesan pukul tujuh: Harto aman, saya tidak ganggu, jangan rusak kulkas. Anisa membacanya, membalas satu huruf, lalu meletakkan ponselnya menghadap ke bawah.
Ia duduk di ruang tamu dengan map kuning tertutup di pangkuan dan segelas teh yang sudah tidak panas lagi. Map itu tidak dibuka malam ini. Ia sudah membacanya tiga kali hari ini, dan orang yang membaca berkas yang sama empat kali dalam sehari biasanya bukan sedang bekerja, melainkan sedang menahan diri dari sesuatu yang lain.
Damar pulang setengah delapan, bahunya basah karena payung tidak menolong di parkiran. Ia naik, dan turun lagi dengan kaos rumah — sesuatu yang jarang terjadi, karena biasanya ia tetap memakai kemeja sampai jam sebelas seolah rumah ini kantor cabang.
Ia duduk di kursi seberang. Jauh. Jarak yang sudah diatur oleh lembar di kulkas dan tidak pernah diuji sejak ditempel.
Hujan mengisi diam mereka cukup lama.
Anisa hampir mengucapkan terima kasih karena syarat-syaratnya didengar dan dijalankan. Ia menahannya di tenggorokan. Kalimat itu, di rumah ini, akan terdengar seperti tiket — seperti pintu yang ia buka sendiri untuk hal-hal yang belum ia setujui.
Damar hampir mengatakan jangan pulang ke kos lagi. Ia juga menahannya. Kalimat itu akan terdengar seperti kandang, dan ia sudah cukup lama belajar mendengar kalimatnya sendiri dari sisi seberang meja.
'Ayam Ibu,' kata Anisa akhirnya, karena harus ada yang bicara. 'Kaku. Tapi jujur. Saya tidak berubah jadi anaknya cuma karena satu panci.'
'Tidak,' kata Damar. 'Dan saya tidak berubah jadi suami yang benar cuma karena ibu saya masak.'
Ia diam sebentar, lalu melanjutkan dengan suara yang lebih rendah dari biasanya.
'Saya takut.'
Anisa mengangkat wajahnya.
'Takut melanggar lembar itu,' kata Damar. 'Dan takut tidak melanggarnya, lalu rumah ini tetap salah bentuk sampai selamanya. Dua-duanya saya takutkan malam ini, dan saya tidak tahu mana yang lebih besar.'
Anisa menatapnya lama. Ia lelah — lelah yang sudah seminggu duduk di ototnya dan tidak hilang oleh tidur.
'Saya juga takut,' katanya. 'Takut maaf yang murah. Takut badan saya jadi alat bayar. Poin satu di lembar itu bukan hiasan, Pak: tidak ada ranjang sebagai penebus. Hafal malam ini?'
'Hafal.'
Damar berdiri, mengisi gelasnya di dapur, dan kembali. Ia meletakkan gelas Anisa di meja rendah — di sisi yang jauh dari tangan Anisa, sengaja, supaya tidak ada jari yang bersentuhan waktu diambil. Anisa mengambilnya sendiri.
Ia lalu duduk satu kursi lebih dekat. Masih di kursi, bukan di sofa yang sama. Masih hormat.
'Kalau saya minta maaf sekarang, kau akan memotongnya,' kata Damar.
'Saya akan memotongnya.'
'Makanya saya tidak minta. Saya cuma ada di sini. Sebagai sekutu, atau orang, atau apa pun yang bukan tagihan. Jangan dibaca lebih dari itu.'
Anisa tidak mundur. Ia juga tidak maju.
'Saya membacanya sebagai orang,' katanya. 'Dan itu justru yang berbahaya, karena saya juga cuma orang.' Ia meletakkan gelasnya. 'Jadi begini supaya jelas malam ini. Kalau kita bersentuhan sebagai pembayaran hukuman, besok pagi saya ke kos, dan itu bukan ancaman, itu jadwal. Kalau bersentuhan sebagai dua orang tanpa ada yang menagih maaf — saya belum siap. Jadi jawabannya tidak. Hampir, ditahan. Selesai di kepala, bukan di kamar.'
Damar menarik napas panjang. Rahangnya bergerak sekali.
'Hafal,' katanya. 'Hampir. Ditahan. Bukan bayaran.' Lalu, setengah kalimat yang tidak ia selesaikan, 'Saya hampir—'
Ia berhenti. Tangannya ada di meja, dekat tangan Anisa, tidak sampai. Jaraknya mungkin lima sentimeter, mungkin kurang.
Anisa melihat jarak itu. Ia tidak menutupnya. Ia juga tidak menariknya lebih lebar.
'Lima sentimeter,' katanya. 'Cukup untuk malam ini. Saya ke kamar tamu. Anda ke kamar utama. Lembar di kulkas tetap berlaku. Besok Faris. Nama saya belum bersih. Dan cinta tidak ada di lembar itu, jadi jangan dimasukkan diam-diam.'
Damar menarik tangannya lebih dulu, pelan, supaya tidak terlihat seperti direbut.
Anisa naik. Hujan berhenti sekitar tengah malam.
Di ruang tamu, Damar sempat menulis dua kata di kertas tempel — hampir, arsip — lalu mencabutnya sebelum menempelkannya di mana pun, karena kertas tempel di ruang tamu berarti ada yang bisa membacanya, dan malam ini bukan milik siapa pun kecuali dua orang. Ia meremasnya dan menyimpannya di kepala.
Anisa juga menyimpannya di kepala.
Paginya semuanya berjalan biasa. Lembar di kulkas dibaca sekilas seperti tiap pagi. Ada kertas tempel bertuliskan satu nama — Faris — di sisi kanan, dan itu yang jadi topik sarapan.
Naufal datang pukul delapan dan tidak bertanya soal hujan. Ia bertanya soal Faris, dan Damar menjawab soal Faris, dan Anisa menjawab dengan map kuningnya.
Salsa mengirim pesan siang itu, seperti biasa tanpa basa-basi: kalau dia kaku aneh semalam, itu artinya dia sedang menahan diri, dan itu bagus.
Anisa membacanya, hampir tersenyum, lalu membalas satu kata dan kembali ke halaman timeline yang belum selesai.