Ibu Wijaya datang siang, tanpa hinaan di foyer. Tas belanja, muka kaku, rambut rapi. Damar sudah di kantor — Naufal kirim peringatan: *Ibu masak. Lo jangan dramatis. Anisa — lembar poin tiga: tidak hina. Ibu juga tidak dipaksa suka.* Anisa baca kulkas dulu, ritual, lalu ke dapur.
Ibu sudah di kompor. Nasi, ayam, sayur yang terlalu rapi untuk orang yang pernah bilang *jangan panggil Ibu*. Anisa berdiri di ambang, tidak masuk tanpa izin.
'Masuk,' kata Ibu, tidak menoleh. 'Duduk. Jangan bantu. Saya yang masak. Bukan peluk. Bukan restu menantu. Saya masak karena Harto jujur dan kau tidak jual Dita di panggung. Itu saja. Makan. Diam boleh.'
Anisa duduk. 'Terima kasih. Saya tidak minta peluk. Saya tidak panggil Ibu kalau Ibu tidak mau. Lembar di kulkas — saya tidak hina di depan Anda; saya harap sebaliknya juga. Bukan ancam. Kontrak rumah.'
Ibu angguk pendek. 'Saya baca foto lembar dari Damar. Aneh. Benar. Faris — kejar. Kau — makan. Damar bilang kau saksi perang. Saya belum suka. Saya tidak yakin kau pembunuh. Dua kalimat itu hidup bersama. Hafal.'
'Hafal,' kata Anisa. 'Saya juga belum minta disukai. Saya minta nama bersih. Ayam ini — saya makan sebagai manusia, bukan sebagai tebus.'
Ibu hampir — hampir — angguk hormat. Diganti: 'Makan.' Mereka makan di meja dapur, bukan meja panjang vonis. Diam. Sendok. Ibu sekali: 'Dita suka ayam ini. Saya tidak masak ini untuk mengganti Dita dengan kau. Saya masak karena tangan saya perlu kerja selain marah.' Anisa: 'Saya mengerti. Saya tidak duduk di kursi Dita. Saya duduk di kursi syarat.' Ibu tidak membalas. Cukup.
Damar pulang sore, lihat dua piring, kaku. 'Ma. Anisa.' Ibu: 'Saya pulang. Jangan peluk di depan saya. Jangan hina dia di depan saya. Dua-duanya jelek. Kejar Faris.' Pintu. Mobil. Habis.
Anisa di dapur cuci piring sendiri — bukan tebus; sisa ayam. Damar jarak. 'Dia lunak setengah. Kaku. Bukan peluk. Skor. Lembar tidak dilanggar.' Anisa: 'Skor duka yang mendengar. Saya tidak euforia jadi menantu. Saya catat ayam. Kerja Faris.' Chat Salsa: `Ibu masak. Kaku. Bukan peluk. Aku makan.` Salsa: `Progress aneh. Jangan jadi anak baik. Kulkas.`
Malam Damar ke foto Dita: 'Ma masak untuk Anisa. Bukan ganti kau. Tangan Ma perlu kerja. Aku kejar Faris.' Foto diam. Anisa di kamar tamu menulis lembar: *Ibu lunak setengah. tidak hina. ayam. bukan restu.* Pagi kulkas. Ritual. Ibu chat Damar: *Saya tidak datang tiap hari. Sekali cukup. Jangan paksa saya suka.* Damar sampaikan. Anisa: 'Tidak paksa. Terima ayam. Tagihan nama bersih tetap.' Rumah salah bentuk dapat satu siang kaku yang tidak kejam. Cukup untuk bab lunak setengah — pintu ke malam yang lebih berbahaya daripada ayam.
Naufal siang: 'Ibu kaku = bagus. Faris diam = tidak bagus. Teman pesta goyah. Gugatan mungkin. Lo berdua jangan rusak kulkas karena ayam hangat.' Damar: 'Tidak rusak. Jarak hormat.' Anisa di taman 15 menit, laporkan, napas. Ayam di perut. Lembar di magnet. Perang di sticky. Lunak setengah bukan damai. Damai belum. Nama bersih belum. Tapi dapur hari itu tidak jadi altar. Itu cukup untuk manusia yang baru pulang dengan kertas.
Sore setelah Ibu pergi Anisa tidak memamerkan ayam ke Salsa sebagai kemenangan menantu. Ia tulis rumus: *duka + kerja tangan = masak. bukan restu.* Damar di ruang kerja, tidak usir Anisa dari ambang. 'Ma kaku. Aku kaku. Ayam… aneh.' Anisa: 'Aneh sehat. Jangan jadikan ayam alasan lima senti malam ini. Lembar. Faris.' Damar angguk. Pembantu simpan sisa; Anisa: 'Jangan buang. Bukan relik. Makan siang besok. Manusia.'
Pagi Ibu tidak datang. Chat ke Damar: *Sekali. Jangan undang tiap minggu.* Damar sampaikan. Anisa: 'Sekali cukup. Saya tidak lapar restu. Saya lapar bersih.' Naufal: 'Lunak setengah tercatat. Gugatan window. Jaga dapur jangan jadi altar baru.' Mereka jaga. Ayam habis sebagai makanan. Dapur kembali kompor. Lunak setengah tersimpan di map, bukan di dinding. Cukup.
Damar malam hampir sampaikan ke Anisa bahwa Ibu bilang *jangan paksa saya suka* — sudah. Ia tambah: 'Ma tidak akan masak tiap minggu. Sekali. Jangan harap ritual.' Anisa: 'Tidak harap. Ayam bukan tiket lima senti. Faris. Gugatan window Naufal.' Mereka kopi jauh. Dapur kaku kemarin; pagi ini kompor dingin. Hormat. Bukan keluarga iklan. Saksi perang yang sempat makan ayam bersama duka yang bekerja dengan tangan. Cukup untuk menutup lunak setengah tanpa restu palsu.
Naufal lewat dapur, cium bau ayam sisa, tidak komentar romansa. 'Faris. Raka. Gugatan. Lo jangan undang Ibu lagi minggu ini — dia bilang sekali.' Damar: 'Sekali. Anisa tidak dipaksa suka. Ma tidak dipaksa masak.' Anisa di kamar tamu buka map, tulis *ayam kaku* di pinggir timeline sebagai cuaca rumah, bukan sebagai bukti lab. Cuaca. Hormat. Perang. Pagi ketiga kulkas. Lembar. Tidak ada Ibu di kompor. Ada sticky FARIS. Lunak setengah sudah. Gigi Faris menyusul. Cukup.
Salsa minta foto ayam — Anisa tolak. 'Bukan konten. Duka masak. Hormat.' Salsa: `Hormat. Jaga kulkas.` Damar di kantor kerja Faris. Anisa di map. Dapur kaku jadi arsip. Restu palsu tidak lahir. Ayam habis. Perang lanjut. Cukup untuk manusia.