Gugatan datang pagi: pencemaran nama baik atas nama Faris Adinata terhadap Anisa — “tuduhan tanpa dasar, merusak reputasi, minta cabut pernyataan, ganti rugi, permintaan maaf publik”. Tembusan ke Damar, ke Mahesa, ke portal yang memuat Harto. Om di belakang kertas, senyum di surat pengacara.
Anisa baca di ruang tamu, map di pangkuan, muka pucat lalu datar. 'Serang balik. Saya hampir dicekal dulu. Sekarang digugat. Pola: bungkam dengan kertas. Saya tidak cabut Harto. Saya tidak maaf ke Faris. Legal?'
Damar sudah di telepon sebelum selesai kalimat. 'Naufal. Legal. Bela Anisa. Instruksi saya: Mahesa lawan. Bukan damai. Bukan NDA. Bukan buang istri ke ganti rugi. Publik — suami bela. Kontrol, bukan circus. Faris mau kertas; kita kasih kertas yang lebih berat.'
Naufal di speaker: 'Siap. Anisa — jangan komentar sendiri. Jangan Salsa perang di WA guru. Dokumen ke saya. Lo di rumah. Lembar kulkas hidup; gugatan bukan alasan cage.'
Anisa: 'Tidak cage. Saya saksi. Saya tergugat sekarang. Nama bersih jadi medan kertas. Lelah. Tidak mundur.'
Salsa telepon, marah. 'Sampah. Aku saksi ancaman parkiran. Pakai.' Anisa: 'Naufal. Jangan sendiri.' Ibu chat Damar: *Faris menggugat perempuan itu?* Damar: *Ya. Kita lawan. Ma, jangan koran.* Ibu: *Lawan. Dita tidak dibela dengan bungkam.*
Siang legal Mahesa rapat. Damar hadir, Anisa hadir sebagai klien yang dilindungi perusahaan — pertama kali status itu tertulis, bukan hanya sticky. Pengacara: 'Kita jawab: pernyataan Anisa dilindungi fakta Harto, metadata, CCTV foyer, ancaman Salsa. Gugatan Faris = SLAPP. Minta ditolak. Kontra: kita siapkan.' Damar: 'Kontra. Nama saya di instruksi. Suami bela istri di jalur hukum — catat untuk publik terbatas, bukan talkshow.'
Anisa di kursi, jarak. 'Saya tidak minta bela roman. Saya minta bela fakta. Kalau Mahesa bela karena saham — bilang. Saya tetap terima oksigen. Kalau bela karena instruksi perang — saya catat sebagai sekutu.'
'Dalam instruksi perang,' kata Damar. 'Saham bonus. Kau bukan umpan ganti rugi. Hafal.'
Sore surat jawaban disusun. Anisa koreksi satu kalimat “istri tercinta” — diganti “Anisa, saksi dan pihak yang dirugikan fitnah”. Damar terima. 'Sekutu mengedit. Bagus.' Naufal: 'Faris kira lo mundur karena lelah publik. Lo lawan. Dia retak di teman pesta — saya tekan. Cliff pengakuan: waktu.'
Malam Anisa di kulkas, baca lembar, tambah sticky kecil di pinggir magnet: *GUGATAN. TIDAK CABUT. TIDAK CAGE.* Damar jauh. 'Masih saksi perang?' Anisa: 'Masih. Tergugat. Tidak berdosa. Akan buktikan di kertas juga. Anda bela — sebagai perang. Terima kasih oksigen. Bukan maaf. Bukan cinta.' Damar: 'Oksigen. Kerja. Tidur kamar tamu. Jangan baca komentar gugatan.' Anisa: 'Hafal.' Chat Salsa: `Digugat. Mahesa bela. Aku tidak cabut.` Salsa: `Law. Jangan sendirian di portal.`
Pagi portal kecil: *CEO Mahesa instruksikan legal bela istri dalam gugatan Adinata.* Pertama kali publik: suami bela. Anisa lihat judul, tidak dalam. Damar: 'Kontrol. Bukan couple. Faris akan marah. Teman pesta — Naufal.' Rumah salah bentuk punya tim lawan. Gugatan adalah peluru balik. Lembar kulkas tidak copot. Nama bersih sekarang juga nama di surat kuasa. Cukup untuk membuka hari bela — dan untuk menekan saksi pesta sampai retak.
Anisa ke legal lagi siang, tanda kuasa. Tangan stabil. Damar tidak pegang bahu di koridor kantor — publik salah baca. Naufal: 'Judul portal sudah. Lo diam. Fakta bicara di surat.' Salsa antar pernyataan ancaman, pergi. Ibu tidak ke media. Faris lewat pengacara sodor damai cepat: cabut, damai. Anisa: 'Tolak. Pola Om.' Damar: 'Tolak. Kontra.' Malam kulkas. Lembar. Sticky gugatan. Kamar tamu. Lima senti arsip. Bela kertas, bukan kulit. Anisa tidur sebagai tergugat yang tidak cabut Harto. Damar tidur sebagai instruksi, bukan sebagai pangeran. Tim lawan menyusul pagi. Serang balik Faris gagal jadi bungkam; ia jadi medan. Nama bersih sekarang punya nomor perkara. Tagihan tetap. Mundur tidak. Cukup.
Pengacara Faris kirim deadline cabut 3x24 jam. Anisa: 'Tidak cabut. Harto tetap. Raka menyusul.' Damar tanda instruksi kontra di meja CEO, spidol sama dengan sticky FARIS. 'Tim lawan. Publik bela. Bukan talkshow.' Anisa di rumah, map, nomor perkara di lembar kuning. Tergugat. Saksi. Sekutu. Lelah. Maju. Salsa: `Deadline sampah. Abaikan.` Anisa: `Abaikan. Legal.` Gugatan adalah gigi Faris yang sudah aus; tetap gigit. Rumah tidak copot kulkas. Cukup untuk masuk mesin bela.
Damar rapat legal tiga jam. Anisa di mansion dengan Salsa filter HP. Nomor perkara di kertas kuning. 'Saya tergugat karena bicara. Saya tetap bicara lewat legal.' Salsa: 'Benar. Jangan portal.' Malam Damar pulang, jarak. 'Kontra jalan. Bela publik terbatas. Bukan cinta di koran. Fakta.' Anisa: 'Fakta. Kamar tamu. Lembar. Terima kasih oksigen.' Tidak lima senti. Gugatan mengisi meja. Hampir kemarin tetap arsip. Serang balik gagal bungkam. Cukup.
Legal hitung hari. Anisa hitung rubrik. Damar hitung Faris. Nomor perkara di map. Tergugat maju. Cabut tidak. Harto tidak dijual. Raka antre. Tim lawan antre. Kulkas hidup. Kamar tamu. Bela kertas. Cukup.
Naufal: 'Deadline cabut diabaikan. Kontra terdaftar. Portal bela. Raka malam.' Anisa angguk. Damar angguk. Tergugat tidak cabut. Suami bela di kertas. Faris gigit. Gigi aus. Nama bersih di nomor perkara. Tidak cabut. Cukup.