Pernikahan Damar Wijaya dan Anisa berlangsung dengan dingin di kantor catatan sipil, dengan hanya mereka berdua dan dua orang saksi yang disewa oleh Damar. Tidak ada gereja besar, tidak ada tamu, tidak ada perayaan. Hanya ada Damar dan Anisa, dengan janji pernikahan yang hampa, dengan cincin yang tidak berarti, dengan kebenaran yang kejam bahwa pernikahan ini bukan tentang cinta.
Pernikahan ini tentang balas dendam. Pernikahan ini tentang hukuman. Pernikahan ini tentang membuat Anisa menderita setiap hari untuk membayar kesalahan yang tidak pernah ia lakukan.
Anisa mengenakan dress putih sederhana yang ia beli dengan uang terakhirnya, rambutnya diikat rapi, dan berdiri di depan petugas catatan sipil dengan tatapan yang kosong, dengan hati yang hancur. Damar berdiri di sampingnya dengan jas hitam yang rapi, dengan tatapan yang dingin, dengan tatapan yang sudah tidak lembut lagi.
Petugas catatan sipil berbicara tentang cinta, tentang komitmen, tentang janji untuk saling menjaga dalam suka dan duka. Tapi kata-kata itu terdengar hampa di telinga Anisa, karena ia tahu ini bukan pernikahan tentang cinta. Ini bukan pernikahan tentang komitmen. Ini bukan pernikahan tentang janji untuk saling menjaga dalam suka dan duka.
Pernikahan ini tentang balas dendam. Pernikahan ini tentang hukuman. Pernikahan ini tentang membuat Anisa menderita setiap hari untuk membayar kesalahan yang tidak pernah ia lakukan.
'Saya berjanji untuk mencintaimu, Anisa, dengan sepenuh hati, dengan cara yang tidak bisa aku jelaskan, dengan cara yang menakutkan,' kata Damar ketika diminta mengucapkan janji, dengan suara yang dingin, dengan tatapan yang dingin, dengan tatapan yang sudah tidak lembut lagi.
Tapi dalam hatinya, Damar bersumpah bahwa ia tidak akan menepati janji itu. Ia tidak akan mencintai Anisa dengan sepenuh hati. Ia tidak akan melindungi Anisa, tidak akan menjaga Anisa, tidak akan tidak pernah meninggalkan Anisa. Ia akan menghancurkan Anisa dari dalam, dengan cara yang paling kejam, dengan cara yang paling menyakitkan, dengan cara yang paling tidak bisa Anisa bayangkan.
Anisa menatapnya dengan tatapan yang kosong, dengan air mata yang mengalir di wajahnya. 'Saya berjanji untuk mencintaimu, Damar, dengan sepenuh hati, dengan cara yang tidak bisa saya jelaskan, dengan cara yang menakutkan. Saya berjanji untuk melindungimu, untuk menjagamu, untuk tidak pernah meninggalkanmu.'
Damar memasangkan cincin di jari manis Anisa, dan Anisa memasangkan cincin di jari Damar. Mereka tidak lagi hanya dua orang asing yang berbagi kebenaran yang kejam. Mereka adalah suami istri yang sudah menikah dengan janji yang hampa, dengan cincin yang tidak berarti, dengan kebenaran yang kejam bahwa pernikahan ini bukan tentang cinta.
'Anda sekarang resmi menjadi suami istri,' kata petugas catatan sipil, tersenyum pada mereka berdua. 'Damar, kau boleh mencium istrimu.'
Damar tidak mencium Anisa. Ia tidak menyentuh Anisa. Ia hanya menatapnya dengan tatapan yang dingin, dengan tatapan yang sudah tidak lembut lagi, dengan tatapan yang sudah tidak tulus lagi.
'Aku tidak akan menciumu,' kata Damar dengan suara yang dingin, dengan tatapan yang dingin, dengan tatapan yang sudah tidak lembut lagi. 'Aku tidak akan menciumu karena aku tidak mencintaimu dengan sepenuh hati. Aku tidak akan menciumu karena aku datang untuk menghancurkanmu dari dalam untuk balas dendam pada adikku.'
Anisa tidak bisa berkata apa-apa untuk waktu yang lama. Ia hanya menatap Damar, dan untuk pertama kalinya, ia melihat bahwa Damar tidak seperti pria yang baik yang pernah ia bayangkan. Damar tidak seperti pria yang lembut, pria yang tulus, pria yang mencintainya dengan sepenuh hati. Damar tidak seperti pria yang baik.
Damar tidak seperti itu. Damar tidak seperti itu sama sekali.
Mereka keluar dari kantor catatan sipil dengan keheningan yang tidak bisa dijelaskan, dengan kebenaran yang kejam bahwa pernikahan ini bukan tentang cinta, dengan kebenaran yang kejam bahwa pernikahan ini tentang balas dendam.
Damar membawa Anisa ke mansion besar Mahesa Group di kawasan elite, dengan hanya mereka berdua dan keheningan yang tidak bisa dijelaskan. Anisa tidak tahu apa yang akan terjadi di mansion itu. Anisa tidak tahu apa yang Damar rencanakan untuknya. Anisa hanya tahu bahwa ia sudah menikah dengan pria yang tidak mencintainya dengan sepenuh hati, bahwa ia sudah menikah dengan pria yang datang untuk menghancurkannya dari dalam, bahwa ia sudah menikah dengan pria yang tidak ingin membuatnya bahagia.
Malam itu, ketika mereka masuk ke kamar tidur besar di lantai dua mansion itu, Anisa menatap Damar dengan tatapan yang kosong, dengan air mata yang mengalir di wajahnya, dengan kebenaran yang kejam bahwa pernikahan ini bukan tentang cinta.
'Damar, aku tidak tahu apa yang kau rencanakan untukku,' kata Anisa dengan suara yang pelan, dengan air mata yang mengalir di wajahnya. 'Aku tidak tahu apa yang kau inginkan dariku. Aku tidak tahu apa yang kau harapkan dariku.'
Damar menatapnya dengan tatapan yang dingin, dengan tatapan yang sudah tidak lembut lagi, dengan tatapan yang sudah tidak tulus lagi. Ia tidak berkata apa-apa untuk waktu yang lama. Ia hanya menatap Anisa dengan tatapan yang dingin, dengan tatapan yang sudah tidak lembut lagi, dengan tatapan yang sudah tidak tulus lagi.
'Aku tidak ingin apa-apa darimu, Anisa. Aku tidak mengharapkan apa-apa darimu. Aku hanya ingin kau menderita setiap hari untuk membayar kesalahanmu, untuk membayar untuk apa yang sudah kau lakukan pada adikku, untuk menebus kecelakaan yang membunuh adikku.' Damar menatapnya dengan tatapan yang dingin, dengan tatapan yang sudah tidak lembut lagi, dengan tatapan yang sudah tidak tulus lagi. 'Dan aku tidak akan berhenti sampai kau hancur seperti adikku hancur.'
Anisa tidak bisa berkata apa-apa untuk waktu yang lama. Ia hanya menatap Damar, dan untuk pertama kalinya, ia melihat bahwa Damar tidak seperti pria yang baik yang pernah ia bayangkan. Damar tidak seperti pria yang lembut, pria yang tulus, pria yang mencintainya dengan sepenuh hati. Damar tidak seperti pria yang baik.
Damar tidak seperti itu. Damar tidak seperti itu sama sekali.
Anisa tidak tahu apa yang harus ia lakukan. Anisa tidak tahu apa yang harus ia katakan. Anisa tidak tahu apa yang harus ia rasakan. Anisa hanya tahu bahwa hidupnya hancur tanpa alasan yang jelas, bahwa ia sudah menikah dengan pria yang tidak mencintainya dengan sepenuh hati, bahwa ia sudah menikah dengan pria yang datang untuk menghancurkannya dari dalam.
Dan untuk pertama kalinya, Anisa merasa bahwa ia tidak sendirian lagi dengan cara yang paling kejam.
Dan untuk pertama kalinya, Damar merasa bahwa balas dendamnya tidak akan semudah yang ia kira.