Mansion tanpa Anisa terasa lebih besar daripada saat Ibu hina di ruang tamu. Damar ke kantor. Rapat. Angka. Chandra puji “narasi membaik”. Damar tidak puji. Ia pulang siang karena tidak tahan kursi. Rumah: sticky FARIS, sticky HARTO, sticky kulkas *MAAF DITOLAK*. Kopi Anisa kemarin masih di wastafel — pembantu tanya buang; Damar: 'Buang. Jangan jadi altar.' Ia tidak mau kopi jadi relik.
Naufal masuk ruang kerja rumah tanpa ketuk lama. 'Lo kacau. Closing lo tunda dua kali. Lo bukan kehilangan alat tebus. Lo kehilangan orang. Bedakan. Alat tebus lo ganti dengan legal. Orang — tidak. Anisa di kos bukan strategi musuh. Dia napas. Lo mau dia balik sebagai budak dendam — dia tidak balik. Lo mau dia balik sebagai saksi perang — tulis syarat di kepala, jangan di lutut.'
Damar duduk, kepala di tangan. 'Aku tahu. Aku hampir maafkan diri dengan maafnya. Salah. Rumah ini kosong. Aku yang bikin kosong dari awal dengan hukuman. Sekarang kosong karena dia pilih napas. Lebih jujur. Lebih… sakit.'
'Sakit sehat,' kata Naufal. 'Faris diam. Saya gali teman pesta. Ada yang goyah. Jangan lo rusak dengan jemput dramatis. Seminggu. Lo kerja. Lo kirim update perang ke saya; saya filter ke Anisa kalau dia minta. Jangan spam.'
Damar: 'Tidak spam. Satu update malam — ke kamu. Hidup dia — kamu yang pegang.'
Malam mansion sunyi. Damar makan di meja panjang sendirian, lalu berhenti, pindah ke dapur — lebih jujur. Foto Dita di ruang kerja: 'Dia napas. Aku tidak usir. Aku juga tidak pegang. Faris — aku kejar. Maaf ke Anisa — belum. Rubrik.' Chat Anisa kosong. Ia tidak isi. Ibu telepon: 'Rumah?' Damar: 'Kosong. Dia di kos teman. Napas.' Ibu: 'Bagus aneh. Jangan hancur di kantor. Kejar Faris. Perempuan itu… tidak saya usir dari perang.' Damar: 'Tidak. Terima kasih, Ma.' Tutup. Aneh. Benar.
Hari kedua Damar hampir ke alamat kos — Naufal kunci jadwal: rapat, lab, Bimo, teman pesta. 'Lo datang sekarang = lutut lagi. Lo datang hari keenam dengan syarat di kertas = manusia.' Damar patuh, marah, patuh. Kerja. Closing. Legal. Satu malam ia berdiri di ranjang sisi jauh yang kosong, tidak tidur di situ — pindah ke kamar tamu. Ranjang hukuman tidak ia pakai sendirian sebagai teater rindu. Naufal: 'Progress. Lo tidak dramatis ke sprei. Rare.'
Anisa di kos dapat ringkas Naufal: *Faris diam. Teman pesta goyah. Bos kacau tapi kerja. Lo napas.* Anisa: `Napas. Terima kasih filter.` Salsa: 'Dia kacau. Bagus. Jangan pulang karena kasihan kacau.' Anisa: 'Tidak. Seminggu. Hari ketiga. Saya masih miskin napas, belum miskin keputusan.'
Hari keempat Damar di board lebih tajam dari biasa — orang kira marah saham. Naufal tahu marah rumah kosong. Setelah rapat: 'Lo kehilangan orang. Ulang. Bukan alat. Kalau lo perlakukan dia sebagai alat yang dipinjam ke kos — dia tidak balik. Kalau orang — syarat. Tulis draf syarat dari sisi lo: apa yang lo minta, apa yang lo kasih. Jangan hanya minta pulang.'
Damar menulis malam itu di kertas, bukan sticky: *Pulang sebagai saksi perang, bukan budak dendam. Jarak hormat. Tidak hina. Tidak lutut maaf murah. Akses berkas. Faris pusat. Rumah bukan hukuman.* Ia tidak kirim. Simpan. Hari kelima kertas itu di laci. Rumah masih kosong. Kerja masih jalan. Orang masih di kos 3x4 yang jujur. Damar tidur di kamar tamu. Bukan altar. Bukan tebus. Kosong yang jujur — lebih baik daripada penuh hukuman. Sakit. Sehat. Naufal benar. Ia kehilangan orang. Kejar Faris tidak mengisi ranjang. Jemput dengan syarat — besok, atau lusa, ketika seminggu hampir penuh dan napas Anisa sudah cukup untuk dengar tanpa langsung menolak manusia.
Hari kelima malam Damar buka laci cerai, lihat, tutup. Bukan cambuk. Opsi. Ia tidak kirim foto laci ke Anisa — teater. Naufal: 'Teman pesta minta jaminan aman. Saya kasih kerangka. Lo jangan jemput malam. Siang. Kertas.' Damar menyalin syarat ke lembar bersih, tangan lebih rapi dari biasa. *Saksi perang. Bukan budak.* Kalimat Naufal *kehilangan orang* menempel di kop. Ia tidak tidur di ranjang hukuman. Kamar tamu. Rumah kosong mengajarkan ukuran: tanpa Anisa, sticky FARIS hanya kertas; dengan orang, perang punya saksi. Ia ingin saksi kembali. Ia tidak berhak menagih tanpa syarat. Pagi keenam Naufal angguk. 'Sekarang. Siang. Tidak bunga.' Damar ke gang kos dengan lembar, bukan dengan lutut. Rumah kosong ditinggal sebentar — jujur, sakit, siap diisi kontrak kalau Anisa mau. Kalau tidak, kosong tetap jujur. Lebih baik daripada penuh budak.
Pembantu mansion bertanya menu dua porsi; Damar: 'Satu. Saya. Nyonya napas. Jangan gosip.' Ia makan di dapur. Sticky kulkas Anisa ia biarkan sampai jemput — pengingat tolak maaf, bukan altar. Malam keenam ia latihan baca syarat di kaca jendela: saksi perang, bukan budak. Suara sendiri aneh. Naufal: 'Aneh sehat. Siang kos. Lima belas menit. Salsa rem.' Damar angguk. Rumah kosong sudah mengajar cukup. Orang di kos 3x4 menunggu kertas, bukan lutut. Ia bawa lembar. Tidak bunga. Tidak jas berlebihan. Kerja jemput: tawar manusia, bukan tawar tebus. Kosong boleh diisi besok kalau Anisa tanda. Kalau tidak, kosong tetap. Sakit. Jujur. Cukup.