Sore Damar pulang lebih awal karena Naufal kirim: *Anisa tulis sticky kulkas. Lo pulang. Jangan lutut.* Damar masuk, lihat kulkas, lihat tas kecil di kaki tangga, lihat Anisa duduk dengan map kuning di pangkuan.
'Saya ke kos Salsa seminggu,' kata Anisa sebelum ia sempat bicara. 'Jarak sadar. Bukan kabur bukti. Bukan mundur dari Faris. Bukan tanda cerai. Saya tidak bawa seluruh hidup — baju, map salinan, HP. Asli Harto di brankas Anda dan Naufal. Salsa punya cuplikan. Saya tidur di kamar yang tidak pernah jadi hukuman. Seminggu. Legal tetap. Saya tetap saksi. Saya tetap sekutu dari jauh. Kalau Anda baca ini sebagai kalah — salah baca. Kalau Anda baca sebagai hukuman balik ke Anda — juga salah. Ini napas.'
Damar berdiri di foyer, jas masih, tangan di saku supaya tidak turun lutut lagi. 'Seminggu. Alamat kos Naufal tahu — pengamanan. Saya tidak datang tiap hari. Saya tidak cage. Faris — saya kejar. Om — diam berbahaya. Kau… napas. Saya dengar.'
'Anda dengar,' ulang Anisa, hampir terkejut. 'Bagus. Jangan jemput malam ini dengan bunga. Jangan maaf di pintu kos. Jangan Ibu ke kos. Salsa rem saya. Naufal rem perang. Anda — kerja tanpa saya di tangga.'
Damar angguk sekali, keras. 'Hafal. Mobil — Naufal antar. Saya tidak antar. Antar = teater. Teater = salah baca.'
Naufal di pintu sudah siap. 'Bagus urutan. Anisa — kos aman. Salsa di sana. Dua orang luar. Lo bukan kabur. Lo pindah napas. Bos — lo ke kantor. Jangan ikut.'
Anisa berdiri, tas, map. Di depan sticky FARIS ia berhenti. 'Nama itu tetap. Saya tidak cabut perang. Saya cabut tidur di rumah yang masih berbau hukuman sementara Anda belajar maaf. Bedanya penting.'
Damar: 'Penting. Pergi. Kabar satu kali sehari ke Naufal — hidup. Ke saya — kalau mau. Tidak wajib.'
Anisa hampir tersenyum — kecil, lelah. 'Satu kali ke Naufal. Ke Anda — mungkin. Sekutu dari jauh. Bukan istri tebus yang pulang karena takut miskin. Saya tidak miskin bukti lagi. Saya miskin napas. Itu saja.'
Mobil. Mansion di kaca. Anisa tidak menoleh lama. Salsa di kos buka pintu dengan muka perang yang melembut satu milimeter. 'Masuk. Tidak ada CEO. Ada teh. Ada kamar 3x4 yang jujur. Seminggu. Kalau mau perpanjang — bilang. Kalau mau pulang dengan syarat — tulis. Jangan pulang karena kasihan dia lutut.'
'Saya tidak kasihan lutut,' kata Anisa. 'Saya kasihan diri saya yang hampir maafkan murah karena lelah. Di sini saya tidak lelah itu.'
Malam pertama di kos: bunyi tetangga, keran, Salsa di luar kamar dengan laptop sekolah. Anisa taruh map di meja kecil. Chat Naufal: `Hidup. Kos. Jarak sadar.` Naufal: `Dicatat. Bos kacau diam. Lo tidur.` Damar tidak chat. Sticky di HP-nya sendiri: *SEMININGGU. BUKAN KALAH. JANGAN JEMPUT MALAM INI.* Ibu: *Dia ke mana?* Damar: *Napas. Bukan kabur. Jangan ke kos.* Ibu: *Baik. Jangan lutut.* Damar tidak tanya bagaimana Ibu tahu. Naufal mungkin. Atau Anisa ke Ibu tidak — tidak. Rumah duka punya telinga sendiri.
Anisa tidur di kasur tipis. Bukan sisi jauh ranjang hukuman. Satu orang. Satu napas. Perang di luar. Jarak sadar di dalam. Seminggu dimulai tanpa bunga, tanpa maaf, dengan teh Salsa yang terlalu manis dan keputusan yang tidak ia tarik kembali sebelum pagi.
Pagi Salsa ke sekolah. Anisa di kos menulis lembar: *keluar = napas. bukan mundur. Faris tetap pusat. Damar dengar. skor.* Ia tidak posting. Ia tidak ke media. Ia makan nasi goreng warung — laporkan ke Naufal lokasi. Hidup kecil. Nama bersih masih tagihan. Ranjang hukuman tidak. Cukup untuk hari pertama jarak.
Siang hari kedua Anisa ke warung lagi, laporkan, duduk di bangku plastik. Tidak ada payung hitam CEO. Ada Salsa sore, tas sekolah, cerita murid yang tidak tahu perang. 'Kamu boleh bosan damai kecil,' kata Salsa. 'Damai kecil bukan kalah.' Anisa: 'Saya tidak bosan. Saya takut pulang terlalu cepat karena kasihan rumah kosong. Rumah kosong adalah urusan dia.' Salsa: 'Benar. Seminggu. Tulis syarat kalau pulang. Jangan pulang tanpa kertas.'
Naufal kirim foto sticky FARIS dari mansion — bukan untuk merindukan; untuk konfirm perang tidak dicabut. Anisa: `Tetap. Napas.` Damar tidak muncul di thread itu. Filter hidup. Malam Anisa cuci piring di kos — bukan tebus; kos berdua. Keran berisik. Ia tidur tanpa menghitung jarak bantal ke hakim. Jarak sekarang diukur gang dan seminggu. Sah. Nama bersih masih di map. Ranjang hukuman tidak di kepala tiap kali mata tutup. Itu napas. Itu sebab ia keluar.
Hari ketiga hujan kecil. Anisa tidak ke mansion. Damar tidak ke kos. Naufal antar print ringkas teman pesta ke Salsa — Anisa baca di meja kecil. 'Goyah. Bagus. Saya tidak pulang karena goyah. Saya pulang karena napas cukup dan syarat siap.' Salsa: 'Tulis syarat malam ini. Jangan nunggu dia jemput dulu.' Anisa menulis tujuh poin di buku murid sisa. Jelas. Guru. Malam ia tidur dengan buku itu di bawah bantal — bukan roman; arsip keputusan. Seminggu bukan liburan. Seminggu adalah pabrik syarat. Rumah hukuman tidak boleh diisi lagi tanpa kertas. Cukup untuk hujan di kos yang tidak punya jendela tinggi CEO.