Hari keenam Naufal izinkan. 'Lo datang ke kos. Siang. Tidak malam. Tidak bunga. Kertas syarat. Salsa boleh dengar. Jangan lutut.' Damar bawa satu lembar — drafnya dari laci, sudah disalin rapi. Mobil biasa, bukan konvoi. Kos Salsa: gang, satpam Naufal mengangguk, pintu.
Salsa buka. 'Lima belas menit. Saya di dapur. Anisa putuskan, bukan Anda. Lutut = saya usir.'
Damar: 'Tidak lutut.'
Anisa di kamar 3x4, meja kecil, map, teh. Baju biasa. Wajah lebih tidur dari di mansion. 'Masuk. Jarak. Duduk di kursi, bukan di kasur. Bicara.'
Damar duduk. Lembar di meja, tidak dipaksa ke tangan Anisa. 'Aku tidak minta maaf murah. Aku minta kau pulang sebagai saksi perang, bukan sebagai budak dendam. Rumah bukan hukuman. Jarak hormat. Tidak hina di depan Ibu, staf, board. Akses berkas — kau baca apa yang Naufal izinkan, tidak disembunyi sebagai cage. Faris pusat. Seminggu napasmu — sah. Aku kehilangan orang, bukan alat. Kalau kau pulang, pulang dengan syaratmu. Tulis. Saya tanda. Kulkas — satu lembar. Bukan sticky dendam. Kontrak perang yang manusiawi.'
Anisa baca lembar Damar dulu, diam lama. Salsa di dapur pura-pura berisik piring. Anisa ambil kertas sendiri — sudah ditulis semalam, cadangan. 'Syarat saya: satu, jarak hormat — tidak lutut maaf murah, tidak ranjang sebagai tebus, tidak masak sebagai tebus. Dua, akses berkas perang — saya bukan anak kecil di rumah hukuman. Tiga, tidak hina di depan Ibu; Ibu juga tidak saya paksa suka. Empat, Faris dan Om tetap dikejar; saya tidak dijadikan alasan mundur. Lima, seminggu ini tidak dihitung hutang; napas tidak dibayar pulang. Enam, cerai tetap di laci sebagai opsi, bukan cambuk. Tujuh, saya boleh ke kos lagi jika rumah jadi cage. Tanda dua sisi. Satu lembar. Kulkas. Bukan altar.'
Damar baca. Tangan tidak gemetar seperti di dapur lutut. 'Tujuh. Saya tanda. Tambahan saya: Naufal saksi. Salsa salinan. Tidak rahasia dari rem.'
Salsa masuk, baca cepat. 'Masuk akal. Saya saksi. Damar — lo kacau di kantor. Anisa — lo lebih manusia di sini. Pulang atau tidak — keputusanmu. Syarat ini sah meski kau perpanjang kos.'
Anisa: 'Saya pulang besok. Bukan malam ini. Malam ini saya tidur di sini sekali lagi tanpa teater jemput. Besok siang. Kulkas. Jarak. Sekutu. Bukan budak. Bukan istri tebus. Saksi perang. Hafal?'
'Dalam hafal,' kata Damar. Suara serak. 'Besok siang. Saya tidak tunggu di pagar malam ini. Terima kasih napas — bukan sebagai tiket. Sebagai… orang. Jangan biasa.'
Anisa hampir tersenyum. 'Tidak biasa. Pergi. Kerja Faris. Saya packing kecil.'
Damar pergi. Tidak menoleh di gang seperti film. Naufal di mobil: 'Syarat. Skor. Lo tidak lutut. Rare. Besok kulkas. Jangan belanja bunga.' Damar: 'Tidak bunga. Lembar.' Ibu: *Jemput?* Damar: *Syarat. Besok. Bukan budak.* Ibu: *Baik. Saya tidak datang.*
Malam Anisa di kos packing. Salsa: 'Syarat bagus. Kalau dilanggar — kos lagi. Jangan bertahan karena cinta yang belum kamu tagih.' Anisa: 'Cinta tidak di daftar. Nama bersih di daftar. Syarat di kulkas. Cukup.' Chat Naufal: `Hidup. Pulang besok siang. Lembar dua sisi.` Naufal: `Dicatat. Brankas dan Faris tidak libur.` Anisa tidur di kasur tipis terakhir untuk seminggu itu — napas sudah lebih panjang. Pulang bukan kalah. Pulang dengan kertas. Rumah yang salah bentuk akan dicoba diisi kontrak yang lebih jujur daripada nikah hukuman. Besok kulkas. Bukan altar. Lembar.
Setelah Damar pergi Salsa duduk di kasur. 'Tujuh syarat. Dia tanda. Kamu pulang karena kertas, bukan karena lutut kemarin. Ingat bedanya kalau malam mansion terasa aneh.' Anisa: 'Ingat. Kamar tamu. Kulkas. Faris. Nama bersih.' Ia packing. Cincin status di jari — hukum, bukan tebus. Chat Ibu tidak ia buka; Damar yang urus duka. Napas seminggu hampir penuh. Kos 3x4 sudah cukup jujur untuk menulis syarat tanpa takut miskin. Pulang besok bukan kalah. Pulang sebagai orang yang punya lembar. Damar di mobil ulang kertasnya. Naufal: 'Besok kulkas. Lo langgar satu — dia kos lagi. Saya bela dia, bukan ego lo.' Damar: 'Bela dia. Syarat. Kerja.' Gang kos di kaca spion. Jemput selesai tanpa bunga. Syarat hidup. Cukup untuk malam terakhir kasur tipis.
Naufal kirim ke Anisa satu baris: *Besok foyer. Lembar. Faris tidak libur.* Anisa: `Hafal. Saksi perang.` Ia padamkan lampu kos. Kasur tipis. Tujuh syarat. Napas. Pulang bukan kalah. Jemput sudah tanpa lutut. Salsa di luar kamar: 'Tidur. Besok orang, bukan tebus.' Anisa: 'Orang. Lembar. Saksi perang. Bukan budak. Faris tetap pusat. Nama bersih tetap tagihan. Seminggu napas sudah hampir penuh. Pulang besok sebagai orang, bukan sebagai tebusan dendam di ranjang hukuman lama. Cukup untuk malam ini.'
Pagi packing selesai. Anisa baca tujuh syarat keras. Salsa paraf saksi di salinan. 'Kalau kulkas dicopot diam-diam — telepon saya.' Anisa: 'Tidak dicopot. Kalau iya — kos.' Damar kirim lewat Naufal, bukan ke Anisa langsung: *Siang. Foyer. Tidak bunga. Kamar tamu siap.* Anisa: `Siang. Lembar. Sekutu.` Jemput kemarin sudah; kembali hari ini. Syarat hidup di kertas dua sisi. Kasur tipis ditinggal tanpa drama. Napas seminggu masuk tas sebagai otot, bukan sebagai hutang. Cukup.