Ruang tertutup di lantai legal Mahesa — bukan foyer, bukan parkiran. Meja panjang. Kamera rekam izin. Naufal di sudut dengan tablet. Pengacara Faris di sisi kiri. Faris senyum tipis yang sudah aus. Damar di ujung meja, jas tanpa dasi, tangan di atas kayu supaya tidak mengepal di udara. Anisa di samping Damar — jarak satu kursi, sekutu paksa, baju biasa, map kuning tipis berisi fakta bukan pidato.
'Undangan klarifikasi,' kata Naufal datar. 'Bukan tea party. Pertanyaan soal malam kecelakaan Dita Wijaya, guest list, chat pulang bareng, ancaman ke Salsa, foto palsu, invoice lab. Jawab atau diam tercatat.'
Faris membuka mulut. Pengacaranya menahan. 'Klien saya datang dengan itikad baik. Tuduhan liar—'
'Dita dekat denganmu,' potong Damar, dingin. 'Chat pulang bareng. Kau di guest list. Kau usik Salsa di parkiran minimarket — CCTV. Kau main belasungkawa tipu di rumahku — foyer. Kau atau orang bayaranmu sebar foto palsu — metadata + security klub. Om bayar lab yang merapikan BAC Anisa — invoice. Bimo kurir dossier. Pilih: kerja sama atau kami naikkan semuanya ke jalur yang lebih ramai.'
Faris masih senyum. 'Damar, kau traumatik. Perempuan itu mengubahmu. Aku sayang Dita. Aku tidak—'
Anisa bicara pertama kali, datar, guru mode. 'Jangan pakai nama Dita sebagai perisai mulut. Saya Anisa. Saya tidak mabuk. Saya tidak menabrak. Saya berhenti di tol. Saksi resmi ada. Saya di sini bukan sebagai istri tebus. Saya sekutu fakta. Anda mengancam teman saya. Anda mengintip rumah. Anda menyebar dusta gambar. Itu cukup untuk saya duduk di meja ini tanpa takut senyum Anda.'
Faris menatap Anisa lebih lama — mengukur. Pengacara berbisik. Faris: 'Saya tidak mengaku menabrak. Saya bisa bicara soal pesta. Dita minum. Banyak orang minum. Kecelakaan rumit. Guru itu kebetulan ada. Berita memilih yang gampang. Bukan salah saya berita memilih.'
Damar maju satu senti di kursi. Naufal angkat jari — rem. Damar napas. 'Kau bilang Dita minum. Kau tidak bilang siapa mengemudi. Empat menit CCTV hilang. Kau tahu guntingan itu?'
Faris kaku. 'Saya tidak teknis.'
'Bimo teknis di mulutnya soal “fokus ke guru”,' kata Naufal. 'Invoice teknis. Kau — tengah. Kami tidak butuh pengakuan sempurna hari ini. Kami butuh kau tahu meja ini bukan altar Anisa lagi. Meja ini namamu.'
Faris berdiri. 'Saya selesai. Om akan telepon. Jangan main api.'
'Dalam api sudah menyala sejak kau lari dari tol — jika kau lari,' kata Damar. 'Keluar. Undangan berikutnya tidak semanis ini.'
Faris dan pengacara keluar. Anisa tutup map. Tangan sedikit gemetar — ia sembunyikan di bawah meja. Damar lihat, tidak pegang. 'Kau hadir. Skor. Dia belum mengaku. Kabur setengah di mulut. Lanjut.'
'Saya hadir,' kata Anisa. 'Nama bersih belum. Tapi altar saya tidak sendirian di meja itu. Cukup untuk hari ini. Jangan maaf. Kerja.'
Naufal: 'Rekaman aman. Faris panik di lift — saya punya telinga. Om bergerak cepat. Siapkan tawaran uang ke Anisa — klasik. Tolak.'
Anisa angguk. 'Uang bukan nama bersih. Tolak sudah di kepala.'
Mereka kembali ke mansion. Sticky FARIS masih di meja ruang tamu. Damar tambah sticky kecil di bawah: *HADAPI. BELUM AKU. LANJUT.* Anisa chat Salsa: `Hadir di ruang tertutup. Dia lempar kerumitan. Belum akui. Aku tidak mundur.` Salsa: `Skor. Waspada Om.` Ibu: *Bagaimana?* Damar: *Hadapi. Belum selesai. Kejar.* Malam sekutu paksa makan jauh. Tidak ada toast. Ada rekaman. Ada gemetar yang jujur. Perang terbuka sudah duduk berhadapan dengan senyum aus — dan senyum itu, untuk pertama kali, terlihat takut pada guru yang tidak saji teh.
Pagi Naufal ringkas di dapur. 'Faris bilang ke pengacara di parkiran gedung: “perempuan itu berbahaya”. Compliment. Om panggil Anisa lewat perantara — uang. Siap tolak.' Anisa: 'Siap.' Damar: 'Saya tidak ikut negosiasi uang. Saya di legal. Kau tolak sendiri supaya tercatat sebagai keputusanmu — nama bersih milikmu.' Anisa: 'Milik saya. Hafal.' Hadapi Faris sudah; pembelian waktu Om antre di pintu berikutnya dengan amplop yang tidak akan dibuka sebagai damai.
Siang legal menyusun risalah pertemuan. Anisa koreksi satu kalimat yang terlalu membela “istri CEO” — diganti “saksi fakta”. Damar terima. 'Sekutu mengedit lagi.' Naufal: 'Faris ke Om langsung. Telinga bilang Om marah ke anaknya karena “berisik”, bukan karena dosa. Klasik.' Anisa di rumah menulis ulang pertanyaan yang belum terjawab: siapa mengemudi, siapa gunting CCTV, siapa edit foto. Diagram diperbarui. Damar pulang, lihat diagram. 'Rapi. Dia takut mulutmu lebih dari mulutku.' Anisa: 'Guru vs senyum. Senyum aus.' Mereka berpapasan di depan sticky FARIS. Damar: 'Hadapi satu. Lanjut.' Anisa: 'Lanjut. Nama bersih.' Malam Salsa minta cuplikan nada Faris — Anisa tolak sebar; hanya prinsip. Pengamanan tetap. Faris yang bilang “berbahaya” tidak tahu bahaya itu adalah map kuning dan rem, bukan hysterics. Sekutu paksa tidur dengan rekaman di brankas legal — perisai baru di samping Harto. Meja tertutup sudah dipakai; meja Om dengan uang menyusul, dan Anisa sudah menulis tolak di kepala sebelum amplop datang.
Salsa minta laporan suara Anisa semalam — Anisa kirim nota teks saja: *Hadir. Takut sedikit. Maju.* Salsa: *Takut sehat.* Damar di sticky pribadi yang tidak ditempel publik: *ANISA HADIR = SEKUTU NYATA. JANGAN RUSAK DENGAN MAAF.* Pagi Ibu: *Faris?* Damar: *Hadapi. Belum akui. Kabur mulut menyusul mungkin.* Prediksi tepat. Rekaman ruang tertutup jadi tulang; tulang butuh daging publik nanti lewat Harto — urutan Naufal. Anisa latihan napas di taman 15 menit. Damar pantau dari jendela tanpa cage. Hadapi selesai sebagai bab; perang belum.