Faris tidak menghilang dari kota. Ia kabur setengah di narasi — wawancara diam-diam ke akun “peduli korban” yang Naufal tangkap sebelum viral besar: *Dita malam itu tidak stabil, minum, emosional; kecelakaan tragis; jangan salahkan satu pihak; mantan dekat berduka.* Tidak menyebut diri pengemudi. Melempar bayangan ke Dita.
Damar menonton cuplikan di ruang kerja, pintu terbuka ke koridor — bukan zona foto tertutup sepenuhnya; ia butuh Anisa mendengar. Wajahnya hijau. Tangan gemetar. 'Dia lempar Dita. Dia lempar adikku yang tidak bisa membela diri. Aku…'
Naufal di pintu. 'Jangan ledak ke media. Jangan pukul. Bantahan: “keluarga tidak menerima spekulasi yang mencemarkan almarhumah tanpa bukti; proses hukum jalan.” Anisa — jangan komentar soal Dita. Fokus namamu.'
Anisa masuk ambang, jauh dari bingkai. 'Saya sedih. Saya marah. Saya tidak menari di atas nama Dita. Faris kabur ke tubuh orang mati sebagai perisai. Itu pengecut. Anda — napas. Rem. Ibu akan hancur mendengar ini.'
Damar hampir melempar remote. Naufal tangkap remote. 'Kayu. Bukan barang elektronik.' Damar pukul meja — skor rem: kayu lagi, bukan muka Faris. 'Aku hampir ke rumahnya sekarang.'
'Hampir tercatat,' kata Anisa. 'Jangan jadi. Kita bantah. Kita naikkan Harto ke klarifikasi legal publik terbatas. Kita jangan perang di lapangan Faris — lapangan fitnah Dita. Hafal?'
Damar menatap Anisa lama, mata basah marah. 'Hafal. Kau… menahan saya. Sekutu. Bukan tebus.'
'Sekutu,' kata Anisa. 'Telepon Ibu sebelum dia baca sendiri. Jujur. Ringkas.'
Damar telepon Ibu. Suara pecah. Ibu menangis marah di ujung. 'Faris. Kejar. Jangan biarkan dia makan nama Dita.' Damar: 'Kejar. Ma, jangan koran sendiri. Legal.' Tutup. Ia duduk di lantai ruang kerja — jarang. Anisa tidak mendekat ke foto; ia duduk di koridor terlihat. 'Saya di sini. Tidak masuk altar. Hadir.'
Naufal kirim takedown + bantahan keluarga. Cuplikan Faris dipotong sebelum meledak total; sisa tetap ada di sudut. Kabur setengah berhasil menggores. Damar malam tidak tidur. Anisa di sofa perang. 'Dia tidak mengaku. Dia kabur ke Dita. Skor moral dia habis di mata kita. Di publik — masih perang.' Damar: 'Aku hampir meledak. Terima kasih rem — kau dan Naufal. Jangan biasa.' Anisa: 'Tidak biasa. Kerja. Harto besok. Om mungkin selang.' Sticky baru: *KABUR SETENGAH. DITA JANGAN DIJUAL. FARIS.* Perang kebenaran dapat peluru kotor; sekutu paksa tidak membalas dengan peluru sama. Mereka membalas dengan prosedur dan napas yang hampir putus.
Pagi Ibu datang singkat, tidak hina Anisa. 'Faris makan nama anakku. Kau — bantu kejar. Bukan sebagai menantu manis. Sebagai orang yang juga digigit.' Anisa: 'Saya kejar nama bersih. Faris di jalan yang sama. Saya tidak jual Dita.' Ibu angguk pendek, pergi ke makam. Damar antar. Anisa tinggal dengan map. Kabur setengah Faris membuat duka lebih tajam; membuat altar Anisa semakin tidak masuk akal sebagai satu-satunya setan. Itu bukan kemenangan. Itu bahan bakar yang benar.
Naufal putar ulang kalimat Faris soal Dita di ruang meeting kecil — hanya Damar dan Anisa, volume rendah. Damar mengepal. Anisa: 'Stop di menit itu. Cukup. Kita tidak dalam untuk sakit. Kita ambil untuk bantahan.' Damar angguk, matikan. Legal rilis bantahan keluarga dalam dua jam. Portal yang kemarin hati-hati memuat. Faris menghapus cuplikan — terlambat; mirror ada. Malam Damar ke makam sendirian singkat — Anisa tidak ikut; ia tunggu di mobil dengan Naufal. Damar kembali dengan mata merah. 'Aku bilang ke batu: aku tidak biarkan dia makan namamu. Aku tidak makan Anisa lagi sebagai ganti.' Anisa di mobil: 'Dicatat sebagai perang. Bukan maaf ke saya. Kerja.' Kabur setengah gagal jadi damai; ia jadi sumpah dingin dan rem di meja. Sticky: *JANGAN LEDAK. JANGAN JUAL DITA. KEJAR FARIS.* Anisa tidur dengan marah terarah — lebih sehat dari putus asa foto. Pagi siapkan Harto; Om siapkan amplop. Dua jalur.
Di dapur Anisa membuat kopi untuk diri. Damar ambil sendiri. 'Aku hampir meledak kemarin. Kau rem. Naufal rem. Saya catat hutang rem — dibayar dengan tidak buta lagi, bukan dengan bunga.' Anisa: 'Bayar dengan Faris jatuh dan nama bersih. Bunga tidak perlu.' Damar angguk. Naufal masuk: 'Cuplikan Faris soal Dita — sentimen marah ke dia naik. Bagus. Jangan lo yang tambah minyak. Harto siap?' Anisa: 'Siap. Om amplop — saya tolak nanti.' Kabur setengah jadi bumerang tipis; cukup untuk bahan bakar, belum cukup untuk vonis. Meja kayu yang dipukul Damar masih utuh. Faris belum.
Sebelum Om datang lewat konsultan, Damar latihan tidak menemani Anisa di ruang hotel — sulit. Naufal: 'Lo di lobby = tekanan. Dia harus tolak sebagai dia. Lo ikut = Om bilang lo suruh.' Damar patuh rem. Anisa di ambang hotel: 'Saya masuk sendiri. Saya keluar dengan tolak. Tunggu.' Damar: 'Tunggu. Sekutu di lobby.' Kabur setengah masih menempel di marah Damar; ia salurkan ke patuh prosedur, bukan ke pukul. Itu otot baru ketiga. Anisa masuk. Amplop metafora menunggu. Tolak sudah ditulis di kepala sejak ruang tertutup.
Setelah Ibu ke makam, Anisa rapikan map di rumah kosong sebentar. Diagram Faris–Om–Dita–kabur setengah. Ia tulis merah: *jangan balas fitnah Dita dengan fitnah balik.* Damar pulang dari makam, lihat tulisan, angguk. 'Merah benar. Harto. Om. Urutan.' Kabur setengah tertutup sebagai bab dengan otot rem yang menang tipis dan duka yang lebih tajam — bahan bakar benar untuk kejar, bukan untuk buta lagi.