Damar Wijaya tidak membiarkan Anisa pergi begitu saja setelah ia menghancurkan hidupnya. Damar tidak membiarkan Anisa pergi begitu saja setelah ia membuat Anisa kehilangan pekerjaan, kehilangan apartemennya, kehilangan tabungannya, kehilangan segalanya.
Damar menawarkan pernikahan pada Anisa dengan syarat yang tidak bisa Anisa tolak: Anisa harus menikahinya untuk menebus kesalahannya, untuk membayar untuk apa yang sudah ia lakukan pada Dita, untuk menebus kecelakaan yang membunuh adik Damar.
Anisa tidak bisa menolak tawaran itu. Ia tidak bisa menolak tawaran itu karena ia sudah kehilangan segalanya. Ia tidak bisa menolak tawaran itu karena ia tidak punya apa-apa lagi. Ia tidak bisa menolak tawaran itu karena ia tidak punya siapa-siapa lagi.
Damar menemukan Anisa di taman kecil itu lagi, beberapa hari setelah ia menghancurkan hidup Anisa. Anisa masih duduk di bangku yang sama, dengan tas kecil berisi semua barangnya di pangkuannya, dengan tatapan yang kosong, dengan hati yang hancur.
Damar tidak berdiri di depannya dengan payung hitam kali ini. Damar hanya duduk di bangku di samping Anisa, dengan tatapan yang dingin, dengan tatapan yang penuh dengan dendam yang sudah mengakar.
'Aku punya tawaran untukmu, Anisa,' kata Damar dengan suara yang dingin, dengan tatapan yang dingin, dengan tatapan yang sudah tidak lembut lagi. 'Tawaran yang akan mengembalikan semua yang sudah kau kehilangan. Tawaran yang akan mengembalikan pekerjaanmu, apartemenmu, tabunganmu, semua yang sudah kau kehilangan.'
Anisa menatapnya dengan tatapan yang tidak bisa dibaca, dengan tatapan yang tidak tahu apa yang Damar bicarakan. 'Saya tidak mengerti apa yang Anda katakan. Saya tidak mengerti apa yang Anda maksud.'
'Aku akan mengembalikan semua yang sudah kau kehilangan, Anisa. Aku akan mengembalikan pekerjaanmu, apartemenmu, tabunganmu, semua yang sudah kau kehilangan. Tapi kau harus menikahiku untuk menebus kesalahanmu, untuk membayar untuk apa yang sudah kau lakukan pada adikku, untuk menebus kecelakaan yang membunuh adikku.' Damar menatapnya dengan tatapan yang dingin, dengan tatapan yang sudah tidak lembut lagi, dengan tatapan yang sudah tidak tulus lagi. 'Kau harus menikahiku untuk menebus kesalahanmu, Anisa. Itu adalah tawaran yang tidak bisa kau tolak.'
Anisa tidak bisa bernapas untuk waktu yang lama. Ia hanya menatap Damar, dan untuk pertama kalinya, ia melihat bahwa Damar tidak seperti pria yang baik yang pernah ia bayangkan. Damar tidak seperti pria yang lembut, pria yang tulus, pria yang mencintainya dengan sepenuh hati. Damar tidak seperti pria yang baik.
Damar tidak seperti itu. Damar tidak seperti itu sama sekali.
'Saya tidak bisa menikahi Anda,' kata Anisa dengan suara yang pelan, dengan air mata yang mengalir di wajahnya. 'Saya tidak bisa menikahi pria yang tidak mencintai saya dengan sepenuh hati. Saya tidak bisa menikahi pria yang datang untuk menghancurkan saya dari dalam.'
'Kau tidak punya pilihan, Anisa. Kau tidak punya pilihan karena kau sudah kehilangan segalanya. Kau tidak punya pilihan karena kau tidak punya apa-apa lagi. Kau tidak punya pilihan karena kau tidak punya siapa-siapa lagi.' Damar menatapnya dengan tatapan yang dingin, dengan tatapan yang sudah tidak lembut lagi, dengan tatapan yang sudah tidak tulus lagi. 'Kau harus menikahiku untuk menebus kesalahanmu, Anisa. Itu adalah tawaran yang tidak bisa kau tolak.'
Anisa tidak bisa berkata apa-apa untuk waktu yang lama. Ia hanya menatap Damar, dan untuk pertama kalinya, ia melihat bahwa Damar tidak seperti pria yang baik yang pernah ia bayangkan. Damar tidak seperti pria yang lembut, pria yang tulus, pria yang mencintainya dengan sepenuh hati. Damar tidak seperti pria yang baik.
Damar tidak seperti itu. Damar tidak seperti itu sama sekali.
Anisa tidak tahu apa yang harus ia lakukan. Anisa tidak tahu apa yang harus ia katakan. Anisa tidak tahu apa yang harus ia rasakan. Anisa hanya tahu bahwa hidupnya hancur tanpa alasan yang jelas, bahwa ia tidak punya apa-apa lagi, bahwa ia tidak punya siapa-siapa lagi.
Dan untuk pertama kalinya, Anisa merasa bahwa ia tidak punya pilihan lagi. Ia tidak punya pilihan selain menerima tawaran Damar, selain menikahi Damar untuk menebus kesalahan yang tidak pernah ia lakukan, selain menikahi Damar untuk membayar untuk kecelakaan yang tidak pernah ia sebabkan.
'Saya terima,' kata Anisa akhirnya, dengan suara yang hampir tidak terdengar, dengan air mata yang mengalir di wajahnya. 'Saya terima tawaran Anda. Saya akan menikahi Anda untuk menebus kesalahan yang tidak pernah saya lakukan.'
Damar tidak berkata apa-apa untuk waktu yang lama. Ia hanya menatap Anisa, dan untuk pertama kalinya, ia melihat bahwa Anisa tidak seperti wanita yang ia bayangkan. Anisa tidak seperti wanita yang bersalah, wanita yang kejam, wanita yang membunuh adiknya dengan mabuk. Anisa tidak seperti wanita yang ia bayangkan.
Anisa tidak seperti itu. Anisa tidak seperti itu sama sekali.
Tapi Damar tidak peduli dengan itu. Damar hanya peduli dengan balas dendamnya. Damar hanya peduli dengan menghancurkan Anisa dari dalam.
'Bagus,' kata Damar dengan suara yang dingin, dengan tatapan yang dingin, dengan tatapan yang sudah tidak lembut lagi. 'Kita akan menikah minggu depan. Dan kau akan menebus kesalahanmu setiap hari untuk membayar untuk apa yang sudah kau lakukan pada adikku.'
Anisa tidak berkata apa-apa untuk waktu yang lama. Ia hanya menatap Damar, dan untuk pertama kalinya, ia melihat bahwa Damar tidak seperti pria yang baik yang pernah ia bayangkan. Damar tidak seperti pria yang lembut, pria yang tulus, pria yang mencintainya dengan sepenuh hati. Damar tidak seperti pria yang baik.
Damar tidak seperti itu. Damar tidak seperti itu sama sekali.
Dan untuk pertama kalinya, Anisa merasa bahwa ia tidak sendirian lagi dengan cara yang paling kejam.
Dan untuk pertama kalinya, Damar merasa bahwa balas dendamnya tidak akan semudah yang ia kira.