Ibu Wijaya datang lagi — tidak untuk hina di ruang tamu. Damar yang meminta, setelah malam panjang. 'Ma, dengar sesuatu. Bukan koran. Cuplikan. Lalu marah boleh. Usir Anisa — tidak hari ini.'
Ibu duduk di ruang keluarga kecil, jauh dari foto Dita di ruang kerja. Naufal menyalakan cuplikan Harto resmi — bukan penuh drama; cukup menit yang berisi *yang ngebut — lain* dan *Anisa tidak mabuk di mata saya*. Anisa tidak hadir di sofa; ia di dapur dengan Salsa, menunggu vonis duka yang bukan miliknya.
Ibu mendengar. Tangis datang dulu — marah menyusul. 'Kenapa baru sekarang? Kenapa perempuan itu yang bilang? Kenapa anakku…' Ia tidak selesai. Damar duduk di lantai, jarang, kepala rendah. 'Karena aku lapar dendam dan menerima map bohong. Karena Dita dekat Faris dan aku tidak tahu. Karena berkasku kotor. Ma — Anisa belum aku bilang bersih suci. Aku bilang dia tidak pantas jadi satu-satunya setan. Tolong jangan koran. Tolong jangan hina dia di rumah ini lagi tanpa dengar.'
Ibu lama diam, air mata, tisu. 'Faris. Anak Adinata. Aku pernah lihat dia di antar jemput Dita. Aku pura-pura tidak lihat. Aku… ikut buta.' Tangis marah campur. 'Panggil perempuan itu.'
Anisa masuk, berdiri, tidak duduk sampai diizinkan. Ibu menatap. 'Kau dengar saya hina. Hari ini saya dengar orang tua bilang kau tidak mabuk. Saya tidak memelukmu. Saya tidak bilang menantu. Saya bilang: lanjutkan bukti. Jangan jual Dita ke konten. Jangan buat Damar lemah di koran. Kalau kau tipu — aku hancurkan kau sendiri.'
'Saya tidak tipu,' kata Anisa pelan. 'Saya tidak minta peluk. Saya minta ruang bukti. Terima kasih sudah mendengar cuplikan — sebagai duka yang mau tahu, bukan sebagai vonis siap.'
Ibu undur ke kamar tamu, minta sendiri. Damar di koridor dengan Anisa. 'Dia retak. Aku retak. Kau… tahan lagi?'
'Saya tahan,' kata Anisa. 'Lembar dua puluh: Ibu dengar Harto. Tangis marah campur. Tidak usir hari ini. Saya tidak rayakan.'
Salsa di dapur bisik, 'Skor besar. Jangan lemes jadi anak baik — tetap perang.' Anisa angguk. Naufal chat: *Ibu tahu cuplikan. Om belum. Faris belum. Kunci mulut staf.* Damar: *Kunci.*
Malam Ibu keluar sebentar, bilang ke Damar saja, 'Faris. Kejar. Perempuan itu — jangan kau hukum buta lagi. Aku belum suka dia. Aku tidak lagi yakin dia pembunuh.' Pintu kamar. Damar sampaikan ke Anisa satu kalimat: 'Ma belum suka. Ma tidak yakin kau pembunuh. Titik tengah Ibu.' Anisa menelan. 'Cukup. Tidur. Besok kerja — bukan tea party menantu.' Damar hampir tersenyum — tidak. Di ruang kerja ia tidak putar Harto lagi; ia tulis sticky: *MA DENGAR. FARIS. JANGAN BUTA LAGI.* Anisa di catatan: *Ibu = titik tengah. bukan peluk. ruang.* Cuplikan lansia sudah menembus rumah duka. Faris, di suatu tempat, belum tahu telinga Ibu sudah terbuka — dan telinga itu lebih berbahaya baginya daripada timeline gosip.
Pagi Ibu sarapan diam. Anisa sarapan diam. Damar di tengah seperti jembatan yang tidak mau jadi jembatan. Ibu: 'Saya pulang ke rumah saya siang. Saya tidak koran. Saya ingin nama Faris… digali.' Damar: 'Digali.' Anisa tidak ikut bicara. Diamnya hormat, bukan kalah. Salsa siap-siap pindah pengamanan. Rumah mansion untuk pertama kali menampung duka yang sedikit lebih jujur — masih dingin, sudah tidak buta total.
Sebelum pulang Ibu berhenti di depan Anisa. 'Saya tidak minta kau ganti Dita. Saya minta kau jangan hilang sebelum Faris ada di meja. Itu bukan restu. Itu perintah duka.' Anisa: 'Saya tidak hilang. Saya perang. Perintah duka diterima tanpa jadi menantu manis.' Ibu hampir — hampir — angguk hormat; diganti angguk pendek. Mobil. Habis.
Damar duduk di tangga setelah Ibu pergi. Anisa duduk dua anak tangga di bawah. 'Dia lebih jujur dari saya di bulan pertama,' kata Damar. Anisa: 'Duka yang mendengar lebih cepat daripada dendam yang menikahi. Saya tidak bandingkan untuk menang. Saya catat.' Naufal antar teh, undur. Salsa di kamar tamu bilang keras supaya kedengaran, 'Jangan ciuman di tangga. Kerja!' Anisa tersenyum kecil ke kayu. Damar berdiri. 'Kerja. Faris. Cerai… nanti. Telinga… nanti.' Urutan perang disusun ulang oleh air mata Ibu yang tidak jadi koran — hadiah aneh dari cuplikan lansia yang dulu hampir dihapus.
Malam Anisa tidak mengetuk zona foto. Ia kirim chat ke Damar: `Bilang ke Ibu — saya hormati duka. Saya tidak minta kursi menantu.` Damar meneruskan dengan bahasa sendiri. Ibu balas ke Damar: *Dia aneh. Tidak menjilat. Lanjutkan gali.* Damar tunjukkan ke Anisa tanpa komentar. Anisa angguk. Salsa: 'Ibu lo mulai jadi manusia. Jangan euforia.' Damar: 'Bukan euforia. Kerja.' Ia buka folder Faris, tutup, buka lagi. Telinga Ibu sudah terbuka; berikutnya telinga Damar resmi tiga puluh menit — tapi sebelum itu, Faris sudah menggigit Salsa, dan rumah harus menahan dua retakan sekaligus: duka yang mendengar, dan teman yang diancam. Anisa menulis keduanya di map berdampingan. Perang tidak antre rapi di dunia nyata; di map, guru memaksa rapi.
Pagi Damar antar Ibu ke mobil. 'Ma, Anisa minta didengar tiga puluh menit. Saya kasih. Cerai saya sodor — dia tahan. Dia lebih waras dari saya.' Ibu: 'Waras itu menakutkan. Lanjutkan.' Pintu. Anisa dari jendela lihat mobil pergi, tidak melambai. Hormat jarak. Salsa: 'Ibu dengar + Salsa diusik = Faris panik. Kau maju benar.' Anisa: 'Maju. Telinga besok. Cerai di laci.' Rumah siap ke bab berikutnya dengan duka yang sudah tidak buta dan teman yang sudah tidak sendirian di parkiran.